Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 3
Bagian 3 — Pelukan yang Tidak
Pernah Pergi
Arga masih diam. Memberinya waktu
untuk jujur pada perasaannya sendiri.
“Aku kangen pesanmu,” lanjut Laila
dengan suara yang hampir pecah.
“Kangen kamu yang selalu nanya aku
sudah makan atau belum.”
Air mata akhirnya jatuh di pipinya.
“Aku juga sadar sesuatu…”
“Apa?” tanya Arga pelan.
Laila menarik napas dalam.
“Aku cemburu sama adik-adikmu.”
Arga sedikit terkejut. Tapi tidak
marah.
“Aku merasa mereka lebih penting
dari aku,” lanjut Laila jujur.
Arga menggeleng pelan.
“Kamu salah kalau berpikir begitu.”
“Lalu kenapa kamu selalu bersama
mereka?”
Arga tersenyum kecil. Ada kelelahan
di wajahnya.
“Karena mereka masih butuh aku.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi itu tidak pernah berarti kamu
tidak penting.”
Mata Laila kembali berkaca-kaca.
“Aku terlalu egois ya?”
Arga menggeleng lagi.
“Kamu cuma takut kehilangan.”
Kalimat itu membuat tangisan Laila
pecah.
“Aku memang takut kehilangan kamu,”
katanya lirih.
Untuk pertama kalinya malam itu
Arga melangkah mendekat. Ia memeluk Laila dengan lembut.
“Aku tidak menjauh,” katanya pelan.
Ia menghapus air mata di pipi
Laila.
“Aku cuma sedang mengurus banyak
hal. Tapi itu tidak pernah berarti aku tidak mencintaimu.”
Laila menarik napas pelan di
pelukan itu. Amarahnya perlahan berubah menjadi tenang.
“Aku juga tidak bisa pergi,”
bisiknya.
Arga tersenyum. Pelukannya semakin
erat. Seperti rumah yang selalu bisa ia kembali. Laila memejamkan mata. Menikmati
kehangatan itu.
“Maaf aku sering bilang ingin putus
saat marah,” katanya pelan.
Arga tertawa kecil.
“Aku sudah tahu kamu tidak
benar-benar ingin pergi.”
Laila menjauh sedikit lalu menatap
wajahnya.
“Kenapa kamu selalu sabar seperti
itu?”
Arga berpikir sebentar sebelum
menjawab.
“Karena aku tahu kamu hanya sedang
kesal…”
Ia menyentuh pipi Laila dengan
lembut.
“…bukan berhenti mencintaiku.”
Air mata Laila kembali jatuh. Namun
kali ini bukan karena marah. Ia berdiri sedikit berjinjit dan mencium pipi Arga
dengan lembut.
“Terima kasih sudah tidak menyerah
padaku.”
Arga terlihat sedikit kaget, lalu
tersenyum hangat. Ia kembali memeluk Laila.
Dan malam itu, di bawah langit
penuh bintang, Laila akhirnya mengerti satu hal—Cinta bukan tentang siapa yang
selalu punya waktu paling banyak. Tapi tentang siapa yang tetap memilih untuk
tinggal…bahkan ketika hubungan sedang diuji oleh rasa marah, cemburu, dan ego. Dan
Arga…tidak pernah benar-benar pergi.

Komentar
Posting Komentar