Postingan

DITO YANG CUEK (written by Ary-sensei)

Gambar
  Senja itu Rena berjalan di samping Dito seperti biasa. Langkah mereka sejajar, tapi rasanya hati Rena selalu tertinggal beberapa meter di belakang. Dito memasukkan tangannya ke saku jaket. Tatapannya lurus ke depan. Tenang. Diam. Cuek. Dan lagi-lagi… tidak menggenggam tangan Rena. Rena menggigit bibirnya. “Dit…” panggilnya pelan. “Hm?” “Kamu capek sama aku ya?” Dito berhenti berjalan. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Rena mengangkat bahu, pura-pura santai. “Enggak apa-apa.” Padahal dadanya penuh. Sudah berapa lama mereka pacaran? Hampir setahun. Tapi Dito tidak pernah bilang “I love you.” Tidak pernah memeluk duluan. Bahkan menggenggam tangan pun hampir selalu Rena yang memulai. Di media sosial, Rena sering lihat pasangan lain saling pamer pelukan, kata manis, kejutan kecil. Sementara Dito? Selalu ada, tapi terasa jauh. Mereka duduk di bangku taman dekat danau. Angin sore meniup rambut Rena lembut. “Kamu dingin banget sih,” kata Rena tiba-tiba. Dito menoleh. “Aku kenapa lagi?” “Kam...

Di Antara Ragu yang Akhirnya Pulang (written by Ary-sensei)

Gambar
  Nara selalu percaya bahwa pertemuan yang paling membekas adalah yang datang tanpa rencana. Seperti sore itu, ketika hujan turun terlalu cepat dan memaksanya berteduh di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Di sanalah ia bertemu Aksa—dengan kemeja biru pucat, buku di tangan kiri, dan tatapan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terjebak hujan. “Kursinya kosong?” tanya Aksa sambil menunjuk kursi di depannya. Nara mengangguk pelan. “Silakan”. Percakapan mereka dimulai dari hal-hal sepele: hujan, kopi yang terlalu pahit, lalu berlanjut ke cerita hidup yang tak disangka-sangka terasa akrab. Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Tidak pernah ada janji resmi, hanya kebiasaan yang perlahan tumbuh—kopi sore, pesan singkat sebelum tidur, dan tawa kecil yang selalu terasa cukup. Namun, di balik semua itu, Nara menyimpan ragu. Ia takut salah mengartikan perhatian Aksa. Takut semua ini hanya ramah yang kebetulan terasa hangat. Di sisi lain, Aksa pun memikul ketakutan yang sam...

Yang Tersisa adalah Aku ( part-3 ) (written by Henny)

Gambar
  Sore harinya, Nisa membawa sebungkus jeruk nipis dan sambal. “Kia, aku kepikiran sesuatu. Kenapa nggak coba kasih sentuhan kamu sendiri? Misalnya, ibumu terkenal sama kuah kaldunya yang gurih, nah kamu bisa kasih tambahan segar dari jeruk nipis ini. Kan kamu suka rasa segar-segar?” Adzkia termenung. Ide itu sederhana, tapi membuatnya sadar: mungkin warung ini memang bukan soal meniru persis, melainkan melanjutkan dengan jiwa baru. Esoknya, Adzkia mencoba resep baru, dibantu asisten ibunya, Bi Jum. Ia merebus kaldu lebih lama, menambahkan sedikit serai agar lebih harum, dan menyajikan sambal buatan tangannya sendiri. Kuah soto itu tetap hangat seperti warisan ibunya, tapi ada aroma segar yang berbeda. Ia menambahkan sentuhan kecil sesuai seleranya.   Keesokan harinya, warung tutup sementara. Daripada buka tapi masih belum siap mental dan belum ada masakan dengan rasa baru. Adzkia ga mau setengah-setengah. Baru setelah dirasa lebih mantap, 3 hari kemudian mengadakan soft openi...

Yang Tersisa adalah Aku ( part-2 ) (written by Henny)

Gambar
  Defdan bekerja di sebuah perusahaan percetakan kecil di kota Yogyakarta. Perusahaannya menerima pesanan macam-macam: mulai dari cetak undangan, brosur, spanduk, sampai buku tahunan sekolah. Karena jumlah karyawan terbatas—hanya belasan orang—Defdan harus merangkap banyak tugas.  Pagi-pagi ia sudah sibuk mengangkat gulungan kertas besar ke gudang, membantu bagian produksi menyiapkan tinta, bahkan kadang harus turun langsung mengoperasikan mesin cetak jika operator sedang izin. Siangnya, ia berganti posisi di depan komputer, membantu desain sederhana untuk pelanggan yang tidak membawa file. Malamnya, jika ada pesanan mendesak, ia ikut lembur memotong hasil cetakan atau mengemas pesanan supaya bisa diantar keesokan harinya. Gajinya memang tidak besar, tapi cukup stabil. Ia sadar, pekerjaannya itu bukan karier mewah, namun bagi Defdan, yang penting bisa kirim uang ke rumah untuk menutup kebutuhan dapur, listrik, dan lain- lain. Karena itulah ia jarang sekali bisa pulang. Kalau p...

Yang Tersisa adalah Aku ( part-1 ) (written by Henny)

Gambar
    Masih disela tangisnya, Adzkia memohon kedua orang tuanya untuk tidak pergi. Ada ganjalan dalam hatinya yang begitu sulit ia ungkapkan lewat ucapan. Meski bunda meyakinkan kalo nanti sore sudah pulang ternyata kenyataannya orangtuanya pergi untuk selamanya. Adzkia berdiri terpaku di depan makam yang masih basah. Nisan putih dengan nama kedua orang tuanya membuat matanya kembali berkaca-kaca. Hujan rintik-rintik sore itu seakan ikut berduka, meresap ke tanah merah yang baru saja ditimbun. “Ayah… Ibu… bagaimana aku harus melanjutkan hidup tanpa kalian?” bisiknya lirih. Suaranya tenggelam di antara doa-doa orang yang mulai bubar meninggalkan pemakaman. Jemarinya gemetar saat menyentuh tanah yang masih basah, seolah ingin meraih kembali tangan ibunya yang hangat atau pundak ayahnya yang kokoh.   Kecelakaan itu datang begitu cepat. Sebuah truk rem blong menghantam mobil orang tuanya saat perjalanan pulang dari Bandung. Adzkia, yang saat itu memilih tidak ikut karena a...

Langkah yang Tak Pernah Menyerah (written by Ary-sensei)

Gambar
  Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Bu Sari bangun lebih awal, menyiapkan sarapan sederhana, lalu menyuruh Reno, anak semata wayangnya yang berusia delapan tahun, bermain di halaman depan rumah. Reno mengangguk ceria sambil membawa mobil-mobilan kesayangannya. Bu Sari hanya masuk ke dapur sebentar untuk mengambil air minum. Namun ketika ia kembali, halaman rumah terasa sunyi dengan cara yang aneh. Reno sudah tidak ada. Jantung Bu Sari berdetak kencang. Ia memanggil nama Reno berulang kali, berjalan ke ujung gang, lalu berlari tanpa alas kaki. Di pinggir jalan, ia melihat sepatu kecil Reno tergeletak. Tangannya gemetar saat mengambilnya. Sejak saat itu, waktu seakan berhenti. Tangis, teriakan, dan kepanikan bercampur menjadi satu. Warga berdatangan, polisi dipanggil, dan laporan orang hilang dibuat. Namun, Reno tetap tidak ditemukan. Hari-hari berikutnya dipenuhi kelelahan dan penantian. Bu Sari menempelkan poster di tiang listrik, terminal, dan pasar. Ia ...

Janji Di Bangku Paling Belakang (written by Ary-sensei)

Gambar
  Raka dan Alya pertama kali bertemu saat hari orientasi siswa baru di sebuah SD negeri kecil. Keduanya sama-sama anak pendiam yang memilih duduk di bangku paling belakang, bukan karena malas, tetapi karena ingin menghindari sorotan. Sejak hari itu, mereka menjadi dua anak yang selalu bersama. Raka membantu Alya mengangkat tasnya yang berat, sementara Alya membantu Raka membaca dengan lancar. Persahabatan mereka tumbuh sederhana, tanpa janji besar, hanya kebiasaan untuk saling ada. Mereka tumbuh bersama. SD berganti SMP, lalu SMA. Di setiap jenjang, bangku belakang selalu menjadi tempat mereka. Namun, semakin dewasa, dunia mulai memberi ujian. Raka aktif di organisasi dan lomba, sering pulang larut dan kelelahan. Alya tetap tenang, fokus belajar demi impian kuliah. Raka mulai merasa Alya menjauh. Alya merasa Raka berubah dan tak lagi punya waktu. Keduanya memilih diam, menyimpan rasa kecewa tanpa tahu cara mengungkapkannya. Konflik kecil berubah menjadi jarak yang nyata saat SMA ke...