Memilihmu, Meski Dunia Tidak
Naya tidak pernah berani menatap Arka terlalu lama. Bukan karena takut. Tapi karena setiap kali mata mereka bertemu, jantungnya seperti lupa cara berdetak dengan normal. Ia menyukai Arka sejak hari pertama ospek—saat cowok itu berdiri di depan, menjelaskan sesuatu dengan tenang dan percaya diri. Semua orang melihat Arka sebagai sosok yang ideal. Pintar. Sopan. Anak baik-baik.
Dan Naya tahu satu hal tentang Arka yang tidak semua orang tahu: Ia adalah anak yang selalu menuruti orang tuanya. Itu yang membuat Naya tak pernah berani berharap terlalu jauh.
Awalnya, kedekatan mereka terjadi tanpa sengaja. Satu kelompok tugas. Satu diskusi panjang yang berubah menjadi obrolan tentang mimpi. Dari mimpi berubah menjadi cerita masa kecil. Dari cerita masa kecil berubah menjadi kebiasaan saling mencari.
Suatu malam, Arka berkata pelan,
“Kenapa ya… kalau sama kamu rasanya rumah?” Naya tersenyum, tapi tidak menjawab. Ia takut kalau itu hanya perasaan sepihak. Sampai akhirnya, Arka yang lebih dulu mengaku.
“Aku jatuh cinta sama kamu, Naya. Dan kali ini aku yakin.”
Hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupnya. Mereka resmi bersama. Dan cinta mereka tumbuh seperti hal-hal sederhana: pesan selamat pagi, doa sebelum tidur, saling menunggu di halte, tangan yang saling menggenggam saat hujan turun. Naya pikir, mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak perlu takut kehilangan.
Sampai suatu sore, Arka datang dengan wajah pucat.
“Ayahku sudah menentukan calon istriku.”
Kalimat itu jatuh seperti petir. Naya tidak langsung menangis. Ia hanya terdiam. Sunyi yang panjang menggantung di antara mereka.
“Sejak lama?” suaranya lirih.
“Sejak aku SMA. Anak rekan bisnis keluarga. Mereka baru serius sekarang.”
Naya tertawa kecil, tapi terdengar patah.
“Dan kamu?”
Arka tidak langsung menjawab. Itu yang paling menyakitkan.
Hari-hari berikutnya berubah. Arka menjadi lebih pendiam. Ia tetap datang, tetap menggenggam tangan Naya, tapi ada sesuatu yang terasa rapuh. Seolah-olah waktu mereka memiliki batas.
“Aku nggak mau kamu melawan keluargamu cuma karena aku,” kata Naya suatu malam. “Aku nggak mau kamu menyesal.”
Arka memeluknya lama. Terlalu lama.
“Aku cuma takut kehilangan semuanya sekaligus.”
Dan untuk pertama kalinya, Naya sadar: ia mungkin akan kalah dari sebuah kewajiban.
Beberapa minggu kemudian, Arka benar-benar diperkenalkan pada perempuan itu. Naya tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi kabarnya cukup untuk membuatnya sesak. Cantik. Sopan. Disukai keluarga. Naya mulai menjaga jarak.
Ia berhenti mengirim pesan lebih dulu. Berhenti menunggu terlalu lama. Berhenti berharap terlalu tinggi.
Sampai suatu malam, ia berkata dengan suara gemetar,
“Kalau kamu harus memilih mereka… aku bakal pergi tanpa bikin kamu merasa bersalah.”
Arka menatapnya. Lama. Dalam.
“Kamu pikir aku setega itu?”
Air mata Naya jatuh.
“Aku pikir kamu anak yang terlalu baik untuk mengecewakan orang tuamu.”
Dan benar. Arka anak yang baik.Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memilih menjadi lelaki yang berani.
Pertengkaran besar terjadi di rumahnya. Suara tinggi ayahnya terdengar hingga ke luar ruang tamu. Ibunya menangis. Nama Naya disebut sebagai penyebab.
“Aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak kucintai!” Arka berkata tegas. “Aku menghormati Ayah dan Ibu. Tapi ini hidupku.”
Butuh waktu berbulan-bulan. Hubungan Arka dan keluarganya sempat retak. Ia hampir kehilangan dukungan finansial. Hampir kehilangan tempat pulang. Dan di masa paling sulit itu, Naya sempat berkata,
“Kalau ini terlalu berat, lepaskan aku.”
Arka tersenyum lelah.
“Kalau aku lepaskan kamu, aku kehilangan alasan kenapa aku berani.”
Mereka bertahan.
Lima tahun bukan waktu yang singkat. Ada masa mereka hampir menyerah. Ada masa ketika Arka dan ayahnya tidak bicara setahun penuh. Ada masa ketika Naya merasa bersalah setiap kali melihat Arka bekerja keras sendirian. Tapi cinta mereka tidak lagi naif seperti dulu. Ia matang. Ia diuji. Ia diperjuangkan.
Dan perlahan… orang tua Arka melihat satu hal:
Naya tidak pernah menjauhkan Arka dari keluarga. Justru ia selalu mendorong Arka untuk kembali pulang.
Sampai suatu hari, ayah Arka datang menemui Naya.
“Aku salah menilai kamu,” katanya pelan. “Kalau kamu memang membuat anak saya sekuat ini… mungkin kamu memang pilihan yang tepat.”
Hari lamaran itu datang tanpa Naya duga. Arka mengajaknya ke aula kampus lama. Tempat pertama kali mereka bertemu. Di layar besar terpampang foto-foto perjalanan lima tahun mereka—bahkan foto saat mereka bertengkar dan tetap bertahan.
Di kursi barisan depan, duduk kedua orang tua Arka. Arka berlutut.
“Aku pernah hampir kehilanganmu karena aku takut,” suaranya bergetar. “Tapi kamu mengajarkanku bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling patuh… tapi siapa yang paling berani memilih.”
Ia mengeluarkan cincin.
“Lima tahun lalu aku memilihmu sebagai pacarku. Hari ini aku memilihmu sebagai rumahku. Menikahlah denganku, Naya.”
Naya menangis tanpa malu. Kali ini bukan karena takut ditinggalkan.
“Iya,” jawabnya.
Dan untuk pertama kalinya, seluruh ruangan bertepuk tangan untuk cinta yang tidak menyerah.
Karena kadang, cinta paling romantis bukan yang datang tanpa rintangan—melainkan yang tetap bertahan meski dunia tidak setuju.
Komentar
Posting Komentar