Hati yang Tersesat

 

Maya sudah empat tahun bersama Andre. Jika ditanya hubungan apa yang mereka miliki, Maya sendiri tak pernah benar-benar bisa menjawabnya. Mereka bukan sepasang kekasih, tapi juga bukan sekadar teman biasa. Mereka saling berbagi cerita, tertawa bersama, bahkan saling menguatkan di saat terberat.

Bagi Maya, itu sudah cukup.

Andre adalah lelaki yang membuatnya merasa aman dan berarti. Setiap pesan Andre selalu dinantinya, setiap cerita Andre selalu didengarnya dengan penuh perhatian. Ia tak pernah menuntut status, tak pernah memaksa Andre memberi kejelasan. Dalam hatinya, Maya selalu percaya, suatu hari Andre akan menyadari bahwa perempuan yang selalu ada untuknya adalah dirinya.

Di awal pertemanan mereka, Andre hanyalah seorang laki-laki penuh amarah. Ia sering bercerita tentang keluarganya yang retak, tentang ayah yang pergi, dan tentang ibunya yang memutuskan berpisah. Keputusan itu membuat Andre terluka dan menyimpan kebencian yang dalam.

“Aku benci semua cewek, May,” katanya suatu malam dengan suara bergetar. “Mereka selalu pergi. Selalu ninggalin.”

Maya hanya tersenyum lembut.

“Tidak semua cewek begitu, Andre. Ibumu berjuang demi kamu, bukan ninggalin kamu.”

Sejak saat itu, Maya menjadi tempat Andre bersandar. Ia mendengarkan amarahnya, menenangkan hatinya, dan perlahan membantu Andre memandang hidup dengan lebih tenang. Sedikit demi sedikit, luka di hati Andre mulai sembuh.

Waktu berlalu.

Andre mulai sering bercerita tentang ibunya yang kini bekerja keras demi mencukupi kebutuhan hidup. Tentang bagaimana ia mulai menyadari betapa besar pengorbanan perempuan itu.

“May, aku baru sadar… ibu ternyata kuat banget,” ucap Andre suatu hari.

Maya tersenyum bahagia.

“Aku tahu kamu anak baik, Andre. Kamu cuma butuh waktu buat mengerti.”

Dan pujian itu membuat Andre semakin lembut.

Namun Maya tak pernah tahu—atau mungkin pura-pura tak tahu—bahwa hatinya semakin terikat. Setiap tawa Andre adalah kebahagiaannya, setiap kesedihan Andre adalah lukanya juga.

Sampai suatu sore, semuanya berubah.

Andre duduk di hadapannya sambil membuka laptop. Tangannya gelisah, matanya tak berani menatap langsung.

“May… aku mau cerita sesuatu.”

Jantung Maya berdegup lebih cepat.

“Aku sudah punya pacar.”

Dunia Maya seakan berhenti berputar.

“Apa?” suaranya hampir tak terdengar. “Ba… bagaimana bisa? Selama ini kamu nggak pernah cerita soal cewek mana pun ke aku.”

Andre mengalihkan pandangan ke layar laptop.
“Namanya Winda. Temannya Sony, sahabat SMA-ku. Dia tinggal di Jember, tapi neneknya di sini. Waktu itu ketemu pas lagi main sama Sony.”

Maya menggenggam jemarinya kuat-kuat.

“Terus?”

“Kami chatting terus… minggu lalu jadian.”

Andre tersenyum, seolah itu kabar paling membahagiakan di dunia. Sementara Maya berjuang agar air matanya tak jatuh.

“Selamat ya,” katanya pelan. “Kamu sekarang bahagia… mungkin juga sudah nggak butuh aku lagi.”

Andre langsung menoleh.

“Jangan gitu, May. Kamu itu sahabat aku. Mana mungkin aku ninggalin kamu.”

Sahabat. Satu kata itu terasa seperti pisau. Maya hanya tersenyum tipis.
“Iya… aku cuma capek aja.”

Beberapa menit kemudian ia pamit pulang dengan alasan tak enak badan. Andre sempat menanyakan keadaannya, tapi tak pernah benar-benar menyadari betapa hancur hati Maya saat itu.

Dalam perjalanan pulang, air mata Maya jatuh tanpa bisa ditahan. Empat tahun. Empat tahun ia menunggu tanpa pernah diminta menunggu.

Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Andre masih sering menghubunginya, masih bercerita—kini tentang Winda. Tentang betapa manisnya, tentang betapa perhatiannya.

Dan setiap cerita itu menusuk hati Maya perlahan. Sampai suatu malam, Maya akhirnya menulis pesan panjang.

“Andre, terima kasih sudah membuat aku merasa berarti selama ini. Tapi sepertinya sekarang aku harus belajar pergi pelan-pelan. Bukan karena aku benci kamu, tapi karena aku terlalu sayang. Aku nggak sanggup jadi tempat pulangmu sementara kamu memilih orang lain untuk masa depanmu.”

Andre membalas hampir seketika.

“May, kamu kenapa ngomong gitu?”

Air mata Maya jatuh lagi.

“Karena aku mencintaimu, Andre. Sejak lama.”

Lama tak ada balasan.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Akhirnya pesan itu datang.

“May… aku nggak pernah sadar.”

Maya tersenyum pahit.

“Aku tahu. Dan itu bukan salahmu.”

Sejak malam itu, Maya benar-benar menjauh. Bukan karena Andre jahat. Bukan karena cintanya salah. Tapi karena hatinya tersesat terlalu lama pada seseorang yang tak pernah ditakdirkan untuk menetap. Dan meski perih, Maya belajar satu hal:

Kadang yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan…
melainkan berharap pada seseorang yang tak pernah berniat memiliki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)