Email Terakhir Dari Kyoto - Bagian 2
Bagian 2 – Jarak
yang Diam-Diam Mendekatkan
Pertemuan singkat
di Bali ternyata tidak berakhir di sana. Email pertama datang dari Naomi tiga
hari setelah ia kembali ke Jepang.
Pesannya
sederhana.
“Thank you for the
lunch, Reza. Bali is beautiful. I hope you have a good day.”
Reza membaca email
itu berulang kali sebelum membalasnya.
Sejak saat itu,
percakapan mereka mengalir perlahan. Kadang hanya satu email dalam beberapa
hari. Kadang mereka saling menulis panjang seperti sedang bercerita kepada
sahabat lama.
Naomi sering
mengirim foto kota Kyoto—jalan kecil yang tenang, kuil tua yang diselimuti
kabut pagi, atau secangkir teh hijau yang ia minum di sore hari.
Sebagai balasan,
Reza mengirim foto Jakarta yang sibuk, langit senja dari jendela kantornya,
atau kopi yang ia minum saat lembur.
Perbedaan negara,
bahasa, dan budaya justru membuat mereka semakin banyak hal untuk dibicarakan.
Suatu malam, Naomi
menulis:
“Kyoto will be
very beautiful in spring. Sakura will bloom everywhere.”
Reza tersenyum
saat membacanya.
Ia membayangkan
Naomi berjalan di bawah pohon sakura yang bermekaran. Tanpa sadar, ia mulai
merindukan gadis yang bahkan belum pernah ia temui lagi sejak pertemuan singkat
itu.
Waktu berjalan. Satu
tahun berlalu.
Email-email mereka
semakin sering. Kadang mereka berbagi cerita tentang hari yang melelahkan.
Kadang hanya bertanya hal kecil seperti apakah hari ini hujan di Kyoto atau
tidak.
Suatu malam Naomi
menulis sesuatu yang membuat Reza terdiam cukup lama.
“I wonder… will we
ever meet again?”
Reza tidak
langsung menjawab. Bukan karena ia tidak ingin. Tetapi karena pertanyaan itu
membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan—ia benar-benar ingin
bertemu Naomi lagi. Namun pekerjaan selalu datang lebih dulu.
Bulan demi bulan
berlalu. Sampai suatu malam di awal tahun, Reza menatap layar laptopnya cukup
lama. Ia membuka kembali foto-foto yang pernah dikirim Naomi.
Kyoto di musim
semi. Kelopak sakura yang jatuh seperti salju merah muda. Tanpa berpikir
panjang, ia mulai mengetik.
“I will go to
Kyoto in the middle of March. Please wait for me.”
Ia menekan tombol
kirim. Setelah itu, ia hanya bisa menunggu.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Notifikasi email
akhirnya berbunyi. Reza langsung membukanya.
“I’m glad you’ll
be here. I’ll wait for you. But… Reza, there is something I want to tell you
when you come.”
Reza membaca
kalimat terakhir itu dua kali. Ada sesuatu yang ingin Naomi katakan. Namun
Naomi tidak menjelaskan apa itu. Dan sejak malam itu, Reza tidak bisa berhenti
memikirkannya.

Komentar
Posting Komentar