Cerpen Inspiratif: Aurellia dan Langit yang Tidak Lagi Kelabu
Aurellia Navira , orang-orang memanggilnya Aurell, bukan anak pejabat. Bukan pula anak orang kaya. Ayahnya hanya penjual gorengan keliling dengan sepeda tua berkarat, sedangkan ibunya membantu membuat adonan di rumah sempit yang atapnya bocor saat hujan turun. Namun yang paling menyakitkan bagi Aurell bukan kemiskinan mereka, melainkan ucapan orang-orang. “Kasihan ya, anak orang bodoh.” “Mau sekolah tinggi juga buat apa? Paling ujung-ujungnya jualan gorengan.” “Tuh lihat sepatunya. Aduuuuhhh….keliatan miskinnya.” Setiap kali mendengar itu, Aurell hanya menunduk sambil menggenggam tali tasnya erat. Tapi ketika orang-orang mulai menghina kedua orang tuanya, dadanya terasa seperti diremas. Suatu sore, saat ayahnya lewat membawa gerobak, beberapa orang tertawa keras. “Kalau miskin tuh jangan punya mimpi tinggi!” Ayah Aurell hanya tersenyum kecil meski matanya terlihat lelah. Sedangkan Aurell berlari pulang sambil menangis di kamarnya. Malam itu, ia melihat ibunya menjahit seragam sek...