Legenda Resep Sambal Nenek QR Code

 


​Dapur sudah seperti medan perang. Asap tumisan cabai mengepul sampai ke langit-langit. Maya berdiri sambil berteriak "Ibu! Ini percobaan ke-sepuluh! Kenapa rasanya tetap kayak sambal botolan di supermarket? Nggak ada tendangannya, nggak ada 'jiwanya'!" keluh Maya sambil membanting ulekan ke dalam cobek kayu.

​Ibu yang sedang memetik kangkung hanya menghela napas. "Masak itu jangan pakai emosi, May. Cabainya kerasa 'marah' itu."

​Tiba-tiba, pintu depan terbuka kasar. Ayah masuk dengan wajah yang lebih galak dari biasanya. Beliau langsung menutup hidung dengan dasinya.

​"Maya! Ibu! Ini rumah apa pabrik petasan? Ayah tadi lagi meeting penting sama direktur lewat Zoom! Beliau sampai nanya, 'Pak, itu suara apa yang berisik banget kayak orang lagi hancurin aspal?' Ternyata suara ulekanmu! Belum lagi bau terasinya, klien Ayah di Singapura sampai bisa cium lewat sinyal internet kayaknya!"

​"Yah, Maya lagi usaha cari resep sambal Nenek yang melegenda itu!" jawab Maya membela diri.

​"Resep apa? Resep bikin Ayah malu? Sudah, besok kamu fokus pendaftaran kuliah saja. Berhenti buang-buang cabai, harganya lagi mahal! Kalau besok masih bau terasi, Ayah sita semua peralatan dapurmu!" Ayah berlalu ke kamar dengan suara pintu yang berdebum.

Dapur mendadak sunyi setelah pintu depan berdebum karena bantingan tangan Ayah. Maya tertunduk, menatap cobeknya seolah benda itu adalah musuh bebuyutan.

Maya terduduk di lantai dapur, nyaris menangis. Ibu mendekat, mengelap keringat di dahi Maya. "Sudah, jangan diambil hati. Ayahmu itu cuma terlalu capek sama urusan kantor," hibur Ibu sambil mengusap bahu Maya yang gemetar.

“Nanti ibu jelaskan kalo tiap anak berbeda bakat dan minatnya, memang sebagai anak perempuan kamu mau ga mau harus bisa masak nak. Terserah kalau suatu saat mau buka usaha kuliner seperti nenekmu sambil membuka usaha desain. Oh ya ibu lupa mau menunjukkan sesuatu di gudang bawah tangga, yuk!”

​Di antara tumpukan koran lama, Ibu mengeluarkan sebuah kotak kayu cokelat yang sudah karatan. Sebuah radio transistor tua.

​"Ini rahasia Nenekmu," bisik Ibu.

​​"Nenekmu dulu nggak pernah masak kalau radio ini nggak nyala. Dia bilang, sambal itu punya ritme. Kalau hatimu nggak tenang, pedasnya cabai bakal 'berantem' sama gurihnya bawang. Tapi kalau kamu ngulek ngikutin irama keroncong, rasa bumbunya bakal pelukan," jelas Ibu sambil mengelap debu tebal di kaca frekuensi radio itu.

Ini rahasia Nenekmu," bisik Ibu sambil mengeluarkan radio transistor tua itu.

​Maya mengernyit. "Radio? Bu, Maya butuh resep bumbu, bukan butuh hiburan radio butut."

​Ibu tersenyum, lalu membalikkan radio itu. Beliau membuka tutup tempat baterai yang sudah berkarat di bagian belakang. Ternyata, di dalamnya bukan ada baterai, melainkan gulungan kertas yang sudah menguning.

​"Ini dia yang kamu cari," kata Ibu sambil menyerahkan kertas itu. "Isinya resep bumbu rahasia Nenek. Tapi ingat, resep ini nggak akan manjur kalau kamu nggak tahu cara mengolahnya."

​Maya membaca tulisan tangan Nenek yang rapi. Di bagian bawah kertas itu tertulis kalimat: "Sambal itu punya ritme. Jangan ulek dengan amarah, tapi uleklah dengan irama keroncong."

​"Maksudnya gimana, Bu?" tanya Maya bingung.

"Nenekmu dulu percaya, kalau kita masak sambil marah atau buru-buru, rasanya bakal jadi kasar. Makanya dia selalu simpan resep ini di dalam radio. Resep ini adalah 'bahan', tapi musik adalah 'nyawa'-nya. Kamu butuh keduanya," jelas Ibu.

​Keesokan harinya, Maya sudah siap tempur di dapur. Karena masih merasa saran Ibu soal lagu keroncong itu terlalu kuno, dia memutuskan pakai caranya sendiri.

​"Bu! Maya pakai lagu Rock ya! Biar semangatnya on fire dan nguleknya secepat kilat!" seru Maya. Dia menyetel lagu metal yang volume bass-nya sampai bikin panci-panci bergetar.

​"May! Itu musik atau suara tawuran? Berisik banget!" protes Ibu.

​"Ini namanya efisiensi, Bu! Zaman sekarang harus serba cepat!" Maya mulai beraksi. Tangannya menghantam ulekan ke dasar cobek. Dung! Dung! Srek! Dia ngulek kayak orang lagi demo.

​"May, dengerin Ibu. Masak itu bukan lomba lari... ADUUUH!"

​Belum sempat Ibu selesai bicara, ulekan Maya terpeleset karena gerakannya terlalu nafsu. Crat! Sari cabai merah yang super pedas itu meluncur tepat ke mata Maya.

​"Ibuuu! Tolong! Mata Maya kayak disiram lahar!" jerit Maya panik sambil loncat-loncat.

​Ibu buru-buru menarik Maya ke wastafel, menyiram wajahnya dengan air sambil menahan tawa. "Makanya! Dibilangin jangan sok jagoan. Kamu memperlakukan bahan makanan kayak musuh, makanya cabainya nyerang balik! Kamu mau masak sambal atau mau balas dendam?"

​Setelah mata Maya agak mendingan, Ibu mematikan musik Rock itu dan menggantinya dengan "Keroncong Waljinah". Suasana dapur mendadak adem.

​"Dengerin, May," kata Ibu sambil menatap mata Maya yang masih merah. "Di dunia ini, nggak semua hal bisa diselesaikan dengan cara cepat. Kamu terlalu fokus sama hasil akhir, sampai lupa kalau bumbu itu butuh waktu buat saling kenal di dalam cobek. Kalau kamu paksa, mereka cuma hancur, bukan menyatu."

​Maya tertegun. "Tapi kan cuma sambal, Bu?"

​"Bukan cuma sambal, May. Ini soal hidup. Kalau kamu ngulek pakai amarah, yang sampai ke perut orang juga energi amarah. Nenekmu dulu bilang, ulekan itu ibarat hati. Kalau hatinya kasar, hasilnya hambar. Tapi kalau kamu ngulek mengikuti irama yang tenang, bumbunya bakal 'pelukan' secara sukarela, bukan karena dipaksa."

​Maya terdiam, kata-kata Ibu terasa "daging" banget. Dia mulai memegang ulekan lagi. Kali ini dia mencoba mengikuti ketukan biola yang meliuk-liuk. Srek... srek... sreeek...

​"Nah, gitu... Putar ulekannya perlahan. Rasakan teksturnya," instruksi Ibu.

​"Eh iya, Bu... kok beda ya? Pas Maya pelan begini, aroma bawangnya malah keluar lebih harum. Nggak menusuk hidung kayak tadi," gumam Maya heran.

​"Itu namanya 'kena’', May. Masak itu soal rasa yang kena ke hati. Kalau kamu cuma cari cepat, mending pakai blender. Tapi ulekan tangan punya cerita yang nggak bisa ditiru mesin. Karena di tiap putarannya, ada doa dan kesabaranmu yang ikut terulek."

​Maya tersenyum lebar. "Wah, filosofi sambal ini keren juga ya. Tapi juga serem. Maya jadi berasa lagi meditasi di depan cobek.”

“Iya nak. Wejangan kuno memang begitu. Harus dijaga dan dilestarikan.”

Maya memperhatikan cobeknya. "Eh iya, Bu. Kok sambalnya kelihatan... cantik ya? Warnanya merah segar, nggak pucat."

​Ibu tersenyum sambil memperbaiki letak kain serbetnya. "Itulah bedanya tangan manusia sama mesin, May. Kalau kamu pakai blender, cabainya itu dipaksa hancur sampai sari-sarinya pecah berantakan, makanya warnanya jadi pucat dan rasanya kayak air. Tapi kalau diulek pelan seirama keroncong, cabainya itu cuma 'terbuka' pelan-pelan."

​"Maksudnya gimana, Bu?" tanya Maya penasaran.

​"Lihat deh teksturnya. Masih ada serat-serat cabainya, bijinya nggak hancur total, dan minyak alami dari bawangnya keluar pelan-pelan menyelimuti sambalnya. Itu yang bikin dia kelihatan berkilau kayak pakai permata. Sambal yang cantik itu bukan yang halus mulus kayak bubur bayi, tapi yang masih punya 'jiwa' dan karakter tekstur di dalamnya. Mata kita saja sudah kenyang duluan sebelum lidah mencicipi."

​Maya manggut-manggut. "Jadi, sambal yang cantik itu sambal yang kita perlakukan dengan hormat ya, Bu?"

​"Betul. Kamu nggak merusak dia, kamu cuma melepaskan rasa enaknya keluar."

​Dua bulan kemudian, rumah itu tidak lagi pengap, tapi penuh dengan kotak-kotak paket siap kirim.

​"Yah! Lihat! Akun Instagram 'Sambal Irama Nenek' tembus sepuluh ribu followers hari ini!" seru Maya girang.

​"Hebat kamu, May! Ini ada pesanan dari Belanda, katanya dia rindu suasana Indonesia," sahut Ayah yang sekarang malah paling sibuk menempel stiker label. Beliau bahkan pakai kaos seragam bertuliskan Chief Tasting Officer.

​"Yang paling mereka suka itu QR Code-nya, Yah. Di setiap tutup botol ada barcode yang kalau di-scan, langsung muncul playlist lagu keroncong kesukaan Nenek. Jadi mereka bisa makan sambil dengerin irama yang sama saat sambal ini dibuat," tambah Maya bangga.

​Ibu mengusap radio tua yang sekarang dipajang di sudut dapur sebagai ikon toko mereka. "Ternyata teknologi nggak selalu menjauhkan kita dari yang lama ya. Malah bikin warisan Nenek keliling dunia."

​"Betul, Bu! Ayo, Yah, Ibu... ada pesanan seratus botol lagi! Putar lagu 'Bengawan Solo', Maya mau ngulek lagi!"

​Dapur itu kembali ramai, bukan oleh asap yang menyiksa, tapi oleh suara musik keroncong dan tawa keluarga yang kini punya cita rasa yang sama.

​ Ayah terdiam cukup lama setelah suapan terakhirnya. Beliau menatap Maya, bukan lagi dengan tatapan menuntut, tapi dengan tatapan seorang Ayah yang bangga.

​"Dulu, Ayah pikir Desain Grafis itu cuma main-main sama gambar di komputer, May," kata Ayah pelan sambil mengelap bibirnya. "Ayah takut kamu nggak bisa makan dari situ. Tapi hari ini, lewat sambal ini, Ayah belajar sesuatu."

​Maya mendengarkan dengan serius. "Belajar apa, Yah?"

​"Ayah belajar kalau 'rasa' itu nggak bisa bohong. Kamu mendesain rasa sambal ini pakai perasaan yang tenang, makanya hasilnya enak. Kalau kamu bisa bikin sambal sesempurna ini, Ayah yakin kamu juga bisa bikin desain yang hebat. Ternyata bumbu di dapur dan warna di desain itu sama saja; kalau komposisinya pas, bakal bikin orang bahagia."

​Maya merasa beban di pundaknya yang selama ini berat banget langsung hilang. "Jadi, Ayah nggak akan maksa Maya masuk jurusan Kedokteran lagi?"

​"Nggak, nak. Ayah nggak mau kamu jadi orang yang 'pucat' kayak sambal yang diulek pakai emosi tadi. Ayah mau kamu 'bercahaya' kayak sambal cantik buatanmu ini. Belajarlah yang benar di Desain Grafis nanti. Pakai tanganmu buat bikin hal-hal indah, mau itu di layar laptop atau di atas piring."

​Ayah lalu tersenyum, senyuman yang sudah lama nggak Maya lihat. "Mungkin nanti, sambal kamu ini butuh logo yang keren kan? Nah, di situ kamu pakai ilmu kuliahmu. Ayah bakal jadi orang pertama yang bangga pamerin desain botol sambal buatan anak Ayah."

​Maya langsung memeluk Ayah erat. Dapur yang tadi terasa panas karena cabai, sekarang berubah jadi tempat yang paling sejuk di dunia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)