Maya dan Perisai Kurcaci (Part 1) (written by Henny)

 


Namaku Kila sejak SD kelas 3 selalu dirundung teman-temanku. Penampilanku yang kecil, kurus dan pendek. Sekolah menganggap bullying hal yang biasa. Itulah yang membuatku makin tidak percaya diri dan mudah ketakutan. 

Bagi orang dewasa mungkin itu hal yang bisa untuk bercanda. Padahal untuk seusiaku waktu itu pasti membuat hatiku perih dan sedih. Aku jadi rendah diri sampai sekarang. Sempat bertemu dengan cewek yang lebih cantik, bentuk tubuh yang bagus dan pintar. Hanya dia yang mau berteman denganku 

“Hai si kurcaci, sini deh!" panggil Bima, si anak paling besar di kelas. Aku menunduk, berusaha mempercepat langkahku menuju perpustakaan. "Mau ke mana, si tulang berjalan?" goda Risa, teman dekat Bima. Dia menghadangku. "A-aku mau ke perpustakaan," jawabku pelan, hampir tak terdengar. 

​"Perpustakaan? Buat apa? Si kecil kayak kamu paling juga cuma bisa baca buku cerita bergambar!" Bima tertawa keras, diikuti oleh tawa Risa dan beberapa teman lain. 

​Mereka selalu memanggilku dengan sebutan-sebutan menyebalkan: Kurcaci, Tusuk Gigi, Tiang Listrik Miring, dan banyak lagi. Aku merasa sakit setiap mendengarnya, sakit di dadaku, sakit di hatiku. 

​Saat istirahat tiba, aku selalu menyembunyikan diri di pojok kelas atau di perpustakaan. Aku makan bekalku sendirian sambil berpura-pura tenggelam dalam bacaan, padahal aku mendengar jelas bisikan-bisikan mereka. "Lihat deh, si Kila, makannya banyak, tapi kok enggak gede-gede ya?" bisik Risa. "Iya, jangan-jangan dia cacingan," timpal Bima. 

​Air mataku menggenang. Aku menggigit bibirku, menahan diri agar tidak menangis di depan mereka. Aku ingin seperti teman-teman yang lain, tertawa, bermain bersama, tanpa rasa takut dan cemas. 

Dua tahun berlalu, dan keadaanku tidak banyak berubah. Aku sekarang kelas enam, tetapi tinggiku masih tertinggal jauh dari teman-teman sekelas. Tubuhku tetap kecil dan kurus. 

​Suatu hari, saat pelajaran olahraga, kami diminta berbaris sesuai tinggi badan. Aku berada di barisan paling depan, sendirian. Di sampingku hanya ada lapangan luas. "Kila, maju lagi, kamu paling depan, kayak tiang bendera mini," kata pak guru olahraga sambil tersenyum. Senyumannya terasa seperti pisau bagiku. 

​Teman-temanku tertawa lagi, tawa yang selalu mengiringi hari-hariku di sekolah. "Pak, Kila itu kayak anak kelas satu, loh!" celetuk Dodi. "Heh, jangan gitu! Dia itu maskot kelas kita. Si kecil-kecil cabe rawit!" sambung Indah dengan nada mengejek. 

​Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam, membuat diriku sekuat baja. Aku berpikir jika aku tidak peduli, maka mereka akan berhenti, tapi nyatanya tidak. 

​Pulang sekolah, seperti biasa, aku berjalan kaki sendirian. Bima dan Dodi menghampiriku, mengayun-ayunkan tas sekolah mereka di atas kepalaku. "Jalan cepat dong, si kecil jalan kayak siput!" ejek Bima. Dia menjegal kakiku hingga aku terjatuh. 

​Buku-bukuku berhamburan di tanah. Lututku terluka, perih. Aku merasakan rasa panas di mataku “Aduh, kasihan deh si kurcaci jatuh," kata Dodi, pura-pura bersimpati, kemudian dia tertawa bersama Bima. 

​Saat Bima dan Dodi hendak pergi, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu di belakang mereka. Seorang gadis tinggi, bernama Maya, datang menghampiri. Rambutnya panjang terurai, wajahnya sangat cantik, bahkan banyak yang bilang dia cocok jadi model cilik. “Hei, Bima! Dodi! Kenapa kalian jahat sekali?" tegur Maya dengan suara tegas. 

​Bima dan Dodi terkejut, langsung berhenti tertawa. Maya adalah murid baru di kelas kami, sangat populer dan berani. “Apa urusanmu, May? Ini urusan kami!" tantang Bima. “Urusanku karena kalian merundung teman sekelas! Kila, kamu tidak apa-apa?" Maya langsung berlutut, membantu aku membereskan buku-buku yang jatuh. 

​Aku menatapnya bingung. Mengapa gadis secantik dan sepopuler dia mau membantuku. “Aku tidak apa-apa," jawabku pelan. “Dengar, Bima. Kalau kalian ganggu Kila lagi, aku akan laporkan ke guru. Dia temanku sekarang," kata Maya, menatap Bima tajam. 

​Bima terlihat kesal, tetapi tidak berani melawan Maya, dan akhirnya dia pergi bersama Dodi. Maya membantuku berdiri. "Lututmu terluka. Ayo, aku temani ke UKS," katanya sambil tersenyum tulus. "Aku ingin berteman denganmu. Mereka merundungmu karena mereka iri. Kamu pintar sekali di kelas, dan aku suka caramu tetap fokus pada pelajaran," bisiknya. 

Bima tiba di rumah dengan tawa puas karena berhasil menjegal Kila. Namun, tawa itu langsung hilang saat ayahnya duduk di ruang tamu. 

​"Kenapa pulang terlambat? Di mana rapormu itu?" gertak ayah Bima, suaranya berat dan kasar. 

​Bima menyerahkan rapor dengan tangan gemetar. Ayahnya melihat nilai Bima yang jeblok, lalu raut wajahnya menegang. 

​"Payah kamu Bima! Hanya ini yang bisa kau lakukan?" teriak ayah Bima. "Kau tahu kau tidak berguna? Ambil ini!" 

​Plak! 

​Suara ta***ran keras mengakhiri hari Bima. Ia terhuyung mundur, matanya dipenuhi air mata amarah yang tidak berani ia tunjukkan pada ayahnya. Ia hanya bisa menahannya. Rasa sakit dan frustrasi itu kembali menumpuk, siap dilampiaskan pada siapa pun yang ia anggap lebih lemah besok. 

​Aku merasa sangat terkejut sekaligus bahagia. Untuk pertama kalinya, seseorang yang "sempurna" melihat nilaiku, bukan hanya kekurangan tubuhku. Aku mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berjalan pulang tidak sendirian. 

Dua tahun berlalu, kini punya Maya, teman sekelas di kelas VI. Maya, si gadis baru yang cantik seperti model dan berani itu, selalu di sisiku. Meskipun Maya ada, ejekan Bima dan Risa tetap ada, hanya saja mereka tidak berani bertindak fisik. 

​Suatu hari, saat jam istirahat, Bima dan gengnya mengunci pintu toilet saat aku berada di dalamnya. "Ayo cepat keluar, si kurcaci! Kami mau lihat kamu terbang tertarik angin!" teriak Bima dari luar sambil menahan pintu. 

​Aku panik dan mulai menangis. Tiba-tiba, terdengar suara Maya, “Bima, buka pintunya sekarang! Atau aku laporkan kalian ke Kepala Sekolah karena membuat Kila sesak napas!" perintah Maya dengan nada yang sangat tegas. 

​Bima dan gengnya takut. Mereka segera melepaskan pintu. Aku keluar sambil gemetar, air mata membasahi pipi. Aku merasa sangat malu karena semua murid di koridor melihatku. “Kila, jangan pedulikan mereka! Ayo kita pergi!" Maya langsung menarik tanganku keluar dari area itu. Kami berdua berlari ke taman belakang sekolah. 

​"Jangan menangis, Kila. Lebih baik kita balas dendam dengan cara seru!" kata Maya sambil mengelap air mataku, "Kamu tidak salah, Kila. Mereka yang bermasalah. Mereka merundung bukan karena fisikmu kecil tapi karena mereka tidak bahagia." 

"Maksudmu?" tanyaku, bingung. "Aku pernah dengar cerita," bisik Maya. "Bima itu suka memukul karena dia sendiri sering dipukul ayahnya di rumah, jadi dia melampiaskan amarahnya." 

​Sejak itu, Maya selalu membuat rencana seru. Kami mulai membuat komik rahasia di buku tulis, menceritakan Bima dan gengnya sebagai monster konyol. Kami juga sengaja memakai kaus kaki beda warna saat hari pengumuman nilai, membuat semua teman penasaran dan melupakan ejekan Bima. Maya membuatku melihat bahwa tubuh kecilku adalah keunikan yang bisa kubawa ke panggung. 

​Berkat Maya, aku tidak lagi bersembunyi. Aku mulai menunjukkan kepintaranku tanpa rasa takut, karena aku tahu ada Maya yang berdiri di sampingku. Dia membuatku fokus pada hal-hal yang menyenangkan dan penting, bukan pada ukuran tubuhku. Aku menyelesaikan masa SD-ku dengan dukungan luar biasa dari Maya. Aku berpikir apakah Maya tidak terbebani punya teman yang merepotkan seperti aku? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)