Postingan

Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1: Kita Punya Waktu, Kan? Aku pertama kali bertemu Aira di halte yang hampir kosong, sore itu. Langit sedang ragu—tidak benar-benar cerah, tapi juga belum siap hujan. Awan menggantung rendah, seperti menahan sesuatu yang belum waktunya jatuh. Seperti kalimat yang tertahan di ujung lidah. Aku datang lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa hari itu terasa panjang, dan aku hanya ingin cepat pulang. Tapi halte itu sepi. Terlalu sepi. Hanya ada satu orang di sana. Dia duduk di ujung bangku, memeluk tasnya erat, seolah ada sesuatu yang ingin ia jaga agar tidak jatuh. Pandangannya lurus ke depan, ke arah jalan yang kosong—tapi matanya tidak benar-benar melihat ke sana. Lebih seperti… sedang melihat sesuatu yang jauh. Atau mungkin, sedang kehilangan sesuatu. Aku sempat ragu untuk mendekat. Tapi anehnya, justru karena dia terlihat begitu “sendiri”, aku merasa tidak enak kalau ikut diam saja. Jadi aku duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk menyada...

Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 — Hal yang Tidak Tertulis Hari itu hujan turun lebih lama dari biasanya. Kantor mulai sepi. Satu per satu orang pulang, menyisakan suara tetesan air di jendela. Nadira masih di mejanya, pura-pura sibuk. “Belum pulang?” Suara itu lagi. Nadira menoleh. Arka berdiri di sana, memegang tasnya. “Sebentar lagi,” jawab Nadira. Arka mengangguk, tapi tidak langsung pergi. “Aku boleh jujur?” katanya tiba-tiba. Nadira menegang sedikit. “Apa?” Arka menarik napas pelan. “Lo berubah.” Langsung. Tanpa basa-basi. Nadira tidak menjawab. “Kalau aku salah, bilang aja. Tapi… rasanya kayak lo lagi menjauh.” Hening. Suara hujan semakin jelas terdengar. “Aku…” Nadira membuka suara, tapi kalimatnya menggantung. Apa yang harus dia bilang? Bahwa semuanya karena sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat? “Karena aku?” tanya Arka lagi, lebih pelan. Nadira menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya—ketulusan....

Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1 — Angka yang Tertera di Langit   Nadira sudah terlalu sering mendengar kalimat yang sama, “Udah 35, masih sendiri juga?” Awalnya dia tersenyum. Lama-lama, senyumnya jadi semacam kebiasaan yang otomatis muncul—tanpa benar-benar terasa. Bukan karena dia tidak ingin menikah.Justru sebaliknya. Nadira percaya bahwa jodoh itu bukan sekadar pertemuan, tapi kecocokan yang sudah ditentukan sejak lahir . Dan baginya, salah satu petunjuk paling kuat adalah shio. Ia lahir di tahun Ular Tanah. Dalam catatan yang ia simpan rapi sejak kuliah, ada daftar shio yang paling cocok, cukup cocok, dan yang sebaiknya dihindari. Dan sejauh ini… hidupnya seperti sedang membuktikan teori itu. Dua hubungan serius yang pernah ia jalani kandas. Yang pertama terasa sempurna—sampai akhirnya penuh konflik kecil yang melelahkan. Yang kedua lebih tenang, tapi terasa hambar, seperti membaca buku tanpa alur. Keduanya, tidak cocok secara shio. Sejak itu, Nadira berjanji pada dirinya sendiri: “...

Cerpen Romantis: Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 3

Gambar
  Bagian 3 — Pelukan yang Tidak Pernah Pergi Arga masih diam. Memberinya waktu untuk jujur pada perasaannya sendiri. “Aku kangen pesanmu,” lanjut Laila dengan suara yang hampir pecah. “Kangen kamu yang selalu nanya aku sudah makan atau belum.” Air mata akhirnya jatuh di pipinya. “Aku juga sadar sesuatu…” “Apa?” tanya Arga pelan. Laila menarik napas dalam. “Aku cemburu sama adik-adikmu.” Arga sedikit terkejut. Tapi tidak marah. “Aku merasa mereka lebih penting dari aku,” lanjut Laila jujur. Arga menggeleng pelan. “Kamu salah kalau berpikir begitu.” “Lalu kenapa kamu selalu bersama mereka?” Arga tersenyum kecil. Ada kelelahan di wajahnya. “Karena mereka masih butuh aku.” Ia berhenti sejenak. “Tapi itu tidak pernah berarti kamu tidak penting.” Mata Laila kembali berkaca-kaca. “Aku terlalu egois ya?” Arga menggeleng lagi. “Kamu cuma takut kehilangan.” Kalimat itu membuat tangisan Laila pecah. “Aku memang takut kehilangan kamu,” katanya liri...

Cerpen Romantis: Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 — Sunyi yang Menyadarkan Hari pertama setelah pertengkaran itu terasa aneh. Biasanya setiap pagi Arga selalu mengirim pesan. Sudah bangun? Jangan lupa sarapan. Hari ini tidak ada. Laila membuka chat mereka beberapa kali. Tetap tidak ada pesan baru. “Ya sudah,” gumamnya mencoba meyakinkan diri sendiri. “Dia juga pasti butuh waktu.” Ia mencoba menjalani hari seperti biasa. Pergi ke kampus, mengikuti kelas, bercanda dengan teman-temannya. Tapi entah kenapa hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Malamnya, ia kembali membuka ponselnya. Masih tidak ada pesan. Hari kedua terasa lebih aneh. Biasanya Arga selalu mengingatkannya makan siang. Sudah makan belum? Jangan telat lagi. Sekarang tidak ada. Laila mencoba menahan diri untuk tidak menghubunginya. Kalau Arga bisa diam, aku juga bisa, pikirnya. Namun hari ketiga…rasa kesalnya mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Sepi. Sangat sepi. Saat sedang duduk di kantin kampus, salah satu temannya tiba-ti...

Cerpen Romantis: Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1 — Menunggu yang Membuat Kesal Senja mulai turun perlahan ketika Laila duduk sendirian di bangku taman dekat kampus. Cahaya matahari yang memudar membuat langit berwarna jingga keemasan, tapi Laila tidak benar-benar memperhatikannya. Matanya hanya tertuju pada layar ponsel. Sudah hampir setengah jam ia duduk di sana. Dan tidak ada pesan baru dari Arga. Ia membuka aplikasi chat lagi. Pesan terakhir masih sama seperti satu jam lalu. Tidak ada tanda bahwa Arga sedang mengetik. Laila menghela napas panjang. Sejak beberapa minggu terakhir, semuanya terasa berbeda. Arga yang dulu selalu punya waktu untuknya, sekarang sering sibuk dengan adik-adiknya. Mengantar mereka sekolah, membantu mengerjakan PR, menjemput dari tempat les, bahkan menunggu mereka sampai selesai latihan musik. Laila sebenarnya tahu alasan Arga melakukan itu.Arga adalah anak pertama. Dan orang tuanya sering pulang larut karena pekerjaan. Jadi Arga hampir selalu menggantikan peran orang tua di rumah. ...