Saat Aku Menemukanmu (Part 2) (Written by Henny)

 

Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Alex datang setiap sore, kadang membawa roti, kadang hanya duduk sambil membaca komik. Kadang ia berceloteh tanpa arah, kadang diam saja memandangi jendela. Eza mulai bisa bicara, walau suaranya masih serak. “Kenapa kau mau menolongku?” tanyanya suatu sore. 

Alex terdiam lama. “Entahlah,” jawabnya pelan. “Mungkin karena aku juga dulu pernah diselamatkan. Dan mungkin… karena aku tahu rasanya sendirian.” 

“Siapa yang menyelamatkanmu?” 

“Seorang pelayan tua di rumah ayah angkatku. Waktu kecil, aku hampir mati kelaparan di jalan. Ia membawaku dan ayah angkatku, Tuan Robby, mengambilku karena katanya aku pintar. Tapi di rumah itu… semua terasa dingin. Orang-orang bicara dengan uang, bukan dengan hati.” 

Eza menunduk. “Aku mengerti.” 

Alex menatapnya. “Kau tahu, waktu aku melihatmu di kargo itu, aku merasa seperti melihat diriku sendiri. Bedanya, aku punya kesempatan hidup. Kau… hampir tidak.” 

 Mereka terdiam lama. Di luar, langit berwarna kelabu. Klinik kecil itu hanya punya satu jendela dan satu pintu, tapi bagi Eza, tempat itu seperti dunia baru yang tak pernah ia bayangkan: dunia di mana tidak semua orang berniat menyakiti. 

 

Beberapa hari kemudian, suster berkata Eza sudah cukup kuat untuk berjalan. Tapi ia tak punya tempat untuk pulang. “Aku tidak bisa kembali,” katanya lirih. “Kalau mereka tahu aku hidup, mereka akan mencari.” 

Alex memikirkan sesuatu. “Kalau begitu, kau tinggal saja di rumahku—sementara.” 

Eza menatapnya khawatir. “Ayahmu tidak akan marah?” 

Alex tertawa hambar. “Dia selalu marah. Jadi tidak masalah kalau dia marah lagi.” 

 Malam itu mereka menyelinap keluar dari klinik lewat pintu belakang. Udara dingin menggigit, tapi Eza tak mengeluh. Ia berjalan di samping Alex, langkahnya kecil dan hati-hati. Di depan rumah besar Wicaksono, lampu masih menyala. Alex menunjuk ke arah gudang tua di samping kebun. “Kau bisa tidur di sana. Setidaknya sampai aku menemukan cara yang lebih baik.” 

 Gudang itu berdebu tapi kering. Ada karung goni dan tumpukan kayu. Alex menaruh selimut di pojok ruangan. “Ini bukan tempat terbaik,” katanya pelan, “tapi di sini tak ada yang akan menyakitimu.” 

Eza duduk perlahan, menggenggam selimut itu seolah benda paling berharga di dunia. “Terima kasih, Alex.” 

Alex hanya mengangkat bahu. “Jangan terlalu cepat berterima kasih. Aku bisa berubah pikiran kapan saja.” Tapi di balik ucapannya, matanya hangat. 

 

Beberapa hari berlalu. Alex mulai diam-diam mencuri makanan dari dapur untuk Eza. Kadang ia ketahuan, kadang tidak. Setiap kali berhasil, mereka makan bersama di gudang, berbagi roti dengan tangan kotor tapi hati bersih. Kadang Eza tertawa kecil — suara yang pelan tapi jujur — dan Alex merasa aneh di dadanya, seolah rumah besar itu tidak lagi sekelam dulu. 

 Namun ketenangan itu tak lama. Suatu malam, langkah berat terdengar dari luar. Suara Tuan Robby menggema, dingin dan teratur. “Alex, aku tahu kau bersembunyi di sana.” Alex menegang. “Jangan keluar,” bisiknya pada Eza. “Apa pun yang terjadi, diam saja.” Tapi pintu gudang sudah terbuka. Cahaya lampu menyilaukan mata mereka berdua. 

 Tuan Robby berdiri di ambang, menatap tajam. “Jadi ini yang kau sembunyikan. Anak jalanan.” 

Alex berdiri di depan Eza, menutupi tubuhnya. “Dia bukan pencuri. Dia cuma butuh tempat berlindung.” 

“Tempatku bukan penampungan,” ujar Robby datar. “Kau tahu aturan rumah ini.” 

“Kalau begitu hukum aku, bukan dia!” bentak Alex. 

Robby tersenyum tipis. “Kau sudah seperti ayahmu dulu — keras kepala dan bodoh.” 

 Alex membeku. Kata-kata itu menancap seperti paku di dadanya. Ia tak pernah mendengar nama ayah kandungnya disebut. 

“Ayahku?” bisiknya. 

Robby menatapnya dingin. “Ya. Laki-laki yang kuberi pekerjaan dua belas tahun lalu. Ia mati karena menolak perintahku. Sekarang aku tahu kenapa, karena dia juga punya naluri bodoh untuk menolong yang lemah.” 

 Eza menatap Alex dengan mata lebar. Alex bergetar marah, tapi menahan diri. “Kalau begitu, aku bangga jadi sepertinya,” katanya perlahan. 

 Suasana membeku. Tuan Robby hanya menatap sejenak, lalu berbalik. “Besok pagi, anak itu harus pergi. Kalau tidak, aku yang akan mengusirnya sendiri.” 

 

Langkah berat itu menjauh. Keheningan kembali memenuhi gudang. Eza menatap Alex dengan wajah ketakutan. “Maaf… semua ini salahku.” 

Alex menggeleng. “Bukan. Dunia ini yang salah.” 

 Ia duduk di lantai, menarik napas panjang. Di luar, suara malam seperti berhenti. Lalu pelan, Eza berkata, “Kau tahu… waktu kau menemukanku, aku tidak ingin hidup lagi. Tapi ketika kau bicara padaku di kargo itu… aku merasa mungkin Tuhan belum selesai denganku.” 

Alex menatapnya, suaranya rendah. “Mungkin memang belum. Dan kalau dunia menolakmu, maka kita buat dunia kita sendiri.” 

 Mereka tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Hanya duduk bersebelahan, memandang tembok kusam yang diterangi lampu kecil, sementara di luar, angin malam mengusap daun-daun seolah berbisik lembut: dua anak yang hatinya terluka baru saja menemukan tempatnya di dunia. 

 

Beberapa tahun kemudian, di sebuah pelabuhan tua yang kini jarang disinggahi kapal, Alex menemukan sebuah amplop di antara buku log milik suster tua yang sudah lama wafat. Tulisan di depannya samar, seperti pernah disentuh hujan: “Untuk Alex, jika angin mengizinkan”. Ia duduk di bangku kayu, membacanya perlahan, dan dunia seakan berhenti sebentar. Kalimat demi kalimat dari Eza mengalir seperti napas yang pernah tertahan lama. 

Ketika selesai, Alex tak meneteskan air mata, hanya tersenyum — senyum yang rasanya bukan miliknya sendiri. Ia menatap laut yang bergulung tenang, lalu melipat surat itu dengan hati-hati, menyelipkannya di balik jaket. 

“Angin sudah sampai,” gumamnya pelan, seolah menjawab sesuatu yang tak terdengar. 

Di kejauhan, langit sore berubah warna; oranye tipis menembus awan kelabu, dan di antara riak ombak, seekor burung camar melintas perlahan. Dunia tetap sama kerasnya, tapi di dada Alex ada ruang kecil yang terasa hangat, seperti rumah yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. 

 

- TAMAT -


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)