Email Terakhir Dari Kyoto - Bagian 3

 Bagian 3 – Di Bawah Musim Sakura

Tanggal 20 Maret akhirnya tiba.

Reza berdiri di bandara dengan perasaan campur aduk. Perjalanan menuju Jepang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Apa yang ingin Naomi katakan?

Saat akhirnya ia tiba di bandara, seseorang melambaikan tangan dari kejauhan. Reza hampir tidak mengenalinya. Naomi terlihat berbeda. Lebih dewasa. Lebih cantik dari yang ia ingat. Namun senyum itu masih sama.

Mereka sempat canggung di awal. Dua tahun mengenal satu sama lain lewat tulisan ternyata tidak cukup untuk menghapus rasa gugup saat akhirnya bertemu lagi.

Namun hari-hari berikutnya perlahan mencairkan suasana. Naomi mengajak Reza berjalan di jalan-jalan Kyoto, mencoba makanan Jepang, dan memperlihatkan kota yang selama ini hanya ia ceritakan lewat email.

Reza merasa seperti sedang hidup di dalam mimpi. Namun ada satu hal yang membuatnya sedikit gelisah. Naomi belum pernah mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.

Hingga suatu sore di akhir minggu itu. Mereka berjalan di sebuah taman yang dipenuhi pohon sakura yang sedang bermekaran. Kelopak bunga beterbangan tertiup angin.

“Kyoto is beautiful in spring, right?” kata Naomi.

Reza mengangguk pelan.

“It’s more beautiful than I imagined.”

Mereka duduk di bangku taman. Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Lalu Naomi menarik napas pelan.

“Reza… do you remember the last email I sent you before you came here?”

Reza mengangguk.

“You said… there was something you wanted to tell me.”

Naomi menatap bunga sakura yang jatuh perlahan.

“My parents think I should get married soon.”

Reza terdiam. Jantungnya terasa seperti berhenti sejenak. Naomi melanjutkan dengan suara lembut.

“They introduced me to someone.”

Angin musim semi berhembus pelan melewati mereka. Reza menatap Naomi, mencoba membaca ekspresinya. Namun Naomi hanya tersenyum kecil. Beberapa detik terasa sangat lama. Lalu Naomi berkata pelan,

“But I told them… there is someone I want to wait for.”

Reza mengerjap, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Naomi akhirnya menatapnya langsung.

“I was waiting for you to come here.”

Jantung Reza kembali berdetak cepat. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum.

“Good,” katanya pelan.

Naomi tampak bingung. Reza lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ia berdiri, lalu berlutut di depan Naomi.

“Because I came here for the same reason.”

Naomi menutup mulutnya kaget.

“Will you marry me, Naomi?”

Beberapa kelopak sakura jatuh di antara mereka. Naomi tidak langsung menjawab. Air mata perlahan mengalir di pipinya. Lalu ia mengangguk. Reza tersenyum lega. Ia menggenggam tangan Naomi dengan lembut.

“Aishiteru,” bisik Naomi. 


Di bawah langit Kyoto yang dipenuhi bunga sakura, cinta mereka akhirnya menemukan tempatnya. Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun, tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)