Di Antara Ragu yang Akhirnya Pulang (written by Ary-sensei)
Nara selalu percaya bahwa pertemuan yang paling membekas adalah yang datang tanpa rencana. Seperti sore itu, ketika hujan turun terlalu cepat dan memaksanya berteduh di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Di sanalah ia bertemu Aksa—dengan kemeja biru pucat, buku di tangan kiri, dan tatapan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terjebak hujan.
“Kursinya kosong?” tanya Aksa sambil menunjuk kursi di depannya.
Nara mengangguk pelan. “Silakan”.
Percakapan mereka dimulai dari hal-hal sepele: hujan, kopi yang terlalu pahit, lalu berlanjut ke cerita hidup yang tak disangka-sangka terasa akrab. Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Tidak pernah ada janji resmi, hanya kebiasaan yang perlahan tumbuh—kopi sore, pesan singkat sebelum tidur, dan tawa kecil yang selalu terasa cukup.
Namun, di balik semua itu, Nara menyimpan ragu. Ia takut salah mengartikan perhatian Aksa. Takut semua ini hanya ramah yang kebetulan terasa hangat. Di sisi lain, Aksa pun memikul ketakutan yang sama. Ia pernah jatuh terlalu dalam sebelumnya, dan tak ingin mengulang luka yang sama.
“Kamu kenapa sering diem kalau lagi mikir?” tanya Nara suatu malam.
Aksa tersenyum tipis. “Takut pikiran ini terlalu jujur”.
Jawaban itu membuat Nara terdiam. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi keberanian itu selalu berhenti di ujung lidah.
Hari-hari berjalan, rasa tumbuh, tapi tak pernah diberi nama. Hingga suatu ketika, Nara mulai menjaga jarak. Bukan karena rasa itu hilang, justru karena terlalu dalam hingga menakutkan. Aksa merasakannya.
“Kamu berubah,” katanya saat mereka akhirnya duduk berhadapan lagi.
“Aku cuma capek,” jawab Nara singkat.
Padahal yang sebenarnya ingin ia katakan adalah: Aku takut jatuh sendirian.
Malam itu, mereka pulang dengan perasaan masing-masing yang tak tersampaikan. Pesan tak lagi rutin. Tawa menghilang. Dan jarak—yang tak pernah mereka sepakati—datang begitu saja.
Beberapa minggu kemudian, Aksa berdiri di depan kedai kopi yang sama. Ia menunggu, berharap pada kebiasaan lama. Dan seperti takdir yang akhirnya berpihak, Nara datang.
“Aksa?” suaranya ragu.
“Kita perlu bicara,” katanya tanpa basa-basi.
Mereka duduk di tempat yang sama seperti pertama kali bertemu. Hening terasa berat, hingga akhirnya Aksa menarik napas panjang.
“Aku takut kehilangan kamu tanpa pernah benar-benar mencoba,” ucapnya lirih. “Dan itu lebih menyakitkan daripada ditolak”.
Mata Nara berkaca-kaca. “Aku juga takut,” katanya jujur. “Tapi ternyata, menjauh darimu justru bikin aku kehilangan diriku sendiri.”
Aksa tersenyum, kali ini penuh keyakinan. “Jadi… perasaan kita sama?”
Nara mengangguk sambil tersenyum di antara air mata. “Sejak awal.”
Aksa menggenggam tangan Nara, “Jangan menjauh dariku lagi. Rasanya sakit, perih gak ada kamu”.
Nara memandangnya seakan tak percaya semua ini terjadi. Mimpi yang jadi nyata yang membuat jantungnya lupa cara berdetak normal. Air mata itu akhirnya tumpah namun hati sungguh bahagia.
Tak ada pelukan dramatis. Tak ada janji berlebihan. Hanya dua hati yang akhirnya berhenti bersembunyi. Di luar, hujan turun lagi—sama seperti hari pertama—tapi kali ini terasa hangat. Karena ragu akhirnya menemukan rumahnya. Dan cinta, akhirnya pulang pada keyakinan.

Komentar
Posting Komentar