Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 1
Bagian 1: Kita Punya Waktu, Kan? Aku pertama kali bertemu Aira di halte yang hampir kosong, sore itu. Langit sedang ragu—tidak benar-benar cerah, tapi juga belum siap hujan. Awan menggantung rendah, seperti menahan sesuatu yang belum waktunya jatuh. Seperti kalimat yang tertahan di ujung lidah. Aku datang lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa hari itu terasa panjang, dan aku hanya ingin cepat pulang. Tapi halte itu sepi. Terlalu sepi. Hanya ada satu orang di sana. Dia duduk di ujung bangku, memeluk tasnya erat, seolah ada sesuatu yang ingin ia jaga agar tidak jatuh. Pandangannya lurus ke depan, ke arah jalan yang kosong—tapi matanya tidak benar-benar melihat ke sana. Lebih seperti… sedang melihat sesuatu yang jauh. Atau mungkin, sedang kehilangan sesuatu. Aku sempat ragu untuk mendekat. Tapi anehnya, justru karena dia terlihat begitu “sendiri”, aku merasa tidak enak kalau ikut diam saja. Jadi aku duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk menyada...