Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 1


 Bagian 1 — Menunggu yang Membuat Kesal

Senja mulai turun perlahan ketika Laila duduk sendirian di bangku taman dekat kampus. Cahaya matahari yang memudar membuat langit berwarna jingga keemasan, tapi Laila tidak benar-benar memperhatikannya.

Matanya hanya tertuju pada layar ponsel. Sudah hampir setengah jam ia duduk di sana. Dan tidak ada pesan baru dari Arga. Ia membuka aplikasi chat lagi. Pesan terakhir masih sama seperti satu jam lalu. Tidak ada tanda bahwa Arga sedang mengetik.

Laila menghela napas panjang. Sejak beberapa minggu terakhir, semuanya terasa berbeda. Arga yang dulu selalu punya waktu untuknya, sekarang sering sibuk dengan adik-adiknya. Mengantar mereka sekolah, membantu mengerjakan PR, menjemput dari tempat les, bahkan menunggu mereka sampai selesai latihan musik.

Laila sebenarnya tahu alasan Arga melakukan itu.Arga adalah anak pertama. Dan orang tuanya sering pulang larut karena pekerjaan. Jadi Arga hampir selalu menggantikan peran orang tua di rumah.

Ia yang memastikan adiknya makan. Ia yang memastikan mereka belajar. Ia yang memastikan mereka pulang dengan aman. Laila tahu semua itu.

Tapi tetap saja…hatinya terasa kesal.

“Kenapa rasanya aku jadi nomor dua?” gumamnya pelan.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Laila langsung membuka pesan itu dengan cepat.

Arga:

“Maaf ya, aku baru selesai jemput adik. Kamu sudah makan?”

Laila menatap layar itu lama sekali. Biasanya pesan seperti itu membuatnya tersenyum. Tapi malam ini justru membuat dadanya terasa panas. Ia mengetik cepat.

Kamu selalu sibuk sama adik-adikmu. Kamu masih punya waktu buat aku nggak sih?

Pesan itu langsung terkirim. Beberapa detik kemudian Arga membalas.

Masih ada kok. Aku cuma harus bagi waktu.

Jawaban itu sederhana. Tapi bagi Laila, rasanya seperti percikan api yang menyulut emosi.

“Bagi waktu? Aku harus terus nunggu?” gumamnya kesal. Tangannya bergerak lagi di layar.

Kalau gitu kamu sama mereka saja. Aku capek selalu nunggu.

Begitu pesan terkirim, Laila sempat merasa sedikit bersalah. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk menarik kata-katanya kembali. Tidak lama kemudian ponselnya berdering.

Arga menelepon.

Laila menatap layar itu sebentar sebelum akhirnya mengangkatnya.

“Laila…” suara Arga terdengar lembut dari ujung telepon.
“Jangan marah seperti ini.”

“Kenapa?” balas Laila dingin. “Aku salah ya kalau merasa diabaikan?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Tapi faktanya kamu selalu punya waktu buat mereka. Buat aku? Aku harus nunggu terus.”

Arga terdiam beberapa detik. Ia seperti sedang menahan sesuatu.

“Aku cuma berusaha menjalankan tanggung jawabku sebagai kakak,” katanya akhirnya.

“Tanggung jawabmu ke aku apa?” Laila langsung memotong.

Kali ini Arga benar-benar diam. Kesunyian itu terasa panjang.

Dan entah kenapa, kesunyian itu membuat Laila semakin kesal.

“Sudahlah,” katanya akhirnya dengan suara tajam.
“Kalau begini terus… kita putus saja.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa benar-benar ia pikirkan. Di ujung telepon hanya terdengar napas panjang Arga. Tidak ada teriakan. Tidak ada kemarahan. Hanya suara pelan yang akhirnya berkata,

“Kalau kamu sedang marah, aku tidak mau mengambil keputusan sekarang.”

Jawaban itu justru membuat Laila makin kesal.

“Kenapa kamu selalu seperti ini?! Kenapa kamu nggak pernah marah balik?!” serunya.

Arga menjawab dengan tenang.

“Karena aku tidak ingin menyakiti kamu saat aku juga sedang kesal.”

Malam itu percakapan mereka berakhir tanpa kata “selamat malam”.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…tidak ada pesan dari Arga sebelum tidur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)