Langkah yang Tak Pernah Menyerah (written by Ary-sensei)
Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Bu Sari bangun lebih awal, menyiapkan sarapan sederhana, lalu menyuruh Reno, anak semata wayangnya yang berusia delapan tahun, bermain di halaman depan rumah. Reno mengangguk ceria sambil membawa mobil-mobilan kesayangannya. Bu Sari hanya masuk ke dapur sebentar untuk mengambil air minum. Namun ketika ia kembali, halaman rumah terasa sunyi dengan cara yang aneh. Reno sudah tidak ada. Jantung Bu Sari berdetak kencang. Ia memanggil nama Reno berulang kali, berjalan ke ujung gang, lalu berlari tanpa alas kaki. Di pinggir jalan, ia melihat sepatu kecil Reno tergeletak. Tangannya gemetar saat mengambilnya. Sejak saat itu, waktu seakan berhenti. Tangis, teriakan, dan kepanikan bercampur menjadi satu. Warga berdatangan, polisi dipanggil, dan laporan orang hilang dibuat. Namun, Reno tetap tidak ditemukan. Hari-hari berikutnya dipenuhi kelelahan dan penantian. Bu Sari menempelkan poster di tiang listrik, terminal, dan pasar. Ia ...