Postingan

Menampilkan postingan dengan label fantasi

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

Gambar
       Dery selalu jadi sasaran empuk di sekolah. Kacamata tebal, rambut berantakan, baju kedodoran. Teman-teman menertawakannya hampir setiap hari. Ia hanya ingin lulus, pulang, hidup tenang.      Di rumah, suasana tidak jauh lebih baik. Ayahnya sibuk bekerja, sering ke luar kota, pulang hanya beberapa hari dalam sebulan. Ibunya juga tenggelam dalam urusan sendiri, jarang memperhatikan Dery. Sarapan pun jarang diperhatikan; Dery sering menyiapkan sendiri makanannya.      Meski begitu, Dery berusaha sabar. Ia belajar sendiri, merapikan kamar seadanya, menyiapkan makan sendiri ketika bisa. Rasa kesepian menjadi teman sehari-hari, namun ia masih menyimpan sedikit harapan: suatu hari, hidupnya akan berubah.      Pada hari terakhir sebelum pertukaran jiwa terjadi, beban hidup Dery mencapai titik puncak. Ia pulang sekolah dengan seragam kotor, setelah lagi-lagi dijadikan bahan olok-olokan dan terjadi dorongan kasar oleh teman-t...

Saat Aku Menemukanmu (Part 2) (Written by Henny)

Gambar
  Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Alex datang setiap sore, kadang membawa roti, kadang hanya duduk sambil membaca komik. Kadang ia berceloteh tanpa arah, kadang diam saja memandangi jendela. Eza mulai bisa bicara, walau suaranya masih serak. “Kenapa kau mau menolongku?” tanyanya suatu sore.   Alex terdiam lama. “Entahlah,” jawabnya pelan. “Mungkin karena aku juga dulu pernah diselamatkan. Dan mungkin… karena aku tahu rasanya sendirian.”   “Siapa yang menyelamatkanmu?”   “Seorang pelayan tua di rumah ayah angkatku. Waktu kecil, aku hampir mati kelaparan di jalan. Ia membawaku dan ayah angkatku, Tuan Robby, mengambilku karena katanya aku pintar. Tapi di rumah itu… semua terasa dingin. Orang-orang bicara dengan uang, bukan dengan hati.”   Eza menunduk. “Aku mengerti.”   Alex menatapnya. “Kau tahu, waktu aku melihatmu di kargo itu, aku merasa seperti melihat diriku sendiri. Bedanya, aku punya kesempatan hidup. Kau… hampir tidak.”    ...

Saat Aku Menemukanmu (Part 1) (written by Henny)

Gambar
  Eza hanyalah anak kecil yang tak pernah mengenal arti kasih sayang. Sejak ingatannya mulai tumbuh, yang ia tahu hanyalah perintah, bentakan, dan tatapan jijik dari orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya. Ia tinggal di rumah besar di pinggir kota, rumah dengan taman yang indah di luar namun penuh kekosongan di dalamnya. Bagi tetangga, ia disebut anak angkat sang pengusaha kaya, Tuan Damar. Tapi di balik pintu megah itu, Eza hanyalah pelayan kecil yang bahkan tak diizinkan makan di meja yang sama. Ia tidur di kolong tangga, beralaskan kain lap bekas, dan setiap pagi bangun lebih awal dari siapapun untuk membersihkan lantai marmer yang dingin.   Sore itu, ketika cahaya matahari condong ke barat dan aroma roti panggang memenuhi dapur, Eza hanya berdiri memandangi sepotong roti yang tergeletak di atas meja. Perutnya sudah dua hari tak benar-benar terisi. Ia hanya menatap, menahan air liur, sampai seorang pembantu lain, Sinta, meliriknya dengan senyum sinis. “Lapar...

Langit di Atas Menara (written by Henny)

Gambar
  Malam itu, festival sekolah berlangsung meriah. Cahaya lampion beterbangan di langit, musik dan tawa memenuhi halaman. Alya, siswi kelas XI, berdiri di dekat menara jam tua sekolah yang konon katanya menyimpan misteri. “Kata orang, kalau ada yang naik ke atas menara tepat saat festival, mereka bisa melihat bintang jatuh yang cuma muncul sekali dalam seratus tahun,” gumam Alya pelan. Ia sendiri tidak terlalu percaya. Tapi entah kenapa, hatinya ingin mencoba. Saat hendak menapaki tangga menara, suara seorang cowok membuatnya berhenti. “Kamu juga dengar cerita itu?” Alya menoleh. Seorang cowok dengan seragam rapi berdiri di sana, tersenyum samar.  “Aku Reno,” katanya. Mereka akhirnya naik bersama. Tangga kayu berderit, angin malam menyelinap. Anehnya, setiap kali Alya hampir kehilangan pijakan, Reno selalu sigap menangkap tangannya. “Takut jatuh?” tanya Reno sambil tersenyum. Alya pura-pura tegar. “Enggak... cuma kaget. Lagian kalau jatuh, kan ada kamu.” Reno te...

The Mirror House (written by Ary-sensei)

Gambar
  Malam itu Taman Orchid ramai sekali. Kota Chestnut Grove sedang merayakan ulang tahun kota yang ke 75 tahun. Pak Walikota mengadakan Bazar dan Pasar Malam untuk warga selama 1 minggu dan semua orang bergembira. Salah satu wahana yang menarik di Pasar Malam itu adalah The Mirror House. Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu terdapat puluhan kaca yang tertata seperti Labirin. Banyak orang yang penasaran dengan wahana ini dan mereka ingin merasakan sensasinya. Apa itu? Sulit mencari jalan keluar….hahahahaha…. Tetapi, cermin dalam “The Mirror House” adalah cermin ajaib yang bisa menunjukkan masa depan orang yang melewatinya. Dari banyaknya orang yang penasaran adalah Ethan dan Eullore. Mereka adalah kakak beradik. Ethan adalah anak laki-laki berumur 20 tahun, dan Eullore adalah anak perempuan berumur 15 tahun. “Kak, aku ingin ke The Mirror House. Aku tidak pernah ke wahana seperti itu, boleh ya kak?” pinta Eullore pada Ethan. Setelah berpikir sebentar, Ethan pun menyetuju...

Angsa Putih dari Danau Biru (written by Ary-sensei)

Gambar
  Dahulu kala, di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, terdapat sebuah danau bernama Danau Biru. Airnya sangat jernih dan di sana hiduplah seekor angsa putih yang sangat cantik. Angsa ini berbeda dari angsa biasa, karena bulunya bisa bersinar di malam hari. Orang-orang desa memanggilnya Aurora yang berarti “Cahaya”. Entah siapa yang awalnya memberinya nama itu, orang desa secara turun-temurun mengenalnya dengan nama indah itu. Orang-orang desa percaya bahwa Aurora adalah penjaga danau. Konon katanya, siapa pun yang berlaku jujur dan baik hati akan mendapatkan keberuntungan jika bertemu angsa itu. Banyak orang berkunjung ke danau hanya untuk bertemu dengan Aurora. Mereka ingin bernasib baik, sehingga mereka rajin datang ke danau itu untuk menemuinya. Sayangnya, keberadaan Aurora menjadi misteri. Dia tak mudah dilihat, apalagi ditemui. Suatu hari, seorang anak bernama Eullore berjalan di tepi Danau Biru. Ia sedih karena keluarganya miskin dan ayahnya sedang sakit. Ibunya ...