Postingan

Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 — Hal yang Tidak Tertulis Hari itu hujan turun lebih lama dari biasanya. Kantor mulai sepi. Satu per satu orang pulang, menyisakan suara tetesan air di jendela. Nadira masih di mejanya, pura-pura sibuk. “Belum pulang?” Suara itu lagi. Nadira menoleh. Arka berdiri di sana, memegang tasnya. “Sebentar lagi,” jawab Nadira. Arka mengangguk, tapi tidak langsung pergi. “Aku boleh jujur?” katanya tiba-tiba. Nadira menegang sedikit. “Apa?” Arka menarik napas pelan. “Lo berubah.” Langsung. Tanpa basa-basi. Nadira tidak menjawab. “Kalau aku salah, bilang aja. Tapi… rasanya kayak lo lagi menjauh.” Hening. Suara hujan semakin jelas terdengar. “Aku…” Nadira membuka suara, tapi kalimatnya menggantung. Apa yang harus dia bilang? Bahwa semuanya karena sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat? “Karena aku?” tanya Arka lagi, lebih pelan. Nadira menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya—ketulusan....

Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1 — Angka yang Tertera di Langit   Nadira sudah terlalu sering mendengar kalimat yang sama, “Udah 35, masih sendiri juga?” Awalnya dia tersenyum. Lama-lama, senyumnya jadi semacam kebiasaan yang otomatis muncul—tanpa benar-benar terasa. Bukan karena dia tidak ingin menikah.Justru sebaliknya. Nadira percaya bahwa jodoh itu bukan sekadar pertemuan, tapi kecocokan yang sudah ditentukan sejak lahir . Dan baginya, salah satu petunjuk paling kuat adalah shio. Ia lahir di tahun Ular Tanah. Dalam catatan yang ia simpan rapi sejak kuliah, ada daftar shio yang paling cocok, cukup cocok, dan yang sebaiknya dihindari. Dan sejauh ini… hidupnya seperti sedang membuktikan teori itu. Dua hubungan serius yang pernah ia jalani kandas. Yang pertama terasa sempurna—sampai akhirnya penuh konflik kecil yang melelahkan. Yang kedua lebih tenang, tapi terasa hambar, seperti membaca buku tanpa alur. Keduanya, tidak cocok secara shio. Sejak itu, Nadira berjanji pada dirinya sendiri: “...

Cerpen Romantis: Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 3

Gambar
  Bagian 3 — Pelukan yang Tidak Pernah Pergi Arga masih diam. Memberinya waktu untuk jujur pada perasaannya sendiri. “Aku kangen pesanmu,” lanjut Laila dengan suara yang hampir pecah. “Kangen kamu yang selalu nanya aku sudah makan atau belum.” Air mata akhirnya jatuh di pipinya. “Aku juga sadar sesuatu…” “Apa?” tanya Arga pelan. Laila menarik napas dalam. “Aku cemburu sama adik-adikmu.” Arga sedikit terkejut. Tapi tidak marah. “Aku merasa mereka lebih penting dari aku,” lanjut Laila jujur. Arga menggeleng pelan. “Kamu salah kalau berpikir begitu.” “Lalu kenapa kamu selalu bersama mereka?” Arga tersenyum kecil. Ada kelelahan di wajahnya. “Karena mereka masih butuh aku.” Ia berhenti sejenak. “Tapi itu tidak pernah berarti kamu tidak penting.” Mata Laila kembali berkaca-kaca. “Aku terlalu egois ya?” Arga menggeleng lagi. “Kamu cuma takut kehilangan.” Kalimat itu membuat tangisan Laila pecah. “Aku memang takut kehilangan kamu,” katanya liri...

Cerpen Romantis: Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 — Sunyi yang Menyadarkan Hari pertama setelah pertengkaran itu terasa aneh. Biasanya setiap pagi Arga selalu mengirim pesan. Sudah bangun? Jangan lupa sarapan. Hari ini tidak ada. Laila membuka chat mereka beberapa kali. Tetap tidak ada pesan baru. “Ya sudah,” gumamnya mencoba meyakinkan diri sendiri. “Dia juga pasti butuh waktu.” Ia mencoba menjalani hari seperti biasa. Pergi ke kampus, mengikuti kelas, bercanda dengan teman-temannya. Tapi entah kenapa hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Malamnya, ia kembali membuka ponselnya. Masih tidak ada pesan. Hari kedua terasa lebih aneh. Biasanya Arga selalu mengingatkannya makan siang. Sudah makan belum? Jangan telat lagi. Sekarang tidak ada. Laila mencoba menahan diri untuk tidak menghubunginya. Kalau Arga bisa diam, aku juga bisa, pikirnya. Namun hari ketiga…rasa kesalnya mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Sepi. Sangat sepi. Saat sedang duduk di kantin kampus, salah satu temannya tiba-ti...

Cerpen Romantis: Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1 — Menunggu yang Membuat Kesal Senja mulai turun perlahan ketika Laila duduk sendirian di bangku taman dekat kampus. Cahaya matahari yang memudar membuat langit berwarna jingga keemasan, tapi Laila tidak benar-benar memperhatikannya. Matanya hanya tertuju pada layar ponsel. Sudah hampir setengah jam ia duduk di sana. Dan tidak ada pesan baru dari Arga. Ia membuka aplikasi chat lagi. Pesan terakhir masih sama seperti satu jam lalu. Tidak ada tanda bahwa Arga sedang mengetik. Laila menghela napas panjang. Sejak beberapa minggu terakhir, semuanya terasa berbeda. Arga yang dulu selalu punya waktu untuknya, sekarang sering sibuk dengan adik-adiknya. Mengantar mereka sekolah, membantu mengerjakan PR, menjemput dari tempat les, bahkan menunggu mereka sampai selesai latihan musik. Laila sebenarnya tahu alasan Arga melakukan itu.Arga adalah anak pertama. Dan orang tuanya sering pulang larut karena pekerjaan. Jadi Arga hampir selalu menggantikan peran orang tua di rumah. ...

Cerpen Romantis: Email Terakhir Dari Kyoto - Bagian 3

Gambar
  Bagian 3 – Di Bawah Musim Sakura Tanggal 20 Maret akhirnya tiba. Reza berdiri di bandara dengan perasaan campur aduk. Perjalanan menuju Jepang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Apa yang ingin Naomi katakan? Saat akhirnya ia tiba di bandara, seseorang melambaikan tangan dari kejauhan. Reza hampir tidak mengenalinya. Naomi terlihat berbeda. Lebih dewasa. Lebih cantik dari yang ia ingat. Namun senyum itu masih sama. Mereka sempat canggung di awal. Dua tahun mengenal satu sama lain lewat tulisan ternyata tidak cukup untuk menghapus rasa gugup saat akhirnya bertemu lagi. Namun hari-hari berikutnya perlahan mencairkan suasana. Naomi mengajak Reza berjalan di jalan-jalan Kyoto, mencoba makanan Jepang, dan memperlihatkan kota yang selama ini hanya ia ceritakan lewat email. Reza merasa seperti sedang hidup di dalam mimpi. Namun ada satu hal yang membuatnya sedikit gelisah. Naomi belum pernah mengataka...

Cerpen Romantis: Email Terakhir Dari Kyoto - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 – Jarak yang Diam-Diam Mendekatkan Pertemuan singkat di Bali ternyata tidak berakhir di sana. Email pertama datang dari Naomi tiga hari setelah ia kembali ke Jepang. Pesannya sederhana. “Thank you for the lunch, Reza. Bali is beautiful. I hope you have a good day.” Reza membaca email itu berulang kali sebelum membalasnya. Sejak saat itu, percakapan mereka mengalir perlahan. Kadang hanya satu email dalam beberapa hari. Kadang mereka saling menulis panjang seperti sedang bercerita kepada sahabat lama. Naomi sering mengirim foto kota Kyoto—jalan kecil yang tenang, kuil tua yang diselimuti kabut pagi, atau secangkir teh hijau yang ia minum di sore hari. Sebagai balasan, Reza mengirim foto Jakarta yang sibuk, langit senja dari jendela kantornya, atau kopi yang ia minum saat lembur. Perbedaan negara, bahasa, dan budaya justru membuat mereka semakin banyak hal untuk dibicarakan. Suatu malam, Naomi menulis: “Kyoto will be very beautiful in spring. Sakura will...