Tak Sungguh Pergi
Senja mulai turun ketika Laila duduk sendirian di bangku taman dekat kampus. Ponselnya sudah beberapa kali ia lihat, tapi tidak ada pesan baru dari Arga. Ia menghela nafas panjang. Sejak beberapa minggu terakhir, semuanya terasa berbeda. Arga yang dulu selalu punya waktu untuknya, sekarang sering sibuk dengan adik-adiknya. Mengantar mereka sekolah, membantu mereka mengerjakan tugas, bahkan menjemput mereka dari tempat les. Laila tahu Arga sangat menyayangi keluarganya. Ia juga tahu Arga adalah kakak tertua yang sering menggantikan peran orang tua ketika mereka sibuk bekerja. Tapi tetap saja… hatinya terasa kesal. Kenapa rasanya aku jadi nomor dua? pikirnya. Ponselnya akhirnya bergetar. Arga: "Maaf ya, aku baru selesai jemput adik. Kamu sudah makan?" Laila menatap pesan itu lama sekali. Bukannya merasa senang, ia justru semakin kesal. Ia langsung membalas. "Kamu selalu sibuk sama adik-adikmu. Kamu masih punya waktu buat aku nggak sih?" Beberapa detik kemudian, Arg...