DITO YANG CUEK (written by Ary-sensei)
Senja itu Rena berjalan di samping Dito seperti biasa. Langkah mereka sejajar, tapi rasanya hati Rena selalu tertinggal beberapa meter di belakang.
Dito memasukkan tangannya ke saku jaket. Tatapannya lurus ke depan. Tenang. Diam. Cuek.
Dan lagi-lagi… tidak menggenggam tangan Rena. Rena menggigit bibirnya.
“Dit…” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kamu capek sama aku ya?”
Dito berhenti berjalan. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”
Rena mengangkat bahu, pura-pura santai. “Enggak apa-apa.”
Padahal dadanya penuh.
Sudah berapa lama mereka pacaran? Hampir setahun. Tapi Dito tidak pernah bilang “I love you.” Tidak pernah memeluk duluan. Bahkan menggenggam tangan pun hampir selalu Rena yang memulai.
Di media sosial, Rena sering lihat pasangan lain saling pamer pelukan, kata manis, kejutan kecil. Sementara Dito? Selalu ada, tapi terasa jauh.
Mereka duduk di bangku taman dekat danau. Angin sore meniup rambut Rena lembut.
“Kamu dingin banget sih,” kata Rena tiba-tiba.
Dito menoleh. “Aku kenapa lagi?”
“Kamu gak pernah bilang sayang.”
Dito terdiam.
“Kamu gak pernah pegang tanganku duluan. Kamu gak pernah peluk aku kecuali aku yang mulai.”
Suara Rena bergetar.
“Aku tuh kadang mikir… kamu beneran sayang gak sih sama aku?”
Dito menatap air danau yang bergoyang pelan. Rena berdiri.
“Aku capek selalu jadi yang ngejar perasaanmu, Dit.”
Dito ikut berdiri. “Ren—”
“Kalau kamu emang gak sayang, bilang aja. Jangan gantungin aku.”
Hening. Detik terasa panjang. Rena memeluk dirinya sendiri menahan air mata.
Dalam hati ia berkata: Mungkin aku terlalu lebay.
Mungkin aku yang terlalu butuh perhatian. Atau mungkin… dia memang nggak cinta.
Tiba-tiba tangan Dito meraih pergelangan tangannya. Bukan lembut. Tapi hangat dan kuat.
“Lihat aku,” katanya pelan.
Rena menoleh. Untuk pertama kalinya, ekspresi Dito serius dan penuh emosi.
“Kamu tau kenapa aku jarang ngomong perasaan?”
Rena menggeleng.
“Karena aku takut salah. Takut gak cukup buat kamu.”
Rena terdiam.
“Aku dibesarkan di keluarga yang jarang peluk, jarang bilang sayang. Tapi bukan berarti aku gak ngerasa.”
Dito menggenggam tangan Rena erat.
“Setiap kamu jalan di samping aku, aku ngerasa tenang. Setiap kamu chat, aku senyum sendiri. Setiap kamu gak ada, hari terasa kosong”.
Mata Rena mulai basah.
“Terus kenapa kamu gak pernah nunjukin?”
Dito menarik napas panjang.
“Karena aku pikir… selama aku selalu ada buat kamu, itu udah cukup.”
Rena terisak kecil.
“Aku bukan butuh yang mewah, Dit. Aku cuma pengen ngerasa dicintai.”
Dito menatapnya lama, lalu perlahan membuka jaketnya sedikit dan menarik Rena ke dalam pelukannya. Pelukan pertama yang Dito mulai sendiri. Tubuh Rena kaku sesaat — lalu meleleh.
“Aku sayang kamu, Rena,” bisiknya di rambutnya,
“Aku cuma bodoh cara nunjukinnya.”
Air mata Rena jatuh di jaketnya.
“Kamu jahat tau bikin aku mikir macem-macem…”
“Maaf,” kata Dito lembut. “Aku belajar ya.”
Rena mengangguk sambil memeluk lebih erat.
Sejak saat itu, Dito memang masih bukan cowok paling romantis di dunia.
Tapi kini, Ia menggenggam tangan Rena tanpa diminta. Ia memeluknya saat Rena terlihat lelah. Dan sesekali, dengan suara malu-malu: “Aku sayang kamu.”
Rena akhirnya paham. Ada cinta yang ribut dan penuh kata.
Ada juga cinta yang diam tapi dalam. Dan Dito… mencintai dengan cara yang tenang.
Sejak hari di taman itu, Rena merasa Dito sedikit berubah. Tidak drastis. Tidak tiba-tiba jadi cowok super romantis yang tiap lima menit bilang sayang. Tapi berubah dengan cara yang… bikin jantung Rena sering salah tingkah.
Pagi itu mereka berjalan ke sekolah seperti biasa. Udara masih sejuk, jalanan sepi. Rena sengaja berjalan setengah langkah di belakang, penasaran. Biasanya Dito akan terus jalan tanpa sadar. Tapi hari ini…Dito berhenti. Ia menoleh.
“Kenapa jalannya pelan?”
“Capek,” Rena bohong sambil manyun kecil.
Dito menghela napas pelan, lalu tanpa banyak bicara—
tangannya meraih tangan Rena.
Bukan ragu-ragu. Bukan karena diminta. Rena langsung membeku.
“Kamu… megang tanganku duluan?” bisiknya.
Dito agak salah tingkah.
“Iya… emang kenapa?”
Rena senyum lebar banget sampai pipinya pegal.
“Enggak apa-apa. Cuma… senang.”
Dito tersenyum tipis, tapi telinganya merah.
Namun… overthinking itu memang bandel. Beberapa hari kemudian, Dito sibuk banget. Balas chat lama.
Jarang nelpon. Rena mulai mikir lagi.
“Dia bosen gak sih? Dia cuma berubah bentar doang ya?
Jangan-jangan dia cuma kasihan waktu aku nangis…”
Sore itu Rena sengaja diam. Biasanya dia yang cerewet.
Biasanya dia yang cerita. Sekarang ia cuma berjalan sambil menunduk. Dito memperhatikan dari samping.
“Kamu kenapa?”
“Gapapa.”
“Kamu bohong.”
Rena berhenti.
“Dit… kamu berubah cuma karena aku nangis waktu itu ya?”
Dito kaget. “Maksud kamu?”
“Kamu pegang tanganku, kamu bilang sayang… itu karena kasihan kan? Bukan karena kamu mau.”
Dito terdiam lama. Rena mulai menahan air mata.
“Ternyata aku tetap lebay ya…”
Tiba-tiba Dito memegang bahunya.
“Rena.”
Nada suaranya tegas tapi lembut.
“Aku berubah bukan karena kasihan.”
“Terus kenapa?”
“Karena aku takut kehilangan kamu.”
Rena menatapnya.
“Aku sadar… selama ini aku mikir cinta cukup dipendam. Ternyata kamu hampir pergi.” Dito menarik napas panjang. “Aku gak mau kamu ngerasa sendirian lagi.”
Air mata Rena jatuh.
“Kamu beneran sayang aku?”
Dito mengangguk.
Lalu — untuk kedua kalinya dalam hidupnya —
ia memeluk Rena duluan. Pelukan kali ini lebih erat. Lebih lama.
“Kalau aku gak sayang, aku gak bakal belajar berubah,” bisiknya.
Rena terisak sambil ketawa kecil.
“Kamu tau gak… aku tuh cuma pengen bukti kecil.”
“Sekarang aku tau,” jawabnya pelan. “Dan aku bakal usahain.”
Sejak hari itu, hubungan mereka nggak sempurna. Rena masih overthinking kadang. Dito masih cuek sesekali. Tapi sekarang setiap ada jarak, mereka ngomong.
Dan setiap Rena mulai ragu, Dito akan menggenggam tangannya, mengusap kepalanya, atau berbisik pelan: “Aku sayang kamu.”
Cuma dua kata.Tapi cukup bikin hati Rena tenang. Karena cinta bukan soal siapa paling romantis.Tapi siapa yang mau belajar demi satu sama lain.

Komentar
Posting Komentar