Cerita Cinta: Bab yang Tak Bisa Kau Tutup
Hujan turun perlahan di kota Malang malam itu. Lampu-lampu jalan memantulkan warna kuning pucat di genangan air. Di sebuah kafe kecil dekat sudut jalan, Yuki duduk diam sambil menatap layar laptopnya yang kosong. Kosong seperti hubungan yang baru saja berakhir. “Aku capek sama kamu, Ki,” kata Naga waktu itu, dengan nada dingin yang bahkan lebih menusuk daripada bentakan. “Kamu terlalu biasa. Hidupmu gitu-gitu aja.” Kalimat itu terus terngiang di kepala Yuki selama berminggu-minggu. Terlalu biasa. Padahal selama ini, dia selalu ada saat Naga jatuh. Mendengarkan mimpi-mimpinya. Menenangkan egonya. Menjadi rumah yang bahkan tak pernah dianggap penting. Yang paling menyakitkan bukan perpisahannya. Tapi bagaimana Naga memandangnya seolah ia tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Malam itu, Yuki menutup laptopnya pelan lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Stoikisme pernah mengajarinya satu hal: Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang me...