Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)
Dery selalu jadi sasaran empuk di sekolah. Kacamata tebal, rambut berantakan, baju kedodoran. Teman-teman menertawakannya hampir setiap hari. Ia hanya ingin lulus, pulang, hidup tenang. Di rumah, suasana tidak jauh lebih baik. Ayahnya sibuk bekerja, sering ke luar kota, pulang hanya beberapa hari dalam sebulan. Ibunya juga tenggelam dalam urusan sendiri, jarang memperhatikan Dery. Sarapan pun jarang diperhatikan; Dery sering menyiapkan sendiri makanannya. Meski begitu, Dery berusaha sabar. Ia belajar sendiri, merapikan kamar seadanya, menyiapkan makan sendiri ketika bisa. Rasa kesepian menjadi teman sehari-hari, namun ia masih menyimpan sedikit harapan: suatu hari, hidupnya akan berubah. Pada hari terakhir sebelum pertukaran jiwa terjadi, beban hidup Dery mencapai titik puncak. Ia pulang sekolah dengan seragam kotor, setelah lagi-lagi dijadikan bahan olok-olokan dan terjadi dorongan kasar oleh teman-t...