Saat Aku Menemukanmu (Part 1) (written by Henny)
Eza
hanyalah anak kecil yang tak pernah mengenal arti kasih sayang. Sejak
ingatannya mulai tumbuh, yang ia tahu hanyalah perintah, bentakan, dan tatapan
jijik dari orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya. Ia tinggal di rumah
besar di pinggir kota, rumah dengan taman yang indah di luar namun penuh
kekosongan di dalamnya. Bagi tetangga, ia disebut anak angkat sang pengusaha
kaya, Tuan Damar. Tapi di balik pintu megah itu, Eza hanyalah pelayan kecil
yang bahkan tak diizinkan makan di meja yang sama. Ia tidur di kolong tangga,
beralaskan kain lap bekas, dan setiap pagi bangun lebih awal dari siapapun
untuk membersihkan lantai marmer yang dingin.
Sore itu, ketika cahaya matahari condong ke
barat dan aroma roti panggang memenuhi dapur, Eza hanya berdiri memandangi
sepotong roti yang tergeletak di atas meja. Perutnya sudah dua hari tak
benar-benar terisi. Ia hanya menatap, menahan air liur, sampai seorang pembantu
lain, Sinta, meliriknya dengan senyum sinis. “Lapar ya? Ambil saja sedikit,
siapa juga yang tahu,” bisiknya. Dan Eza, dengan polosnya, mengulurkan tangan.
Ia tidak tahu roti itu memang sengaja diletakkan untuk menjebaknya. Baru saja
gigitan pertama menyentuh bibirnya, pintu dapur terbuka keras, dan suara berat
menggema. “Apa yang kau lakukan, anak tak tahu diri!”
Eza membeku. Roti jatuh dari tangannya. Sinta
berpura-pura terkejut. “Saya sudah bilang jangan, Tuan! Tapi dia mencuri!”
teriaknya mendramatisir keadaan.
Tuan Damar melangkah masuk, mata tuanya berkilau
seperti bara. “Kau berani mencuri makananku?” katanya perlahan, suara yang
justru lebih menakutkan daripada bentakan. Eza tergagap. “S-saya hanya… lapar,
Tuan…” Namun kata “lapar” itu justru menjadi pemantik. Ia ditarik kasar,
diseret menuju ruang tamu yang masih hangat oleh bara perapian. Dari sana, Tuan
Damar mengambil sebatang besi pengaduk api, ujungnya merah menyala.
“Supaya kau ingat bahwa tangan kotor tak boleh
menyentuh makanan orang terhormat,” ucapnya dingin. Eza berusaha meronta, tapi
tubuhnya kecil. “Tuan, jangan… ampun…” tangisnya pecah. Namun suara itu
tertelan oleh denting besi yang menempel ke kulit. Sekejap aroma daging
terbakar memenuhi ruangan, dan jeritan itu—jeritan kecil yang panjang dan
melengking—menggema ke seluruh rumah. Tapi tak satupun datang menolong. Bahkan
Sinta hanya menutup telinganya, tak sanggup mendengarkan jeritan kecil
itu.
Malamnya, di bawah cahaya redup bulan yang
menembus jendela, Eza menggigil di bawah tangga, bibirnya melepuh dan kering.
Ia tahu, jika tetap di sana, ia akan mati perlahan. Maka ketika jarum jam
menunjuk tengah malam, ia bangkit. Kakinya lemah, tapi tekadnya cukup untuk
membawanya keluar lewat celah pagar. Hujan gerimis turun, dingin, tapi ia terus
berlari tanpa arah. Lumpur menempel di kakinya, napasnya pendek, dan setiap
kali angin menerpa luka di bibirnya, rasa perih itu seperti ribuan jarum menusuk.
Ia tak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya ingin jauh — jauh dari rumah itu,
dari bau besi panas dan tatapan yang menyakitkan.
Beberapa jam kemudian, langkahnya terhenti di sebuah
area kargo di pinggir kota. Deretan truk sapi berjajar di sana, sebagian
tertutup terpal, sebagian dibiarkan terbuka. Bau jerami dan kotoran bercampur
di udara. Eza, yang hampir pingsan, merangkak masuk ke salah satu kargo,
menyusup di antara jerami. Ia tak peduli baunya. Di sanalah, tubuh kecil itu
akhirnya rebah. Napasnya berat, bibirnya berdarah, tapi matanya perlahan
terpejam.
Tak lama, di kejauhan terdengar tawa anak-anak.
Empat bocah lelaki, membawa ember kecil dan botol plastik, berlari pelan di
antara truk-truk besar itu. Salah satunya, berambut kusut tapi bermata tajam,
berjalan paling depan. Namanya Alex — anak berusia sebelas tahun yang dikenal
nakal dan berani di lingkungannya. Ia sering membuat masalah kecil: mencuri
buah, menyalakan petasan di halaman sekolah, atau kali ini — menyusup ke kargo
sapi untuk memerah susu diam-diam bersama teman-temannya.
“Cepat, sebelum penjaga datang,” bisik salah
satu temannya.
Alex tersenyum. “Tenang saja. Aku tahu jadwal ronda
mereka.”
Saat membuka pintu belakang salah satu kargo,
Alex berhenti. Suara lirih terdengar di dalam — bukan suara sapi, tapi seperti
seseorang yang bernafas berat. Ia menyorotkan senter kecilnya. Di antara
jerami, tampak seorang anak kurus, kotor, dan bibirnya merah melepuh.
“Hei… kamu siapa?” bisik Alex, setengah takut
setengah penasaran.
Eza tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan mata
kosong. Alex mendekat perlahan, lututnya gemetar. “Mulutmu… kenapa?” tanyanya
lirih. “Siapa yang lakukan ini padamu?”
Masih tidak ada jawaban. Hanya nafas lemah yang
tersengal. Alex menelan ludah, lalu menoleh ke teman-temannya. “Ambilkan
air.”
“Buat apa? Nanti kita ketahuan!” protes salah
satu.
“Cepat!” bentak Alex, lebih keras dari niatnya.
Ia meraih botol, menuangkan sedikit air ke
tangan, lalu menepuk pipi Eza perlahan. “Hei, dengar aku. Jangan tidur. Kalau
kau tidur, kau takkan bangun lagi.”
Eza berkedip pelan, seolah mencoba memahami
kata-kata itu.
“Namamu siapa?” tanya Alex lagi.
“E… Eza…” suaranya hampir tak terdengar.
Alex mengangguk kecil. “Baik, Eza. Aku Alex.
Mulai malam ini aku akan bantu kau. Kau mengerti?”
Eza hanya menatap, tidak benar-benar mengerti. Tapi
untuk pertama kali malam itu, ia melihat mata seseorang yang tidak berniat
menyakitinya.
Teman-teman Alex sudah gelisah. “Ayo pergi!
Kalau ketahuan bisa habis kita!”
Alex menggertakkan gigi. “Kalian pergi saja. Aku akan
bawa dia.”
“Gila kau, Lex! Anak itu bisa saja mati!”
“Kalau begitu biarkan aku mati juga.”
Tak ada lagi yang berani membantah. Dengan
sisa tenaga, Alex mengangkat tubuh Eza keluar dari kargo. Bocah itu terlalu
ringan, seperti membawa bungkusan kosong. Ia tahu resikonya besar. Tapi entah
kenapa, rasa iba di dadanya lebih kuat dari rasa takut. Hujan mulai turun lagi
ketika ia menyusuri jalanan menuju rumah besar di ujung bukit — rumah milik
ayah angkatnya, Tuan Robby Wicaksono.
Begitu sampai di teras, lampu sorot menyala, dan suara
berat menyambutnya. “Anak siapa yang kau bawa, Alex?”
Alex menunduk. “Tuan Robby… dia butuh bantuan.
Kumohon, izinkan aku membawanya ke rumah sakit. Dia sekarat.”
“Tidak usah ikut campur,” jawab pria itu dingin.
“Buang saja dia. Dunia sudah menyeleksi yang lemah.”
“Tapi Tuan—”
“Diam, Alex. Aku sudah bilang. Jangan ganggu urusan
yang tak penting.”
Alex menatap ayah angkatnya lama. Matanya panas
menahan air mata. Lalu ia menunduk patuh, berbisik, “Baiklah, Tuan…”
Namun saat pria itu berbalik menuju ruang tamu, salah
satu pelayan tua berbisik dari balik pintu. “Bawa dia ke klinik cabang, nak.
Aku bantu diam-diam.” Alex hanya sempat menatapnya sebentar, tapi cukup
baginya untuk paham.
Malam itu, di tengah hujan yang kian deras, ia
menuntun langkah kecilnya ke arah klinik keluarga Wicaksono—tempat yang
biasanya hanya dipakai untuk karyawan, bukan untuk orang luar. Ia mengetuk
pintu belakang, memohon pada suster jaga agar membiarkan mereka masuk. Melihat
luka di bibir Eza, suster itu hanya terdiam sejenak, lalu membuka pintu.
“Letakkan di ranjang sana,” katanya cepat “dan
jangan bilang pada siapa pun.”
Alex mengangguk, memapah tubuh lemah itu ke
tempat tidur putih yang dingin. Saat Eza terbaring, Alex duduk di kursi,
menatapnya lama. Hujan di luar berhenti perlahan. Di ruangan itu hanya
terdengar detak jam, gemericik air, dan napas pelan dua anak yang baru saling
menemukan di tengah dunia yang kejam.
Cahaya pagi menembus kisi jendela klinik, jatuh lembut
ke wajah Eza yang masih pucat. Bau obat dan desinfektan memenuhi ruangan, tapi
untuk pertama kalinya dalam hidupnya, udara itu terasa bersih. Ia membuka mata
perlahan, menatap atap putih di atasnya, tak tahu di mana ia berada. Bibirnya
masih perih, tapi rasa sakit itu kini lebih tenang, seperti luka yang mulai
pasrah sembuh. Di sisi ranjang, Alex tertidur di kursi, kepala bersandar ke
dinding, rambut acak-acakan dan kaosnya masih lembab karena hujan semalam. Eza
memandangnya lama, bingung kenapa ada seseorang yang mau ada di sisinya.
Suara langkah suster terdengar pelan di koridor.
Pintu terbuka, wanita itu menatap Eza lalu tersenyum samar. “Kau sudah bangun
rupanya,” katanya lembut. “Jangan bicara dulu, bibirmu masih luka parah.” Eza
hanya mengangguk. “Anak yang membawamu itu tak mau pergi sebelum kau sadar,”
lanjut sang suster sambil menatap Alex. “Katanya dia harus memastikan kau masih
hidup.”
Beberapa saat kemudian, Alex terbangun. Ia
mengucek mata, lalu buru-buru berdiri. “Kau sudah bangun ya?” tanyanya sedikit
kikuk. “Kupikir kau… tidak akan bertahan.”
Eza berusaha berbicara, tapi hanya angin yang
keluar.
Alex menunduk. “Sudahlah, tak usah paksa bicara. Aku
juga tidak suka bicara kalau sakit gigi.” Ia tertawa kecil.
Suster datang membawa semangkuk bubur.
“Pelan-pelan saja,” katanya sambil menyuapi Eza. Alex memperhatikan dalam diam.
Ada sesuatu di dadanya yang aneh—semacam rasa lega bercampur kasihan, sesuatu
yang belum pernah ia rasakan untuk siapa pun.
Ketika suster keluar, Alex duduk lagi di kursi.
“Kau tak perlu berterima kasih,” katanya sambil memainkan jarinya di meja. “Aku
cuma… tidak suka melihat orang dibuang seperti sampah.”
Eza menatapnya lama. Lalu dengan suara kecil, ia
berbisik, “Terima kasih…”
Alex terkejut. “Hei, jangan bicara! Kau bisa—” tapi
Eza tersenyum sedikit, membuat Alex berhenti. Ada cahaya kecil di mata anak itu
yang bahkan luka tak bisa padamkan.
- BERSAMBUNG –

Komentar
Posting Komentar