Langit di Atas Menara (written by Henny)
Malam itu, festival sekolah berlangsung meriah. Cahaya lampion beterbangan di langit, musik dan tawa memenuhi halaman. Alya, siswi kelas XI, berdiri di dekat menara jam tua sekolah yang konon katanya menyimpan misteri.
“Kata orang, kalau ada
yang naik ke atas menara tepat saat festival, mereka bisa melihat bintang jatuh
yang cuma muncul sekali dalam seratus tahun,” gumam Alya pelan.
Ia sendiri tidak terlalu
percaya. Tapi entah kenapa, hatinya ingin mencoba. Saat hendak menapaki tangga
menara, suara seorang cowok membuatnya berhenti.
“Kamu juga dengar cerita
itu?”
Alya menoleh. Seorang
cowok dengan seragam rapi berdiri di sana, tersenyum samar. “Aku Reno,” katanya.
Mereka akhirnya naik
bersama. Tangga kayu berderit, angin malam menyelinap. Anehnya, setiap kali
Alya hampir kehilangan pijakan, Reno selalu sigap menangkap tangannya.
“Takut jatuh?” tanya Reno
sambil tersenyum.
Alya pura-pura tegar.
“Enggak... cuma kaget. Lagian kalau jatuh, kan ada kamu.”
Reno terdiam sebentar,
lalu terkekeh pelan.
Sampai di puncak menara,
pemandangan luar biasa menyambut mereka. Ratusan lampion melayang, seolah
bintang turun dari langit.
Alya terpana. “Indah
banget...”
Reno menatapnya lama,
seakan lupa dengan langit di atas. “Iya... indah.”
Alya baru sadar Reno tidak
sedang melihat langit, tapi dirinya. Wajahnya memanas. Ia buru-buru mengalihkan
pandangan.
Saat itulah, tiba-tiba
langit bergetar. Dari balik awan, muncul cahaya biru menyilaukan. Bintang jatuh
raksasa melesat, meninggalkan jejak cahaya yang membelah malam.
Alya ternganga.
“Jangan-jangan cerita itu beneran...”
Tapi anehnya, cahaya
bintang jatuh itu berhenti tepat di atas menara. Lalu, perlahan turun, berubah
menjadi butiran kecil seperti debu emas yang menyelimuti mereka berdua.
Alya bisa merasakan
jantungnya berdegup lebih cepat, bukan hanya karena keindahan itu, tapi juga
karena tangan Reno tiba-tiba menggenggam erat tangannya.
“Kalau legenda ini benar,”
bisik Reno, “bintang jatuh yang turun ke menara bakal mengikat dua orang yang
berdiri di bawahnya. Selamanya.”
Alya terdiam. Ia menatap
Reno, matanya berkilat di bawah sinar emas itu. “Jadi... kita sekarang
terikat?”
Reno tersenyum lembut.
“Kalau kamu nggak keberatan...”
Alya menunduk, wajahnya
merah, tapi genggamannya tak melemah.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar