Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)
Dery selalu jadi sasaran empuk di sekolah. Kacamata tebal, rambut berantakan, baju kedodoran. Teman-teman menertawakannya hampir setiap hari. Ia hanya ingin lulus, pulang, hidup tenang.
Di rumah, suasana tidak jauh lebih baik. Ayahnya sibuk bekerja, sering ke luar kota, pulang hanya beberapa hari dalam sebulan. Ibunya juga tenggelam dalam urusan sendiri, jarang memperhatikan Dery. Sarapan pun jarang diperhatikan; Dery sering menyiapkan sendiri makanannya.
Meski begitu, Dery berusaha sabar. Ia belajar sendiri, merapikan kamar seadanya, menyiapkan makan sendiri ketika bisa. Rasa kesepian menjadi teman sehari-hari, namun ia masih menyimpan sedikit harapan: suatu hari, hidupnya akan berubah.
Pada hari terakhir sebelum pertukaran jiwa terjadi, beban hidup Dery mencapai titik puncak. Ia pulang sekolah dengan seragam kotor, setelah lagi-lagi dijadikan bahan olok-olokan dan terjadi dorongan kasar oleh teman-temannya. Tidak ada yang membela. Tidak ada yang peduli.
Saat itu hujan turun deras. Langit gelap, seolah ikut merasakan hatinya. Dery berjalan menuju jembatan dekat pelabuhan, tempat ia biasa melewati jalan pintas untuk pulang. Air sungai di bawahnya mengalir deras.
Di sana, ia bertemu dengan satu-satunya hal yang membuat hidupnya terasa sedikit berarti: seekor kucing jalanan yang sering ia beri makanan. Kucing itu terjebak di tengah hujan, lemah dan menggigil. Tanpa pikir panjang, Dery merunduk dan menggendongnya, melindunginya dari hujan.
Saat ia melangkah mundur, papan kayu jembatan yang licin dan rapuh tiba-tiba patah. Dery kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke air deras. Dan tepat ketika tubuhnya terseret arus, sesuatu terjadi: pandangannya gelap, tapi ia mendengar suara, suara yang bukan miliknya. “Kau memiliki hati yang kuat. Tapi dunia tidak pernah melihatnya.”
Itu suara Adrian. Pemimpin mafia yang, pada saat yang sama, sedang terbaring sekarat akibat pengkhianatan dalam pertempuran sengit di dunia lain. Dua jiwa, pada saat yang sama, berada di ambang kematian.
Dua takdir terbuka. Ruh Adrian keluar dari tubuhnya untuk mencari tempat baru. Ia menemukan Dery—jiwa tulus, penuh luka, tapi tidak pernah menyerah. “Aku butuh tubuh yang kuat untuk bertahan. Kau butuh kekuatan untuk hidup. Mari kita bertukar.”
Gelap seketika ketika Dery membuka mata, ia sudah berada dalam tubuh Adrian. Pertukaran itu bukan kutukan, bukan kebetulan. Itu adalah pertemuan dua jiwa yang sama-sama sedang berjuang untuk tetap hidup.
Dery menatap cermin besar. Wajahnya bukan wajah biasa lagi. Rahang tegas, mata biru tajam, tatapan dingin namun penuh kendali. Jantungnya berdebar.
Pintu terbuka. Seorang pria berjas hitam masuk dan menunduk hormat. “Mr. Blackwood, Anda sudah sadar. Semua tim menunggu keputusan Anda.”
Dery membeku. Nama itu asing, tapi sesuatu dalam dirinya—ingatan dan kemampuan Adrian Blackwood—mengalir ke kepalanya. Adrian adalah pemimpin mafia internasional yang jenius, berani, dan ditakuti. Tidak pernah kalah.
Dua jiwa beradu di kepalanya: Dery yang canggung dan lemah, Adrian yang dominan dan berbahaya. Dery menghela napas. ‘Bisakah aku hidup sebagai dia?’ pikirnya.
Hidup yang dulu sunyi dan lemah kini diganti dunia brutal penuh intrik dan bahaya. Tapi untuk pertama kalinya, tidak ada yang menertawakannya. Semua menunduk padanya. Dery menarik napas panjang. Suara yang keluar terdengar lebih dalam, lebih kuat. “Take me to the meeting.” Para anak buah saling berpandangan. “As you wish, sir.”
Dery melangkah maju. Untuk pertama kalinya, ia bukan lagi pemuda culun yang selalu diabaikan. Ia adalah seseorang yang dunia harus takuti.
Dery duduk di ruang kantor Adrian, memandang layar penuh dokumen, grafik, dan peta. Tubuhnya terasa kuat, refleksnya cepat, tapi pikirannya masih Dery. Ia harus belajar mengendalikan tangan yang dulu lemah dan kaki yang kini bisa bergerak secepat kilat.
Seorang anak buah masuk membawa laporan. “Sir, ada tim yang menunggu instruksi untuk ekspansi baru.” Dery menatap peta. Koordinat, strategi, risiko—semua bergerak cepat di kepalanya. Naluri Adrian memuncak, tapi Dery masih ragu.
Ia menghela napas. “Baik, jalankan rencana A. Minimal kerugian, maksimal kontrol.” Suaranya terdengar dingin, tegas. Anak buah mengangguk hormat, mencatat perintah. Dery terkejut: kata-katanya memiliki bobot, dihormati, bahkan ditakuti.
Di luar, bayangan kota malam bergerak cepat. Dery berjalan mengitari gedung, mencoba merasakan tubuh baru sepenuhnya. Lengan yang dulu lemah kini bisa merobohkan lawan dengan mudah. Mata birunya menangkap gerakan kecil di kejauhan, insting Adrian mengalir di dirinya.
Namun di dalam hati, Dery merasa asing. Ia bukan Adrian. Ia masih Dery: canggung, takut salah langkah, rindu hari-hari sunyi yang sederhana. Dua identitas bertabrakan. Sisi lembutnya ingin kembali ke kehidupan lama, tapi tubuh baru menuntut keberanian, dominasi, dan keputusan cepat.
Dery menunduk, menarik napas panjang. ‘Aku harus belajar cepat. Aku tidak bisa gagal’. Di kepala, suara Adrian seakan memberi saran: gunakan kemampuanmu, tapi tetap kontrol dirimu sendiri.
Malam itu, Dery berlatih gerakan, membaca dokumen, menghafal rute kota. Setiap detik, ia mencoba menyatukan dirinya dengan Adrian. Tubuh yang hebat, otak yang cerdas, naluri yang tajam—semua harus ia kuasai sebelum tantangan nyata datang. Dan Dery tahu, tantangan itu akan segera hadir. Musuh, pengkhianatan, dan pertarungan nyata menunggu. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa siap—sedikit cemas, tapi berani.
Beberapa hari setelah berlatih, Dery mendapat laporan: sekelompok kriminal lokal mencoba merebut wilayah Adrian di pelabuhan. Anak buah menunggu keputusan. Dery menatap peta. Koordinat musuh, posisi anak buahnya, potensi jebakan—semua bergerak cepat di kepala. Jantungnya berdetak, tapi tubuh Adrian bergerak seolah otomatis.
Malam itu, Dery dan tiga anak buahnya menyusuri pelabuhan yang basah oleh hujan. Lampu jalan memantul di genangan air. Bayangan muncul dari sisi dermaga: musuh dengan pisau dan tongkat besi.
Dery menahan napas. Naluri Adrian mengambil alih. Ia melangkah maju, gerakannya cepat, presisi, hampir seperti tarian. Tendangan, tangkisan, dorongan—setiap gerakannya menghentikan serangan lawan. Anak buah mengikuti, terkagum melihat kemampuan “bos” mereka.
Seorang musuh mendekat dari belakang. Dery memutar badan, menendang, dan lawan terlempar ke genangan air. Ia merasakan adrenalin—ketakutan dan keberanian bercampur, aneh tapi memacu energi.
Pertarungan berakhir dalam beberapa menit. Musuh lari, beberapa terkapar. Dery berdiri di tengah pelabuhan, napas terengah, basah kuyup. Tubuh Adrian sudah membimbingnya, tapi pikirannya Dery.
Ia tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kekuatan sejati: keberanian, kontrol, dan rasa hormat dari orang lain. Dunia yang dulu menertawakan Dery kini tunduk.
Tapi ia juga sadar, ini baru permulaan. Musuh yang lebih kuat, pengkhianatan, dan konflik internal menunggu. Dan Dery tahu, ia harus belajar cepat untuk bertahan.
Beberapa hari setelah pertarungan pertama, laporan baru datang: musuh merencanakan jebakan maut untuk merebut kembali wilayah Adrian. Anak buah cemas, tapi menunggu keputusan Dery.
Dery menatap peta pelabuhan. Ia melihat pola pergerakan musuh: beberapa pintu masuk dijaga, beberapa jalur tampak aman tapi jebakan tersembunyi di bawah papan kayu yang rapuh. Rencana musuh licik, terstruktur, dan mematikan.
Di malam gelap, Dery memimpin patroli. Hujan rintik membuat permukaan dermaga licin, cahaya lampu remang. Setiap langkah harus diperhitungkan. Dery mengarahkan anak buah melalui jalur aman, sementara matanya menelusuri setiap bayangan.
Tiba-tiba, papan kayu di bawah kaki salah satu anak buah patah. Ia hampir jatuh ke air, tapi Dery sigap menariknya. Itu jebakan pertama—musuh ingin korban jatuh atau terluka.
Dery melangkah lebih cepat, refleks Adrian mengalir. Ia menendang tongkat kayu yang mencoba menjebak pintu masuk, menangkis serangan dari sisi gelap dermaga. Anak buah mengikuti, terkagum melihat ketenangan dan kecerdikannya.
Musuh muncul dari sisi lain, bersenjata lebih lengkap. Tapi Dery sudah mengantisipasi. Ia memerintahkan anak buah untuk berpencar, membuat jebakan balik: tongkat dan ember berisi air tumpah, kabel yang menghalangi gerak lawan. Pertarungan sengit berlangsung, penuh strategi dan ketepatan.
Akhirnya, musuh terpojok, sebagian melarikan diri, sebagian terjebak sendiri. Dery berdiri di tengah dermaga basah, napas terengah, menatap anak buahnya. Ia tersenyum tipis. Kekuatan, strategi, dan keberanian Adrian kini sepenuhnya berpadu dengan pikirannya sendiri.
Namun di kepala Dery, satu hal tetap jelas: musuh yang lebih berbahaya dan intrik yang lebih besar masih menunggu. Dan untuk bertahan, ia harus belajar lebih cepat, berpikir lebih licik, dan menguasai semua sisi tubuh Adrian.
Seminggu setelah jebakan pertama, musuh Adrian melancarkan serangan besar: jebakan maut yang lebih berbahaya. Kali ini mereka memblokir semua pintu masuk dermaga, menabur ranjau jebakan, kabel listrik, dan kayu rapuh yang bisa runtuh kapan saja.
Dery menatap peta. Setiap jalur memiliki risiko tinggi. Ia tahu jika salah langkah, anak buahnya bisa tewas. Napasnya tertahan, tapi tubuh Adrian mengambil alih. Keputusan harus cepat, akurat, dan brutal.
Malam itu, Dery memimpin tim melalui jalur tersembunyi. Lampu redup, hujan deras, suara ombak menambah ketegangan. Satu langkah salah, papan bisa runtuh, kabel listrik menyambar, atau musuh muncul tiba-tiba dari kegelapan.
Tiba-tiba, sebuah jebakan terpicu: papan kayu runtuh, menimpa salah satu anak buah. Dery melompat, menariknya tepat waktu. Refleks Adrian menyelamatkan nyawa, tapi ketegangan meningkat. Musuh mulai menyerang dari dua sisi.
Dery menahan napas, menghitung setiap gerakan. Ia menggunakan strategi Adrian: memancing musuh ke jalur sempit, menutup pintu jebakan, memutar arah lawan, dan memanfaatkan lingkungan untuk menaklukkan mereka.
Serangan sengit berlangsung. Anak buah terlatih, tapi hanya ketenangan Dery yang membuat mereka bisa mengalahkan musuh satu per satu. Beberapa musuh jatuh ke jebakan sendiri, beberapa melarikan diri, sebagian berhasil ditaklukkan.
Ketika semua musuh terpojok, Dery berdiri di tengah dermaga basah, napas terengah, tubuh basah kuyup. Ia tersenyum tipis. Kebrutalan, kecerdikan, dan keberanian Adrian kini sepenuhnya berpadu dengan dirinya sendiri.
Dery menyadari satu hal penting: hidup yang dulu ia anggap lemah kini penuh kendali. Ia bisa melindungi orang-orang yang peduli padanya, membuat keputusan yang menentukan nasib banyak orang, dan menjadi pribadi yang dihormati sekaligus ditakuti.
Tetapi di hatinya, satu pesan tetap jelas: musuh yang lebih kuat, intrik yang lebih rumit, dan rahasia masa lalu Adrian masih menunggu untuk dipecahkan. Tantangan terakhir akan menentukan segalanya.
Suatu malam, setelah pertarungan besar dan perebutan wilayah terakhir selesai, Dery berdiri sendirian di pelabuhan. Angin malam meniup rambutnya, ombak memecah pelan. Dalam ketenangan itu, suara dalam kepalanya terdengar—suara Adrian. “Kau sudah belajar. Kekuatan bukan hanya otot. Keberanian bukan hanya nekat. Aku sudah lihat siapa dirimu sebenarnya.”
Dery terhenyak. “Adrian… kamu sadar?” “Selama ini aku tidak hilang. Aku memperhatikan. Kau membawaku dengan benar. Dan sekarang waktunya kau kembali pada hidupmu sendiri.”
Dery menunduk. Dalam tubuh ini, ia menemukan kekuatan, kepercayaan diri, keberanian yang dulu tidak pernah ia punya. Tapi ia juga tahu… tubuh ini bukan miliknya. “Kalau aku kembali, apa aku masih ingat semua ini?” “Kau tidak akan lupa. Semua pengalaman ini jadi bagian dari dirimu. Tapi tubuhmu—jiwamu—punya rumah sendiri.”
Cahaya lembut mengelilingi dirinya. Tubuhnya terasa ringan, langkah-langkah seakan menjauh dari pelabuhan, menjauh dari gedung mewah, dari senjata, dari dunia gelap itu. Sampai akhirnya ia membuka mata…Ia kembali di kamarnya.
Kacamata terletak di meja. Poster usang masih tergantung. Tubuh lamanya kembali, lebih kecil, kurus—tapi ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tak lagi kosong. Kepalanya tak lagi menunduk. Ia membawa keberanian Adrian bersamanya.
Beberapa hari kemudian, keluarga mulai menyadari perubahan besar pada Dery. Caranya berjalan, bicara, menatap, semuanya berbeda. Ibunya menatapnya penuh bingung dan kagum. “Kamu terlihat… lebih kuat sekarang.”
Ayahnya yang baru pulang juga memperhatikan perubahan itu, diam beberapa saat, lalu duduk dekat Dery. “Ayah… selama ini Ayah terlalu sibuk ya?” suara Dery lembut tapi tegas. Ayah terdiam lama, matanya berkaca. “Iya. Ayah salah. Ayah tidak tahu kamu terluka selama ini”. Ibunya mulai menangis.
Dery menepuk tangan ibunya pelan—gerakan sederhana, tapi penuh keyakinan. “Aku dulu takut semua hal. Tapi sekarang aku nggak sendiri lagi. Aku mau kita sama-sama berubah.”
Keluarganya memeluknya. Hangat. Asli. Tidak seperti dulu yang jauh dan dingin. Di sekolah, ia berjalan melewati para pembully. Mereka terdiam, tertegun melihat keberanian yang kini terpancar jelas.
Namun Dery tidak membalas dendam. Ia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkah. Karena ia sudah menang. Ia menemukan dirinya dan menemukan tempatnya. Ia akhirnya dicintai dan dihargai.
---Tamat---

Komentar
Posting Komentar