Postingan

Menampilkan postingan dengan label romance

Memilihmu, Meski Dunia Tidak (written by Ary-sensei)

Gambar
  Naya tidak pernah berani menatap Arka terlalu lama. Bukan karena takut. Tapi karena setiap kali mata mereka bertemu, jantungnya seperti lupa cara berdetak dengan normal. Ia menyukai Arka sejak hari pertama ospek—saat cowok itu berdiri di depan, menjelaskan sesuatu dengan tenang dan percaya diri. Semua orang melihat Arka sebagai sosok yang ideal. Pintar. Sopan. Anak baik-baik. Dan Naya tahu satu hal tentang Arka yang tidak semua orang tahu: Ia adalah anak yang selalu menuruti orang tuanya. Itu yang membuat Naya tak pernah berani berharap terlalu jauh. Awalnya, kedekatan mereka terjadi tanpa sengaja. Satu kelompok tugas. Satu diskusi panjang yang berubah menjadi obrolan tentang mimpi. Dari mimpi berubah menjadi cerita masa kecil. Dari cerita masa kecil berubah menjadi kebiasaan saling mencari. Suatu malam, Arka berkata pelan, “Kenapa ya… kalau sama kamu rasanya rumah?” Naya tersenyum, tapi tidak menjawab. Ia takut kalau itu hanya perasaan sepihak. Sampai akhirnya, Arka yang lebih ...

Hati yang Tersesat (written by Ary-sensei)

Gambar
  Maya sudah empat tahun bersama Andre. Jika ditanya hubungan apa yang mereka miliki, Maya sendiri tak pernah benar-benar bisa menjawabnya. Mereka bukan sepasang kekasih, tapi juga bukan sekadar teman biasa. Mereka saling berbagi cerita, tertawa bersama, bahkan saling menguatkan di saat terberat. Bagi Maya, itu sudah cukup. Andre adalah lelaki yang membuatnya merasa aman dan berarti. Setiap pesan Andre selalu dinantinya, setiap cerita Andre selalu didengarnya dengan penuh perhatian. Ia tak pernah menuntut status, tak pernah memaksa Andre memberi kejelasan. Dalam hatinya, Maya selalu percaya, suatu hari Andre akan menyadari bahwa perempuan yang selalu ada untuknya adalah dirinya. Di awal pertemanan mereka, Andre hanyalah seorang laki-laki penuh amarah. Ia sering bercerita tentang keluarganya yang retak , tentang ayah yang pergi, dan tentang ibunya yang memutuskan berpisah. Keputusan itu membuat Andre terluka dan menyimpan kebencian yang dalam. “Aku benci semua cewek, May,” katanya s...

DITO YANG CUEK (written by Ary-sensei)

Gambar
  Senja itu Rena berjalan di samping Dito seperti biasa. Langkah mereka sejajar, tapi rasanya hati Rena selalu tertinggal beberapa meter di belakang. Dito memasukkan tangannya ke saku jaket. Tatapannya lurus ke depan. Tenang. Diam. Cuek. Dan lagi-lagi… tidak menggenggam tangan Rena. Rena menggigit bibirnya. “Dit…” panggilnya pelan. “Hm?” “Kamu capek sama aku ya?” Dito berhenti berjalan. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Rena mengangkat bahu, pura-pura santai. “Enggak apa-apa.” Padahal dadanya penuh. Sudah berapa lama mereka pacaran? Hampir setahun. Tapi Dito tidak pernah bilang “I love you.” Tidak pernah memeluk duluan. Bahkan menggenggam tangan pun hampir selalu Rena yang memulai. Di media sosial, Rena sering lihat pasangan lain saling pamer pelukan, kata manis, kejutan kecil. Sementara Dito? Selalu ada, tapi terasa jauh. Mereka duduk di bangku taman dekat danau. Angin sore meniup rambut Rena lembut. “Kamu dingin banget sih,” kata Rena tiba-tiba. Dito menoleh. “Aku kenapa lagi?” “Kam...

Di Antara Ragu yang Akhirnya Pulang (written by Ary-sensei)

Gambar
  Nara selalu percaya bahwa pertemuan yang paling membekas adalah yang datang tanpa rencana. Seperti sore itu, ketika hujan turun terlalu cepat dan memaksanya berteduh di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Di sanalah ia bertemu Aksa—dengan kemeja biru pucat, buku di tangan kiri, dan tatapan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terjebak hujan. “Kursinya kosong?” tanya Aksa sambil menunjuk kursi di depannya. Nara mengangguk pelan. “Silakan”. Percakapan mereka dimulai dari hal-hal sepele: hujan, kopi yang terlalu pahit, lalu berlanjut ke cerita hidup yang tak disangka-sangka terasa akrab. Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Tidak pernah ada janji resmi, hanya kebiasaan yang perlahan tumbuh—kopi sore, pesan singkat sebelum tidur, dan tawa kecil yang selalu terasa cukup. Namun, di balik semua itu, Nara menyimpan ragu. Ia takut salah mengartikan perhatian Aksa. Takut semua ini hanya ramah yang kebetulan terasa hangat. Di sisi lain, Aksa pun memikul ketakutan yang sam...

Janji Di Bangku Paling Belakang (written by Ary-sensei)

Gambar
  Raka dan Alya pertama kali bertemu saat hari orientasi siswa baru di sebuah SD negeri kecil. Keduanya sama-sama anak pendiam yang memilih duduk di bangku paling belakang, bukan karena malas, tetapi karena ingin menghindari sorotan. Sejak hari itu, mereka menjadi dua anak yang selalu bersama. Raka membantu Alya mengangkat tasnya yang berat, sementara Alya membantu Raka membaca dengan lancar. Persahabatan mereka tumbuh sederhana, tanpa janji besar, hanya kebiasaan untuk saling ada. Mereka tumbuh bersama. SD berganti SMP, lalu SMA. Di setiap jenjang, bangku belakang selalu menjadi tempat mereka. Namun, semakin dewasa, dunia mulai memberi ujian. Raka aktif di organisasi dan lomba, sering pulang larut dan kelelahan. Alya tetap tenang, fokus belajar demi impian kuliah. Raka mulai merasa Alya menjauh. Alya merasa Raka berubah dan tak lagi punya waktu. Keduanya memilih diam, menyimpan rasa kecewa tanpa tahu cara mengungkapkannya. Konflik kecil berubah menjadi jarak yang nyata saat SMA ke...

Ketika Takdir Mengetuk Pintu (written by Henny)

Gambar
  Rania menatap layar ponselnya dengan hati berdebar. Notifikasi dari ustazahnya baru saja muncul. “Rania, ada ikhwan yang ingin mengenalmu melalui ta’aruf. Apakah kamu siap?” Pesan singkat itu membuatnya terdiam lama. Rania bukan gadis yang suka berpacaran. Sejak lama ia memutuskan menjaga hatinya sampai Allah mengirimkan seseorang melalui jalan halal.  Ia menarik napas dalam, lalu membalas pelan, “InsyaAllah, Ustazah. Saya siap.” Tak lama kemudian, ustazah mempertemukannya dengan seorang ikhwan bernama Fajar. Prosesnya sederhana—ada wali, ada saksi, dan mereka duduk berhadapan dengan rasa canggung. “Assalamu’alaikum,” sapa Fajar dengan suara mantap. “Wa’alaikumussalam,” jawab Rania, menunduk sopan. Rania tak sengaja menjatuhkan pena. Fajar cepat-cepat mengambilnya. “Ini jatuh,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Jantung Rania berdesir. Ia gugup, kata-katanya sering tersandung. Fajar tersenyum menenangkan. “Santai saja, Rania. Tidak perlu tegang.” Hati Rania bergetar. Pertemuan ...

Yang Tak Pernah Aku Katakan (written by Ary-sensei)

Gambar
  Aku masih ingat pertama kali melihat Ardan—di lorong kampus, saat ia menunduk sedikit sambil tersenyum ramah kepada seseorang. Senyum itu… entah kenapa, langsung masuk begitu saja ke hatiku. Sejak hari itu, namanya seperti menempel di pikiranku. Bukan karena ia sempurna, tapi karena setiap geraknya seperti punya ketenangan yang membuatku ingin berhenti sebentar dan memperhatikan. Sayangnya, semesta tidak sedang berpihak padaku. Ardan sudah punya pacar. Bukan sembarang pacar—Rania, perempuan cantik dengan segala keanggunan yang membuatku tidak berani membandingkan diri sendiri. Mereka terlihat cocok. Mereka terlihat bahagia. Dan aku? Aku hanya penonton yang berusaha meredam perasaan sendiri. Namun ada satu hal yang tidak kuketahui waktu itu: Ardan sering memperhatikanku juga. Diam-diam. Dari jauh. “Aku juga suka kamu… dari dulu.” Pelan-pelan. Tanpa terburu-buru. Dan aku? Aku menemaninya dari jarak yang sehat, memberi ruang, memberi waktu. Tidak ada hubungan instan setelah patah...