Ketika Takdir Mengetuk Pintu (written by Henny)

 

Rania menatap layar ponselnya dengan hati berdebar. Notifikasi dari ustazahnya baru saja muncul.

“Rania, ada ikhwan yang ingin mengenalmu melalui ta’aruf. Apakah kamu siap?”

Pesan singkat itu membuatnya terdiam lama. Rania bukan gadis yang suka berpacaran. Sejak lama ia memutuskan menjaga hatinya sampai Allah mengirimkan seseorang melalui jalan halal.

 Ia menarik napas dalam, lalu membalas pelan, “InsyaAllah, Ustazah. Saya siap.”

Tak lama kemudian, ustazah mempertemukannya dengan seorang ikhwan bernama Fajar. Prosesnya sederhana—ada wali, ada saksi, dan mereka duduk berhadapan dengan rasa canggung.

“Assalamu’alaikum,” sapa Fajar dengan suara mantap.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Rania, menunduk sopan.

Rania tak sengaja menjatuhkan pena. Fajar cepat-cepat mengambilnya. “Ini jatuh,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Jantung Rania berdesir. Ia gugup, kata-katanya sering tersandung. Fajar tersenyum menenangkan.

“Santai saja, Rania. Tidak perlu tegang.”

Hati Rania bergetar. Pertemuan singkat itu cukup untuk menyalakan tanya dalam dirinya: benarkah ini calon yang Allah pilihkan? Hari-hari berikutnya, proses ta’aruf berjalan. Mereka saling mengenal secukupnya melalui perantara. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan: tentang visi hidup, cita-cita, hingga pandangan mereka tentang pernikahan.

“Kalau nanti istrimu sakit, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Rania, menitipkan pertanyaan lewat ustazah.

“Saya akan merawatnya,” jawab Fajar tegas. “Menikah itu bukan hanya tentang senang, tapi juga bertahan dalam susah.”

Jawaban itu membuat hati Rania hangat. Ia diam-diam mengagumi keteguhan laki-laki itu. Namun, konflik muncul ketika keluarga besar mulai ikut campur.

“Rania, kamu bisa dapat yang lebih mapan. Masa calon suamimu hanya pegawai biasa?” ucap salah satu pamannya.

Rania menunduk. Hatinya gundah, tapi ia yakin rezeki datang dari Allah, bukan semata dari pekerjaan.

Konflik semakin besar ketika ibunya mulai ragu.

“Nak, Ibu cuma takut kamu nanti hidup susah. Menikah itu panjang. Ibu ingin kamu bahagia.”

Rania menggenggam tangan ibunya. “Bu, bukankah bahagia itu Allah yang kasih? Kalau Rania merasa Fajar baik agamanya, kenapa harus ragu hanya karena hartanya?”

Ibunya terdiam. Ia tahu anaknya benar, meski sebagai ibu sulit melepaskan kekhawatiran. Di sisi lain, Fajar juga diuji. Kantornya mengalami pemotongan karyawan. Ia tidak kehilangan pekerjaan, tapi kenaikan gajinya ditunda. Biaya persiapan pernikahan menumpuk. Malam-malamnya penuh perhitungan dan doa.

“Ya Allah, cukupkan kami dengan rezeki yang Engkau berkahi. Jadikan Rania pendamping yang sabar untukku.”

Meski demikian, ia tidak menyerah. Ia berusaha mencari tambahan rezeki halal dengan berjualan kecil-kecilan, membantu tetangga, bahkan membuat kerajinan tangan.

Rania pun mendapat tekanan dari teman-temannya. “Kok kamu mau sama Fajar? Dia biasa saja, tidak kaya atau ganteng.” Kata-kata itu menusuk, namun Rania hanya tersenyum. Ia belajar meneguhkan hati, sadar bahwa pilihannya bukan untuk disetujui semua orang, tapi untuk diberkahi Allah.

Suatu sore, Fajar datang membawa bunga sederhana. “Aku tahu aku belum sempurna. Kalau kamu mau mundur, aku bisa mengerti. Tapi hatiku untukmu tidak akan berubah.”

Rania menahan haru. “Aku percaya padamu, Fajar. Kita buktikan bahwa cinta yang halal bisa kuat menghadapi rintangan. Aku tidak butuh laki-laki kaya. Aku butuh suami yang bertanggung jawab.”

 Fajar menghela napas lega. “InsyaAllah, tidak ada yang bisa memisahkan kita kalau kita bersama dalam doa dan usaha.”

Hari-hari penuh doa terus dijalani. Rania berusaha meyakinkan keluarganya dengan sabar, meski gosip terus beredar. Kadang ia menangis sendirian di kamar, berbisik pelan, “Ya Allah, kuatkan hatiku. Jangan biarkan aku salah langkah.”

Fajar juga berjuang menunjukkan kesungguhannya. Ia mendatangi ayah Rania dengan penuh hormat.

“Pak, saya mungkin tidak punya harta banyak. Tapi saya punya tekad untuk membahagiakan Rania. Izinkan saya membuktikan, rezeki Allah selalu cukup bagi hamba yang berusaha.”

Ayah Rania menatapnya lama. Dalam hatinya, ia bisa melihat ketulusan itu. Setelah banyak doa, pertimbangan, dan percakapan menegangkan, restu itu akhirnya datang. Ibunya yang tadinya ragu pun luluh.

“Kalau itu pilihanmu, Nak, Ibu akan mendukung. Semoga Allah berkahi langkahmu.”

Air mata menetes di pipi Rania. Ia tahu perjuangan mereka tidak sia-sia.

Hari akad pun tiba. Rania berdiri di depan cermin, mengenakan baju pengantin sederhana tapi anggun. Jantungnya berdebar kencang. Di sisi lain, Fajar juga bersiap. Tangannya gemetar, hatinya berdoa, “Ya Allah, kuatkan aku untuk menjaga Rania seumur hidupku.”

Mereka duduk berhadapan, ditemani orang tua. Suasana hening sejenak.

“Fajar,” tanya ayah Rania, “apakah kamu siap menikahi Rania, menjaga, dan membahagiakannya sesuai kemampuanmu?”

“InsyaAllah, Pak. Saya siap,” jawab Fajar dengan suara mantap, menahan haru.

Air mata bahagia mengalir. Akad berlangsung khidmat. Suara “sah” pun terdengar, dan seluruh ruangan dipenuhi rasa haru. Rania menunduk, menahan tangis bahagia. Suara itu seolah membuka pintu surga bagi hatinya.

Setelah akad, ia berbisik dalam hati, “Inilah jalan halal yang kupilih. Inilah jawaban dari doa-doaku. Ketika takdir mengetuk pintu, aku membuka dengan sepenuh keyakinan.”

Fajar menggenggam tangan istrinya dengan senyum penuh syukur. Mereka tahu, perjalanan baru saja dimulai. Bukan berarti tanpa ujian, tapi bersama, mereka siap menghadapi.


Pesan Moral:

Ta’aruf mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar rasa, melainkan pilihan yang disertai tanggung jawab. Ketika takdir datang mengetuk, kita hanya perlu membuka pintu dengan iman, sabar, dan keyakinan pada Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)