Postingan

Cerita Cinta: Bab yang Tak Bisa Kau Tutup

Gambar
  Hujan turun perlahan di kota Malang malam itu. Lampu-lampu jalan memantulkan warna kuning pucat di genangan air. Di sebuah kafe kecil dekat sudut jalan, Yuki duduk diam sambil menatap layar laptopnya yang kosong. Kosong seperti hubungan yang baru saja berakhir.   “Aku capek sama kamu, Ki,” kata Naga waktu itu, dengan nada dingin yang bahkan lebih menusuk daripada bentakan. “Kamu terlalu biasa. Hidupmu gitu-gitu aja.” Kalimat itu terus terngiang di kepala Yuki selama berminggu-minggu. Terlalu biasa. Padahal selama ini, dia selalu ada saat Naga jatuh. Mendengarkan mimpi-mimpinya. Menenangkan egonya. Menjadi rumah yang bahkan tak pernah dianggap penting.   Yang paling menyakitkan bukan perpisahannya. Tapi bagaimana Naga memandangnya seolah ia tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Malam itu, Yuki menutup laptopnya pelan lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri.   Stoikisme pernah mengajarinya satu hal: Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang me...

Cerita Cinta: Kau Beriku Harapan

Gambar
  Hujan turun pelan di kaca kafe ketika Veyra duduk sendirian sambil menatap jalanan kota yang mulai sepi. Ia baru saja kehilangan banyak hal dalam hidupnya—pekerjaan, beberapa teman, dan seseorang yang dulu berjanji akan tetap tinggal. Sejak saat itu, Veyra selalu merasa dunia terlalu cepat meninggalkannya. Malam itu ia bertemu Kaizen, pria yang duduk di meja dekat jendela dengan buku tua di tangannya. Kaizen bukan tipe orang yang banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya terasa tenang. “Kadang hidup tidak menghancurkan kita,” ucapnya pelan tanpa menoleh, “kita hanya terlalu takut menerima bahwa beberapa hal memang tidak ditakdirkan menetap.” Veyra mengernyit kecil. Aneh sekali, tetapi untuk pertama kalinya ada seseorang yang tidak berusaha menghiburnya dengan kata-kata kosong. Hari-hari berikutnya, mereka mulai sering bertemu. Kaizen selalu terlihat seperti laut di malam hari—diam, gelap, tetapi menenangkan. Ia mengajarkan Veyra menikmati hal-hal kecil: aroma kopi hangat, sua...

Cerpen Drama: Menunggumu di Setiap Hujan (Bagian 2)

Gambar
  Bagian 2: Yang Tertinggal dan Tak Bisa Kembali Sudah hampir satu tahun sejak hari itu. Dito masih datang ke tempat yang sama setiap kali hujan turun–teras rumah, kursi kayu, dan secangkir teh yang sering kali dibiarkan dingin. Orang-orang bilang waktu bisa menyembuhkan. Tapi tidak ada yang bilang... kalau waktu juga bisa membuat rindu semakin dalam. Suatu sore, saat hujan turun lebih pelan dari biasanya, Dito melihat sesuatu yang berbeda. Seorang perempuan berdiri di ujung jalan, memakai payung transparan. Dan untuk sesaat... dunia seperti berhenti. “Helda...? bisik Dito hampir tak percaya. Perempuan itu melangkah mendekat. Wajahnya sama. Senyumnya hampir sama. Tapi matanya tidak lagi seperti dulu. “Aku cuma sebentar,” kata Helda pelan. Dito berdiri, langkahnya ragu. “Kenapa kamu baru datang sekarang?” Helda menunduk. “Karena aku tidak seharusnya datang lagi”. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menusuk pelan, tapi dalam. “Aku sakit serius, Dit,” katanya. “Waktu itu... aku pu...

Cerpen Drama: Menunggumu di Setiap Hujan (Bagian 1)

Gambar
  Bagian 1: Hujan yang Tak Lagi Sama  Hujan selalu punya cara untuk mengingatkan Dito pada Helda. Bukan karena mereka pertama kali bertemu saat hujan–bukan. Tapi karena setiap tetesnya terasa seperti kenangan yang jatuh satu per satu, tanpa bisa dihentikan. Hari itu, di teras rumahnya. Dito duduk diam sambil menatap jalan yang basah. Tangannya menggenggam secangkir teh yang sudah dingin. Sejak Helda pergi, semua hal terasa kehilangan makna... bahkan hujan yang dulu mereka sukai bersama. “Aku suka hujan,” kata Helda dulu, sambil tersenyum kecil. “Karena hujan itu jujur. Kalau dia sedih, dia jatuh”. Dito waktu itu hanya tertawa. “Kalau gitu, aku harus sering-sering hujan biar kamu tahu aku lagi sedih”. Helda menatapnya lama, tapi tidak tertawa. Seharusnya saat itu Dito sadar bahwa Helda tidak sedang bercanda. Sekarang, suara hujan terdengar lebih keras dari biasanya. Atau mungkin... hanya hati Dito yang terlalu sepi. Ia merindukan Helda. Di dalam sakunya, masih ada surat terakhi...

Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2: Yang Tertinggal Setelah Waktu Pergi Aku membaca kalimat itu berulang kali. “Maaf… aku sudah bilang, waktuku tidak banyak.” Seolah dengan membacanya lagi, maknanya akan berubah. Tapi tidak. Kalimat itu tetap sama. Sederhana. Singkat. Dan entah kenapa… terasa jauh lebih berat daripada seharusnya. Aku duduk di bangku halte itu lebih lama dari biasanya. Lebih lama dari yang seharusnya. Seakan kalau aku tetap di sana, Aira akan muncul seperti hari-hari sebelumnya—datang tanpa janji, duduk di sebelahku, lalu berkata sesuatu yang aneh tapi menenangkan. Tapi sore itu… tidak ada siapa-siapa. Hanya angin, daun kering, dan aku yang akhirnya sadar—aku tidak benar-benar mengenalnya. Hari-hari setelah itu terasa janggal. Halte yang sama. Jam yang sama. Tapi rasanya… berbeda. Aku tetap datang. Entah untuk apa. Mungkin untuk memastikan kalau semua ini hanya kebetulan yang buruk. Atau mungkin… aku hanya belum siap menerima kalau itu benar-benar akhir. Beberapa hari k...

Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1: Kita Punya Waktu, Kan? Aku pertama kali bertemu Aira di halte yang hampir kosong, sore itu. Langit sedang ragu—tidak benar-benar cerah, tapi juga belum siap hujan. Awan menggantung rendah, seperti menahan sesuatu yang belum waktunya jatuh. Seperti kalimat yang tertahan di ujung lidah. Aku datang lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa hari itu terasa panjang, dan aku hanya ingin cepat pulang. Tapi halte itu sepi. Terlalu sepi. Hanya ada satu orang di sana. Dia duduk di ujung bangku, memeluk tasnya erat, seolah ada sesuatu yang ingin ia jaga agar tidak jatuh. Pandangannya lurus ke depan, ke arah jalan yang kosong—tapi matanya tidak benar-benar melihat ke sana. Lebih seperti… sedang melihat sesuatu yang jauh. Atau mungkin, sedang kehilangan sesuatu. Aku sempat ragu untuk mendekat. Tapi anehnya, justru karena dia terlihat begitu “sendiri”, aku merasa tidak enak kalau ikut diam saja. Jadi aku duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk menyada...

Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 — Hal yang Tidak Tertulis Hari itu hujan turun lebih lama dari biasanya. Kantor mulai sepi. Satu per satu orang pulang, menyisakan suara tetesan air di jendela. Nadira masih di mejanya, pura-pura sibuk. “Belum pulang?” Suara itu lagi. Nadira menoleh. Arka berdiri di sana, memegang tasnya. “Sebentar lagi,” jawab Nadira. Arka mengangguk, tapi tidak langsung pergi. “Aku boleh jujur?” katanya tiba-tiba. Nadira menegang sedikit. “Apa?” Arka menarik napas pelan. “Lo berubah.” Langsung. Tanpa basa-basi. Nadira tidak menjawab. “Kalau aku salah, bilang aja. Tapi… rasanya kayak lo lagi menjauh.” Hening. Suara hujan semakin jelas terdengar. “Aku…” Nadira membuka suara, tapi kalimatnya menggantung. Apa yang harus dia bilang? Bahwa semuanya karena sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat? “Karena aku?” tanya Arka lagi, lebih pelan. Nadira menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya—ketulusan....