Postingan

Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 3

Gambar
  Bagian 3 — Pelukan yang Tidak Pernah Pergi Arga masih diam. Memberinya waktu untuk jujur pada perasaannya sendiri. “Aku kangen pesanmu,” lanjut Laila dengan suara yang hampir pecah. “Kangen kamu yang selalu nanya aku sudah makan atau belum.” Air mata akhirnya jatuh di pipinya. “Aku juga sadar sesuatu…” “Apa?” tanya Arga pelan. Laila menarik napas dalam. “Aku cemburu sama adik-adikmu.” Arga sedikit terkejut. Tapi tidak marah. “Aku merasa mereka lebih penting dari aku,” lanjut Laila jujur. Arga menggeleng pelan. “Kamu salah kalau berpikir begitu.” “Lalu kenapa kamu selalu bersama mereka?” Arga tersenyum kecil. Ada kelelahan di wajahnya. “Karena mereka masih butuh aku.” Ia berhenti sejenak. “Tapi itu tidak pernah berarti kamu tidak penting.” Mata Laila kembali berkaca-kaca. “Aku terlalu egois ya?” Arga menggeleng lagi. “Kamu cuma takut kehilangan.” Kalimat itu membuat tangisan Laila pecah. “Aku memang takut kehilangan kamu,” katanya liri...

Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 — Sunyi yang Menyadarkan Hari pertama setelah pertengkaran itu terasa aneh. Biasanya setiap pagi Arga selalu mengirim pesan. Sudah bangun? Jangan lupa sarapan. Hari ini tidak ada. Laila membuka chat mereka beberapa kali. Tetap tidak ada pesan baru. “Ya sudah,” gumamnya mencoba meyakinkan diri sendiri. “Dia juga pasti butuh waktu.” Ia mencoba menjalani hari seperti biasa. Pergi ke kampus, mengikuti kelas, bercanda dengan teman-temannya. Tapi entah kenapa hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Malamnya, ia kembali membuka ponselnya. Masih tidak ada pesan. Hari kedua terasa lebih aneh. Biasanya Arga selalu mengingatkannya makan siang. Sudah makan belum? Jangan telat lagi. Sekarang tidak ada. Laila mencoba menahan diri untuk tidak menghubunginya. Kalau Arga bisa diam, aku juga bisa, pikirnya. Namun hari ketiga…rasa kesalnya mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Sepi. Sangat sepi. Saat sedang duduk di kantin kampus, salah satu temannya tiba-ti...

Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1 — Menunggu yang Membuat Kesal Senja mulai turun perlahan ketika Laila duduk sendirian di bangku taman dekat kampus. Cahaya matahari yang memudar membuat langit berwarna jingga keemasan, tapi Laila tidak benar-benar memperhatikannya. Matanya hanya tertuju pada layar ponsel. Sudah hampir setengah jam ia duduk di sana. Dan tidak ada pesan baru dari Arga. Ia membuka aplikasi chat lagi. Pesan terakhir masih sama seperti satu jam lalu. Tidak ada tanda bahwa Arga sedang mengetik. Laila menghela napas panjang. Sejak beberapa minggu terakhir, semuanya terasa berbeda. Arga yang dulu selalu punya waktu untuknya, sekarang sering sibuk dengan adik-adiknya. Mengantar mereka sekolah, membantu mengerjakan PR, menjemput dari tempat les, bahkan menunggu mereka sampai selesai latihan musik. Laila sebenarnya tahu alasan Arga melakukan itu.Arga adalah anak pertama. Dan orang tuanya sering pulang larut karena pekerjaan. Jadi Arga hampir selalu menggantikan peran orang tua di rumah. ...

Email Terakhir Dari Kyoto - Bagian 3

Gambar
  Bagian 3 – Di Bawah Musim Sakura Tanggal 20 Maret akhirnya tiba. Reza berdiri di bandara dengan perasaan campur aduk. Perjalanan menuju Jepang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Apa yang ingin Naomi katakan? Saat akhirnya ia tiba di bandara, seseorang melambaikan tangan dari kejauhan. Reza hampir tidak mengenalinya. Naomi terlihat berbeda. Lebih dewasa. Lebih cantik dari yang ia ingat. Namun senyum itu masih sama. Mereka sempat canggung di awal. Dua tahun mengenal satu sama lain lewat tulisan ternyata tidak cukup untuk menghapus rasa gugup saat akhirnya bertemu lagi. Namun hari-hari berikutnya perlahan mencairkan suasana. Naomi mengajak Reza berjalan di jalan-jalan Kyoto, mencoba makanan Jepang, dan memperlihatkan kota yang selama ini hanya ia ceritakan lewat email. Reza merasa seperti sedang hidup di dalam mimpi. Namun ada satu hal yang membuatnya sedikit gelisah. Naomi belum pernah mengataka...

Email Terakhir Dari Kyoto - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 – Jarak yang Diam-Diam Mendekatkan Pertemuan singkat di Bali ternyata tidak berakhir di sana. Email pertama datang dari Naomi tiga hari setelah ia kembali ke Jepang. Pesannya sederhana. “Thank you for the lunch, Reza. Bali is beautiful. I hope you have a good day.” Reza membaca email itu berulang kali sebelum membalasnya. Sejak saat itu, percakapan mereka mengalir perlahan. Kadang hanya satu email dalam beberapa hari. Kadang mereka saling menulis panjang seperti sedang bercerita kepada sahabat lama. Naomi sering mengirim foto kota Kyoto—jalan kecil yang tenang, kuil tua yang diselimuti kabut pagi, atau secangkir teh hijau yang ia minum di sore hari. Sebagai balasan, Reza mengirim foto Jakarta yang sibuk, langit senja dari jendela kantornya, atau kopi yang ia minum saat lembur. Perbedaan negara, bahasa, dan budaya justru membuat mereka semakin banyak hal untuk dibicarakan. Suatu malam, Naomi menulis: “Kyoto will be very beautiful in spring. Sakura will...

Legenda Resep Sambal Nenek QR Code (written by Henny)

Gambar
  ​D apur sudah seperti medan perang. Asap tumisan cabai mengepul sampai ke langit-langit. Maya berdiri sambil berteriak "Ibu! Ini percobaan ke-sepuluh! Kenapa rasanya tetap kayak sambal botolan di supermarket? Nggak ada tendangannya, nggak ada 'jiwanya'!" keluh Maya sambil membanting ulekan ke dalam cobek kayu. ​Ibu yang sedang memetik kangkung hanya menghela napas. "Masak itu jangan pakai emosi, May. Cabainya kerasa 'marah' itu." ​Tiba-tiba, pintu depan terbuka kasar. Ayah masuk dengan wajah yang lebih galak dari biasanya. Beliau langsung menutup hidung dengan dasinya. ​"Maya! Ibu! Ini rumah apa pabrik petasan? Ayah tadi lagi meeting penting sama direktur lewat Zoom! Beliau sampai nanya, 'Pak, itu suara apa yang berisik banget kayak orang lagi hancurin aspal?' Ternyata suara ulekanmu! Belum lagi bau terasinya, klien Ayah di Singapura sampai bisa cium lewat sinyal internet kayaknya!" ​"Yah, Maya lagi usaha cari resep sambal Ne...

Memilihmu, Meski Dunia Tidak (written by Ary-sensei)

Gambar
  Naya tidak pernah berani menatap Arka terlalu lama. Bukan karena takut. Tapi karena setiap kali mata mereka bertemu, jantungnya seperti lupa cara berdetak dengan normal. Ia menyukai Arka sejak hari pertama ospek—saat cowok itu berdiri di depan, menjelaskan sesuatu dengan tenang dan percaya diri. Semua orang melihat Arka sebagai sosok yang ideal. Pintar. Sopan. Anak baik-baik. Dan Naya tahu satu hal tentang Arka yang tidak semua orang tahu: Ia adalah anak yang selalu menuruti orang tuanya. Itu yang membuat Naya tak pernah berani berharap terlalu jauh. Awalnya, kedekatan mereka terjadi tanpa sengaja. Satu kelompok tugas. Satu diskusi panjang yang berubah menjadi obrolan tentang mimpi. Dari mimpi berubah menjadi cerita masa kecil. Dari cerita masa kecil berubah menjadi kebiasaan saling mencari. Suatu malam, Arka berkata pelan, “Kenapa ya… kalau sama kamu rasanya rumah?” Naya tersenyum, tapi tidak menjawab. Ia takut kalau itu hanya perasaan sepihak. Sampai akhirnya, Arka yang lebih ...