Titik Koma (written by Henny)
Rani adalah gadis
kelas XI dengan tawa yang khas, renyah, dan mudah pecah. Senyumnya selalu
terbingkai saat jari-jarinya asyik menari di atas buku sketsa. Di sampingnya,
selalu ada Rio, sahabat karibnya sejak kelas VIII. Rio adalah pemuda nyentrik
yang hobi melucu, tapi berubah menjadi pendiam dan melamun saat tidak bersama
Rani. Diam-diam, ia menaruh hati pada sahabatnya itu.
“Kalau semut jatuh
cinta, dia ngapain ya?” tanya Rio suatu sore, memecah hening di bangku taman
sekolah.
Rani menahan tawa, tak
mengalihkan pandangannya dari sketsa bunga yang sedang ia gambar. “Mungkin dia
nyari gula bareng.”
Setiap hari, mereka
selalu bersama, seolah tak terpisahkan. Semua orang di sekolah tahu tentang
kedekatan mereka. Jika Rani ke kantin, Rio pasti menyusul. Jika Rio melontarkan
lelucon, hanya Rani yang tertawa paling keras. Namun, ketika ditanya tentang hubungan
mereka, Rani akan menjawab singkat, “Kami sahabat. Titik.” Rio hanya tersenyum
samar, lalu menimpali, “Titik koma, sih.”
Di balik tingkah
konyolnya, Rio punya rahasia yang tak seorang pun tahu. Ia sering menulis surat
untuk Rani, surat yang tak pernah ia kirim. Isinya adalah curahan hati yang
terpendam, ketakutannya untuk mengungkapkan perasaan, dan kekagumannya pada
Rani.
“Rani, kalau suatu
hari kamu tahu, semoga kamu gak ill feel. Aku cuma... suka kamu. Dari
lama. Tapi aku tahu kamu gak suka hal ribet,” tulisnya di salah satu surat.
Semua surat itu
tersimpan rapi dalam sebuah map biru lusuh, dengan judul: "Surat yang Gak
Pernah Dikirim."
Beberapa minggu
belakangan, Rani merasakan ada yang berbeda dari Rio. Tawa Rio terdengar hampa,
pandangannya sering kosong, dan makanan di piringnya tak pernah habis. Ketika
Rani bertanya, Rio selalu menjawab sambil berkelakar, “Lagi mikirin semut jatuh
cinta, Ran. Berat banget ternyata.”
Meskipun Rani ikut
tertawa, hatinya tidak tenang. Ada firasat aneh yang mengganjal.
Pada hari ulang tahunnya, Rani menerima kado
kecil dari Rio. Sebuah kotak sederhana berisi pulpen ungu, sketsa wajah Rani
saat tertawa, dan selembar surat kosong. Di pojok surat itu, ada tulisan kecil
yang bergetar: "Kalau kamu baca ini, mungkin aku udah
gak bisa jawab."
Jantung Rani berdebar
kencang. Ia segera mencari Rio, tapi ia tak ada di sekolah. Panggilan telepon
dan pesan yang ia kirimkan tak berbalas. Panik menguasai dirinya.
Keesokan harinya,
Dita, teman sekelas mereka yang cerewet, datang dengan wajah pucat. Ia menatap
Rani dengan tatapan pilu, lalu menggenggam tangannya. “Ran... Rio... masuk
rumah sakit. Sejak semalam.”
Rio sudah lama sakit,
tapi tak pernah bercerita kepada siapa pun. Rani segera pergi ke rumah sakit,
namun ia terlambat. Rio sudah tidak sadarkan diri.
Di samping tempat tidurnya, Rani melihat
sebuah map biru lusuh. Map yang ia kenal. Isinya adalah puluhan surat yang
ditujukan untuknya. Surat terakhir berbunyi, "Kalau aku gak bisa
nemenin kamu gambar lagi, jangan sedih. Aku bakal minta langit buat jaga kamu
tiap pagi. Karena kamu cahaya yang bahkan sakit pun gak bisa matiin."
Air mata Rani tumpah,
membasahi surat terakhir Rio.
Seminggu kemudian, Rio
pergi.
Rani tidak menangis di
depan orang. Ia hanya terdiam, membisu. Selama dua bulan, ia berhenti
menggambar. Buku sketsanya tertutup rapat, seolah ikut berduka. Sampai suatu
sore, ia kembali duduk di bangku taman favorit mereka. Ia mengeluarkan buku
sketsanya, lalu mulai menggambar.
Ia menggambar bangku taman yang kosong, dengan
pulpen ungu milik Rio di atasnya. Di pojok gambarnya, ia menuliskan sesuatu: "Untuk Rio. Kamu benar. Kita bukan titik. Kita... titik koma.
Karena kamu mungkin berhenti, tapi aku akan terus cerita, membawa kamu dalam
setiap halaman baru."
Ia tersenyum pilu,
meyakini bahwa persahabatan mereka tidak akan pernah berakhir, melainkan hanya
berhenti sejenak, untuk kemudian dilanjutkan kembali dalam cerita yang berbeda.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar