Postingan

Hati yang Tersesat

  Maya sudah empat tahun bersama Andre. Jika ditanya hubungan apa yang mereka miliki, Maya sendiri tak pernah benar-benar bisa menjawabnya. Mereka bukan sepasang kekasih, tapi juga bukan sekadar teman biasa. Mereka saling berbagi cerita, tertawa bersama, bahkan saling menguatkan di saat terberat. Bagi Maya, itu sudah cukup. Andre adalah lelaki yang membuatnya merasa aman dan berarti. Setiap pesan Andre selalu dinantinya, setiap cerita Andre selalu didengarnya dengan penuh perhatian. Ia tak pernah menuntut status, tak pernah memaksa Andre memberi kejelasan. Dalam hatinya, Maya selalu percaya, suatu hari Andre akan menyadari bahwa perempuan yang selalu ada untuknya adalah dirinya. Di awal pertemanan mereka, Andre hanyalah seorang laki-laki penuh amarah. Ia sering bercerita tentang keluarganya yang retak , tentang ayah yang pergi, dan tentang ibunya yang memutuskan berpisah. Keputusan itu membuat Andre terluka dan menyimpan kebencian yang dalam. “Aku benci semua cewek, May,” katanya s...

Si Pemburu Nyamuk

  Setahun ini entah ke mana perginya musim kemarau. Langit seolah jatuh cinta pada hujan dan tak mau berhenti menangis. Genangan air muncul di mana-mana: di selokan, di halaman, bahkan di pot bunga yang lupa dikosongkan. Tak heran, penyakit berdatangan dan nyamuk berkembang biak seperti pasukan tanpa akhir. Fredo adalah salah satu korbannya. Malam itu, ia duduk di meja belajar dengan mata berat. Buku terbuka, pena di tangan, tapi pikirannya sudah melayang-layang. Baru saja ia menguap lebar ketika terdengar dengungan menyebalkan di dekat telinganya. “Ngggiiing…” Satu nyamuk melintas. Lalu dua. Lalu banyak. Fredo menyipitkan mata.  “Oh, jadi kalian mau perang?” Ia meraih raket nyamuk kesayangannya. Sekali ayun—clek!—satu tumbang. Dua ayun—clek clek!—dua lagi hilang. “Jangan main-main sama Fredo, pemburu nyamuk profesional!” Beberapa menit kamar kembali sunyi. Fredo duduk dengan senyum kemenangan. Kantuknya raib, diganti rasa bangga seperti pahlawan habis menyelamatkan dunia. Nam...

DITO YANG CUEK (written by Ary-sensei)

Gambar
  Senja itu Rena berjalan di samping Dito seperti biasa. Langkah mereka sejajar, tapi rasanya hati Rena selalu tertinggal beberapa meter di belakang. Dito memasukkan tangannya ke saku jaket. Tatapannya lurus ke depan. Tenang. Diam. Cuek. Dan lagi-lagi… tidak menggenggam tangan Rena. Rena menggigit bibirnya. “Dit…” panggilnya pelan. “Hm?” “Kamu capek sama aku ya?” Dito berhenti berjalan. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Rena mengangkat bahu, pura-pura santai. “Enggak apa-apa.” Padahal dadanya penuh. Sudah berapa lama mereka pacaran? Hampir setahun. Tapi Dito tidak pernah bilang “I love you.” Tidak pernah memeluk duluan. Bahkan menggenggam tangan pun hampir selalu Rena yang memulai. Di media sosial, Rena sering lihat pasangan lain saling pamer pelukan, kata manis, kejutan kecil. Sementara Dito? Selalu ada, tapi terasa jauh. Mereka duduk di bangku taman dekat danau. Angin sore meniup rambut Rena lembut. “Kamu dingin banget sih,” kata Rena tiba-tiba. Dito menoleh. “Aku kenapa lagi?” “Kam...

Di Antara Ragu yang Akhirnya Pulang (written by Ary-sensei)

Gambar
  Nara selalu percaya bahwa pertemuan yang paling membekas adalah yang datang tanpa rencana. Seperti sore itu, ketika hujan turun terlalu cepat dan memaksanya berteduh di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Di sanalah ia bertemu Aksa—dengan kemeja biru pucat, buku di tangan kiri, dan tatapan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terjebak hujan. “Kursinya kosong?” tanya Aksa sambil menunjuk kursi di depannya. Nara mengangguk pelan. “Silakan”. Percakapan mereka dimulai dari hal-hal sepele: hujan, kopi yang terlalu pahit, lalu berlanjut ke cerita hidup yang tak disangka-sangka terasa akrab. Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Tidak pernah ada janji resmi, hanya kebiasaan yang perlahan tumbuh—kopi sore, pesan singkat sebelum tidur, dan tawa kecil yang selalu terasa cukup. Namun, di balik semua itu, Nara menyimpan ragu. Ia takut salah mengartikan perhatian Aksa. Takut semua ini hanya ramah yang kebetulan terasa hangat. Di sisi lain, Aksa pun memikul ketakutan yang sam...

Yang Tersisa adalah Aku ( part-3 ) (written by Henny)

Gambar
  Sore harinya, Nisa membawa sebungkus jeruk nipis dan sambal. “Kia, aku kepikiran sesuatu. Kenapa nggak coba kasih sentuhan kamu sendiri? Misalnya, ibumu terkenal sama kuah kaldunya yang gurih, nah kamu bisa kasih tambahan segar dari jeruk nipis ini. Kan kamu suka rasa segar-segar?” Adzkia termenung. Ide itu sederhana, tapi membuatnya sadar: mungkin warung ini memang bukan soal meniru persis, melainkan melanjutkan dengan jiwa baru. Esoknya, Adzkia mencoba resep baru, dibantu asisten ibunya, Bi Jum. Ia merebus kaldu lebih lama, menambahkan sedikit serai agar lebih harum, dan menyajikan sambal buatan tangannya sendiri. Kuah soto itu tetap hangat seperti warisan ibunya, tapi ada aroma segar yang berbeda. Ia menambahkan sentuhan kecil sesuai seleranya.   Keesokan harinya, warung tutup sementara. Daripada buka tapi masih belum siap mental dan belum ada masakan dengan rasa baru. Adzkia ga mau setengah-setengah. Baru setelah dirasa lebih mantap, 3 hari kemudian mengadakan soft openi...

Yang Tersisa adalah Aku ( part-2 ) (written by Henny)

Gambar
  Defdan bekerja di sebuah perusahaan percetakan kecil di kota Yogyakarta. Perusahaannya menerima pesanan macam-macam: mulai dari cetak undangan, brosur, spanduk, sampai buku tahunan sekolah. Karena jumlah karyawan terbatas—hanya belasan orang—Defdan harus merangkap banyak tugas.  Pagi-pagi ia sudah sibuk mengangkat gulungan kertas besar ke gudang, membantu bagian produksi menyiapkan tinta, bahkan kadang harus turun langsung mengoperasikan mesin cetak jika operator sedang izin. Siangnya, ia berganti posisi di depan komputer, membantu desain sederhana untuk pelanggan yang tidak membawa file. Malamnya, jika ada pesanan mendesak, ia ikut lembur memotong hasil cetakan atau mengemas pesanan supaya bisa diantar keesokan harinya. Gajinya memang tidak besar, tapi cukup stabil. Ia sadar, pekerjaannya itu bukan karier mewah, namun bagi Defdan, yang penting bisa kirim uang ke rumah untuk menutup kebutuhan dapur, listrik, dan lain- lain. Karena itulah ia jarang sekali bisa pulang. Kalau p...

Yang Tersisa adalah Aku ( part-1 ) (written by Henny)

Gambar
    Masih disela tangisnya, Adzkia memohon kedua orang tuanya untuk tidak pergi. Ada ganjalan dalam hatinya yang begitu sulit ia ungkapkan lewat ucapan. Meski bunda meyakinkan kalo nanti sore sudah pulang ternyata kenyataannya orangtuanya pergi untuk selamanya. Adzkia berdiri terpaku di depan makam yang masih basah. Nisan putih dengan nama kedua orang tuanya membuat matanya kembali berkaca-kaca. Hujan rintik-rintik sore itu seakan ikut berduka, meresap ke tanah merah yang baru saja ditimbun. “Ayah… Ibu… bagaimana aku harus melanjutkan hidup tanpa kalian?” bisiknya lirih. Suaranya tenggelam di antara doa-doa orang yang mulai bubar meninggalkan pemakaman. Jemarinya gemetar saat menyentuh tanah yang masih basah, seolah ingin meraih kembali tangan ibunya yang hangat atau pundak ayahnya yang kokoh.   Kecelakaan itu datang begitu cepat. Sebuah truk rem blong menghantam mobil orang tuanya saat perjalanan pulang dari Bandung. Adzkia, yang saat itu memilih tidak ikut karena a...