Postingan

Menampilkan postingan dengan label moral

Si Pemburu Nyamuk (written by Ary-sensei)

Gambar
  Setahun ini entah ke mana perginya musim kemarau. Langit seolah jatuh cinta pada hujan dan tak mau berhenti menangis. Genangan air muncul di mana-mana: di selokan, di halaman, bahkan di pot bunga yang lupa dikosongkan. Tak heran, penyakit berdatangan dan nyamuk berkembang biak seperti pasukan tanpa akhir. Fredo adalah salah satu korbannya. Malam itu, ia duduk di meja belajar dengan mata berat. Buku terbuka, pena di tangan, tapi pikirannya sudah melayang-layang. Baru saja ia menguap lebar ketika terdengar dengungan menyebalkan di dekat telinganya. “Ngggiiing…” Satu nyamuk melintas. Lalu dua. Lalu banyak. Fredo menyipitkan mata.  “Oh, jadi kalian mau perang?” Ia meraih raket nyamuk kesayangannya. Sekali ayun—clek!—satu tumbang. Dua ayun—clek clek!—dua lagi hilang. “Jangan main-main sama Fredo, pemburu nyamuk profesional!” Beberapa menit kamar kembali sunyi. Fredo duduk dengan senyum kemenangan. Kantuknya raib, diganti rasa bangga seperti pahlawan habis menyelamatkan dunia. Nam...

Maya dan Perisai Kurcaci (Part 2) (written by Henny)

Gambar
  Di SMP, prestasi akademisku meningkat drastis setelah aku dan Maya berkomitmen pada "Balas Dendam Kecerdasan". Kami memenangkan Lomba Sains tingkat Kota dengan hadiah beasiswa penuh dan piala besar terpampang di ruang kepala sekolah.  ​Aku sekarang adalah Kila, si juara, yang disayangi guru dan diandalkan teman. Sebutan si kurcaci dan si mini masih ada tapi tidak lagi berdaya. Tapi mereka ternyata masih menyimpan dendam dengan membuat kekacauan supaya aku malu. Terbiasa membully atau merundung membuat mereka tertantang untuk membullyku.  Aku mulai memfokuskan semua energiku ke dalam pelajaran. Aku belajar sangat keras, membaca semua buku yang bisa aku temukan. Aku dan Maya menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan bersama-sama. Kami berkomitmen pada "Balas Dendam Kecerdasan."  ​Anak iseng lainnya, Vania dan gengnya, masih sesekali mencoba mengganggu kami. Suatu siang, kami sedang berjalan di koridor membawa setumpuk buku tebal fisika dan kimia. Vania melihat ka...

Maya dan Perisai Kurcaci (Part 1) (written by Henny)

Gambar
  Namaku Kila sejak SD kelas 3 selalu dirundung teman-temanku. Penampilanku yang kecil, kurus dan pendek. Sekolah menganggap bullying hal yang biasa. Itulah yang membuatku makin tidak percaya diri dan mudah ketakutan.  Bagi orang dewasa mungkin itu hal yang bisa untuk bercanda. Padahal untuk seusiaku waktu itu pasti membuat hatiku perih dan sedih. Aku jadi rendah diri sampai sekarang. Sempat bertemu dengan cewek yang lebih cantik, bentuk tubuh yang bagus dan pintar. Hanya dia yang mau berteman denganku  “Hai si kurcaci, sini deh!" panggil Bima, si anak paling besar di kelas. Aku menunduk, berusaha mempercepat langkahku menuju perpustakaan. "Mau ke mana, si tulang berjalan?" goda Risa, teman dekat Bima. Dia menghadangku. "A-aku mau ke perpustakaan," jawabku pelan, hampir tak terdengar.  ​"Perpustakaan? Buat apa? Si kecil kayak kamu paling juga cuma bisa baca buku cerita bergambar!" Bima tertawa keras, diikuti oleh tawa Risa dan beberapa teman lain.  ​M...