Yang Tak Pernah Aku Katakan (written by Ary-sensei)



 Aku masih ingat pertama kali melihat Ardan—di lorong kampus, saat ia menunduk sedikit sambil tersenyum ramah kepada seseorang. Senyum itu… entah kenapa, langsung masuk begitu saja ke hatiku. Sejak hari itu, namanya seperti menempel di pikiranku. Bukan karena ia sempurna, tapi karena setiap geraknya seperti punya ketenangan yang membuatku ingin berhenti sebentar dan memperhatikan.

Sayangnya, semesta tidak sedang berpihak padaku. Ardan sudah punya pacar. Bukan sembarang pacar—Rania, perempuan cantik dengan segala keanggunan yang membuatku tidak berani membandingkan diri sendiri. Mereka terlihat cocok. Mereka terlihat bahagia. Dan aku? Aku hanya penonton yang berusaha meredam perasaan sendiri.

Namun ada satu hal yang tidak kuketahui waktu itu: Ardan sering memperhatikanku juga.

Diam-diam.

Dari jauh.
“Aku juga suka kamu… dari dulu.”
Pelan-pelan. Tanpa terburu-buru. Dan aku? Aku menemaninya dari jarak yang sehat, memberi ruang, memberi waktu. Tidak ada hubungan instan setelah patah hati yang panjang. Tidak ada “kita” yang dibangun dari sisa-sisa luka.
“Aku masih takut.”
Tapi kali ini bukan karena luka.
“Tolong jangan pergi lagi.”
“Kalau kamu izinkan, aku mau tetap di sini. Sama kamu. Dari sekarang… dan seterusnya.”
Sesuatu yang sejak dulu… sudah saling menunggu.

Dari balik buku.

Dari sela aktivitas kampus.

Ia tidak pernah menunjukkan apapun, tapi di hatinya, ada ruang kecil yang ia biarkan terbuka untukku tanpa ia sadari.

 

Hubungan Ardan tidak seindah yang terlihat. Rania adalah pilihan keluarganya—bukan hatinya. Ia berusaha mencintai, tapi setiap kali mencoba, ada rasa hampa yang selalu muncul. Dan hampa itu menjadi semakin jelas setiap kali ia melihatku tersenyum pada orang lain.

Ia merasa bersalah.

Ia merasa salah.

Ia merasa terjebak.

Tapi ia tetap bertahan, karena ia tidak ingin menyakiti siapa pun. Lalu suatu malam, semua berubah.

Ardan menemukan bukti bahwa Rania berselingkuh. Tidak perlu dijelaskan panjang—tatapan Ardan yang kosong saat duduk sendirian di taman kampus sudah menunjukkan semuanya. Aku mendekatinya dengan langkah ragu.

“Ardan?” panggilku pelan.

Ia mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya, aku melihat air mata di mata seorang lelaki yang selalu terlihat kuat.

“Dia selingkuh…” suaranya pecah, seolah kata itu sulit keluar.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk di sampingnya. Aku ingin memeluknya, tapi aku takut menyakiti. Jadi aku hanya diam. Kadang, diam adalah pelukan paling lembut yang bisa diberikan seseorang.

 

Hari-hari berikutnya terasa aneh. Ardan mulai sering mencariku. Awalnya hanya ingin bercerita, lalu perlahan, ia mulai mencari keberadaanku tanpa alasan yang jelas. Ia duduk bersamaku di perpustakaan. Menemani makan malam. Bahkan menunggu aku selesai kelas, padahal jam kuliahnya berbeda.

Dan aku… perlahan tenggelam semakin dalam.

Aku tahu ia baru patah hati. Aku tahu ia butuh waktu. Dan aku tahu aku tidak boleh berharap. Tapi bagaimana caranya membunuh harapan ketika tatapan itu selalu mencari tatapanku?

Suatu malam, hujan turun deras. Ardan mengirim pesan:

“Kamu lagi di kos?”

“Aku di bawah. Boleh ketemu sebentar?”

Jantungku berdebar tidak karuan. Aku turun dengan payung, tapi ia berdiri di depan pintu gerbang kos sambil basah-basahan, seolah menungguku lebih dulu daripada menunggu hujan mereda.

“Kenapa kamu kehujanan?” tanyaku panik.

“Aku takut kamu tidur,” jawabnya pelan. “Tapi aku lebih takut kehilangan kesempatan ngomong ini.”

Aku terdiam. Hujan berisik, tapi dunia terasa sunyi.

“Aku suka kamu.”

Begitu saja. Tanpa jeda. Tanpa alasan. Dan tanpa aku sempat menyiapkan hati.

“Ardan…” suaraku bergetar, “kamu baru putus. Kamu lagi rapuh. Mungkin kamu cuma—”

“Aku suka kamu jauh sebelum aku putus.”

Kata-katanya seperti menarik nafasku keluar dari tubuh.

“Aku cuma takut,” lanjutnya, “takut menyakiti, takut memilih salah, takut menyesal… tapi setiap hari aku mencoba menjauh, rasanya malah makin sakit.”

Ardan mendekat setengah langkah, tetapi tetap memberi jarak yang sopan. Seolah ia tahu batas. Seolah ia menghargai lukaku sebelum menyentuh luka sendiri.

“Aku nggak akan maksa,” katanya lirih, “Aku cuma ingin kamu tahu.”

Hujan semakin deras. Dan entah kenapa, air hujannya terasa seperti ikut mengaduk perasaan.

“Iya,” jawabku akhirnya, hampir berbisik.

Ardan memejamkan mata sebentar, seperti menahan sesuatu—entah bahagia, entah lega—atau mungkin keduanya.

 

Beberapa minggu berlalu. Ardan mulai membangun hidup baru.

Hari demi hari berlalu sampai akhirnya Ardan mengajakku ke tempat yang dulu sering ia datangi saat hidup terasa berat—sebuah taman kecil di belakang kampus.

“Aku mau jujur,” katanya, menatap rumput basah.

Aku menelan ludah. “Takut apa?”

“Takut tidak bisa membahagiakan kamu.”

Kata itu… memecah sesuatu dalam diriku. Karena selama ini, akulah yang selalu merasa tidak cukup untuknya. Jadi aku mendekatinya selangkah. Lalu mengucapkan pelan:

“Ardan… kalau kita sama-sama takut, berarti kita sama-sama sayang.”

Ia mendongak, menatapku dengan mata yang memerah.

“Aku sayang kamu,” katanya, jujur. Lurus. Tanpa ragu sedikitpun.

Dan aku, untuk pertama kalinya, tidak menahan diri.

“Aku juga sayang kamu,” jawabku sambil tersenyum kecil.

Ardan mengulurkan tangan—pelan, penuh hati-hati.

Aku menggenggam tangannya. Dan malam itu, tanpa perlu ada pelukan atau ciuman, kami tahu:

Kami sedang memulai sesuatu yang selama ini hanya bisa kami diamkan. Sesuatu yang akhirnya menemukan waktunya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)