Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 2


 Bagian 2 — Sunyi yang Menyadarkan

Hari pertama setelah pertengkaran itu terasa aneh. Biasanya setiap pagi Arga selalu mengirim pesan.

Sudah bangun? Jangan lupa sarapan.

Hari ini tidak ada. Laila membuka chat mereka beberapa kali. Tetap tidak ada pesan baru.

“Ya sudah,” gumamnya mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Dia juga pasti butuh waktu.”

Ia mencoba menjalani hari seperti biasa. Pergi ke kampus, mengikuti kelas, bercanda dengan teman-temannya. Tapi entah kenapa hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Malamnya, ia kembali membuka ponselnya. Masih tidak ada pesan.

Hari kedua terasa lebih aneh. Biasanya Arga selalu mengingatkannya makan siang.

Sudah makan belum? Jangan telat lagi.

Sekarang tidak ada. Laila mencoba menahan diri untuk tidak menghubunginya. Kalau Arga bisa diam, aku juga bisa, pikirnya.

Namun hari ketiga…rasa kesalnya mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Sepi. Sangat sepi.

Saat sedang duduk di kantin kampus, salah satu temannya tiba-tiba berkata,

“Eh Laila… itu Arga kan?”

Laila langsung menoleh.

Di seberang jalan kampus, ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Arga. Ia sedang berdiri di samping motornya. Dan di belakangnya duduk seorang gadis. Gadis itu tampak tertawa saat Arga mengatakan sesuatu. Laila langsung merasakan sesuatu menusuk dadanya.

“Siapa itu?” gumamnya pelan.

Temannya mengangkat bahu.

“Adiknya mungkin?”

Tapi Laila tidak yakin. Gadis itu terlihat sebaya dengan mereka. Bukan seperti adik kecil yang sering diceritakan Arga. Arga kemudian menyalakan motornya. Dan mereka pergi.

Laila hanya bisa menatap ke arah jalan itu sampai motor itu menghilang. Dadanya terasa panas.

“Jadi… kamu punya waktu buat dia,” bisiknya pelan.

Malam itu Laila tidak bisa berhenti memikirkan kejadian itu. Apakah Arga benar-benar sibuk dengan adiknya? Atau sebenarnya…ia hanya tidak ingin meluangkan waktu untuk Laila lagi?

Hari ketiga malamnya terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar. Dan kali ini kesepian itu terasa jauh lebih menyakitkan.

Akhirnya Laila mengambil keputusan. Ia harus tahu yang sebenarnya. Malam itu ia berjalan menuju rumah Arga. Tangannya terasa dingin saat mengetuk pintu. 

Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Arga berdiri di sana. Wajahnya terlihat lelah. Namun matanya tetap sama—tenang dan hangat. Dan entah kenapa…melihat wajah itu saja sudah membuat hati Laila yang penuh emosi hampir runtuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)