Cinta Yang Tak Pernah Usai (written by Henny)

 



Malam itu, Bagas kembali merapikan selimut yang menutupi tubuh Andini. Tubuh yang dulu begitu lincah, kini hanya bisa terbaring lemah. Sudah hampir dua tahun sejak kecelakaan motor itu merenggut sebagian besar keceriaan hidup mereka. Andini, istrinya yang cantik dan penuh tawa, kini lumpuh dari pinggang ke bawah.

“Mas, nggak usah repot-repot. Aku masih bisa tarik selimut sendiri,” ucap Andini lirih. Bagas tersenyum tipis.

“Selimut segede gini aja bikin kamu susah napas. Udah, biar aku aja.”

Andini terdiam. Sejak kecelakaan itu, rasa bersalah terus menghantam hatinya. Malam itu mereka pulang dari menghadiri pernikahan teman kuliahnya. Andini yang saat itu duduk di belakang motor, tanpa sadar menjatuhkan tas kecilnya ke jalan. Ia panik, minta Bagas berhenti. Dan justru saat berhenti itulah sebuah mobil dari arah belakang menabrak mereka.

Bagas hanya luka ringan, tapi Andini mengalami patah tulang belakang yang membuatnya lumpuh permanen. Dunia mereka seakan runtuh sejak saat itu.

Padahal, sebelum kecelakaan, hidup mereka sederhana tapi bahagia. Pernikahan mereka dimulai dengan pesta kecil di halaman rumah orang tua Andini. Hanya ada tenda biru, kursi plastik, dan beberapa panci besar penuh sayur lodeh serta ayam goreng. Meski sederhana, tawa para tamu membuat suasana meriah.

Malam pertama setelah akad, Andini masih tersipu saat Bagas menggoda.

“Bu Andini, sekarang statusnya resmi istri orang. Gimana rasanya?”

Andini pura-pura manyun. “Biasa aja. Eh, tapi jangan senyum-senyum gitu, Mas. Malu ah.”

Bagas tertawa kecil, lalu menyentuh ujung kerudung istrinya. “Mulai sekarang, setiap senyummu jadi bagian dari ibadahku.”

Hari-hari pertama mereka dipenuhi kesederhanaan yang manis. Rumah kontrakan kecil dengan dinding cat mulai mengelupas jadi saksi. Mereka sering makan malam hanya dengan telur dadar dan sambal, tapi selalu ada canda.

“Mas, kalau aku goreng telur bentuk hati, rasanya jadi lebih enak nggak?” tanya Andini sambil tersenyum lebar.

“Enak banget. Soalnya ada bumbu cinta istri,” jawab Bagas pura-pura puitis.

Kadang listrik padam malam-malam, tapi mereka menyalakan lilin sambil bercerita tentang mimpi masa depan. Andini ingin punya anak perempuan bernama Zahra, atau laki-laki bernama Fikri. Bagas hanya tertawa, mengingatkan biaya sekolah yang bisa bikin mereka bangkrut, lalu keduanya terbahak.

Setahun pertama berjalan manis. Mereka berhasil menabung sedikit demi sedikit, bahkan sempat membeli motor bekas hasil kerja keras Bagas. Motor itu jadi saksi banyak momen: Andini dibonceng ke pasar sambil membawa belanjaan, jalan sore keliling kota, sampai nonton kembang api tahun baru di alun-alun.

Namun semua berubah malam itu. Mereka pulang dari resepsi pernikahan teman kuliah. Andini terlihat sangat ceria, bahkan sempat bercanda.

“Mas, kalau aku pakai kebaya gini cantik nggak?”

Bagas menoleh sekilas, tersenyum. “Cantik banget. Tapi hati-hati ya, cantikmu bikin aku deg-degan nyetir.”

Andini terkekeh, lalu memeluk pinggang suaminya lebih erat. Beberapa menit kemudian, tas kecilnya terjatuh. Panik, ia meminta Bagas berhenti. Saat motor menepi, suara klakson keras terdengar. Dalam sekejap, mobil menabrak mereka dari belakang. Tubuh Andini terlempar, dan sejak itu dunia mereka tak lagi sama.

Sejak lumpuh, Andini merasa dirinya hanyalah beban. Ia butuh bantuan untuk mandi, berpindah kursi roda, bahkan untuk hal-hal sepele seperti mengambil gelas. Sering kali Bagas terbangun di tengah malam karena mendengar isakan istrinya.

“Aku benci jadi kayak gini, Mas. Aku bukan istri yang kamu nikahi dulu. Aku cuma bikin kamu repot,” tangisnya.

Bagas hanya menggenggam tangannya erat. “Dengar aku. Kamu masih istri aku. Nggak ada yang berubah.”

 

Namun kenyataan berkata lain. Bagas harus berhenti bekerja penuh waktu demi merawatnya. Tabungan mereka terkuras untuk biaya pengobatan dan kursi roda. Malam-malam ia termenung menatap tumpukan tagihan, gajinya dari kerja serabutan tak pernah cukup.

Andini makin merasa bersalah. Terlebih ketika telinganya menangkap bisik-bisik tetangga.

“Kasihan Bagas, masih muda udah dapat istri lumpuh.”

“Iya. Kalau aku jadi dia, mungkin udah nikah lagi.”

Pernah juga seorang teman menawarkan kenalan perempuan lain yang Bagas tepis dengan tegas. Tetapi tetap saja, setiap tatapan iba orang-orang membuat hatinya berat.

Puncaknya, suatu sore Andini berkata dengan mata berkaca.

“Mas… aku rela kalau kamu mau menikah lagi. Aku nggak mau kamu terus tersiksa. Aku lumpuh, aku nggak bisa kasih kamu anak, bahkan kerja pun aku nggak bisa. Aku cuma beban.”

Bagas membeku, lalu menggenggam bahunya erat.

“Dengar aku baik-baik. Waktu aku janji di depan penghulu, aku bilang ‘aku terima nikahnya Andini dengan mas kawin dibayar tunai’. Aku nggak bilang ‘aku terima nikahnya Andini cuma kalau dia sehat’. Kamu itu rumahku, Din. Kalau rumahku retak, aku nggak akan nyari rumah lain. Aku bakal betulin rumah ini, biar bisa aku tempatin sampai mati.”

 

Andini menangis sejadi-jadinya. Dalam hatinya, ia ingin percaya. Namun rasa bersalah masih menghantuinya. Apalagi ketika keluarga Bagas pun mulai menyinggung soal keturunan. Ia merasa makin tak berharga.

Bagas sendiri bekerja keras tanpa banyak bicara. Tubuhnya makin lelah, wajahnya pucat, tapi setiap kali ditanya, ia hanya tersenyum.

“Kalau aku nggak maksain diri buat kamu, buat siapa lagi aku hidup?” katanya pelan.

Suatu sore, ia mendorong kursi roda Andini ke teras rumah. Senja oranye keemasan menyelimuti langit. Angin sore berhembus pelan, membawa kenangan masa lalu.

“Inget nggak, Din, dulu kita sering keliling kota naik motor jam segini?” tanyanya.

Andini menunduk. “Iya. Justru karena motor itu aku jadi kayak gini.”

Bagas menggenggam tangannya. “Jangan nyalahin diri sendiri. Itu kecelakaan, bukan salahmu. Kalau aku bisa, aku lebih pilih aku yang lumpuh. Asal jangan kamu.”

Air mata Andini jatuh lagi.

“Aku takut ninggalin kamu sendirian, Mas.”

Bagas tersenyum, meski matanya basah.

“Kalau itu terjadi, aku yang bakal nyusul. Aku nggak pernah sendirian, karena aku selalu punya kenangan sama kamu. Dan kenangan itu cukup bikin aku hidup.”

Andini menatap suaminya lama, lalu tersenyum tulus. Untuk pertama kalinya ia yakin, meski tubuhnya lumpuh, cintanya tetap utuh.

“Mas,” bisiknya lirih, “selama aku punya kamu, aku nggak butuh apa-apa lagi.”

Di ruang sederhana itu, tanpa pesta, tanpa sorak sorai, hanya dengan genggaman tangan yang erat, mereka tahu: cinta mereka mungkin penuh luka, tapi tak akan pernah usai.

Hari-hari berikutnya tetap berat. Hidup mereka masih serba kekurangan, namun cinta yang mereka punya membuat semuanya terasa lebih ringan. Bagas tetap mencari nafkah sebisanya, Andini tetap berjuang menerima keadaannya. Mereka sadar, kebahagiaan bukan soal rumah besar atau hidup sempurna, melainkan soal kesetiaan yang tak luntur meski cobaan datang.

Cinta sejati bukan tentang seberapa lama tawa bertahan, tapi seberapa kuat bertahan dalam tangis. Dan di rumah sederhana itu, meski tubuh Andini tak lagi sempurna, cinta mereka tetap utuh. Cinta yang tak pernah usai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)