Si Pemburu Nyamuk

 


Setahun ini entah ke mana perginya musim kemarau. Langit seolah jatuh cinta pada hujan dan tak mau berhenti menangis. Genangan air muncul di mana-mana: di selokan, di halaman, bahkan di pot bunga yang lupa dikosongkan. Tak heran, penyakit berdatangan dan nyamuk berkembang biak seperti pasukan tanpa akhir.

Fredo adalah salah satu korbannya. Malam itu, ia duduk di meja belajar dengan mata berat. Buku terbuka, pena di tangan, tapi pikirannya sudah melayang-layang. Baru saja ia menguap lebar ketika terdengar dengungan menyebalkan di dekat telinganya.

“Ngggiiing…”

Satu nyamuk melintas. Lalu dua. Lalu banyak. Fredo menyipitkan mata.

 “Oh, jadi kalian mau perang?”

Ia meraih raket nyamuk kesayangannya. Sekali ayun—clek!—satu tumbang. Dua ayun—clek clek!—dua lagi hilang.

“Jangan main-main sama Fredo, pemburu nyamuk profesional!”

Beberapa menit kamar kembali sunyi. Fredo duduk dengan senyum kemenangan. Kantuknya raib, diganti rasa bangga seperti pahlawan habis menyelamatkan dunia.

Namun ketenangan itu seperti janji palsu. Tak lama kemudian, dengungan kembali terdengar. Kali ini lebih banyak. Fredo langsung berdiri dan mulai melompat-lompat, mengayun raket ke segala arah. Kakinya bergerak cepat, badannya meliuk-liuk.

“Awas! Jurus Petir Langit Ketujuh!”

CLEK! CLEK! CLEK!

Beberapa nyamuk kalah, tapi sisanya kabur ke sudut kamar.

“Capek juga kalian…” gumamnya sambil ngos-ngosan.

Ia baru saja duduk ketika rasa gatal menyerang betisnya.

“Aduh! Kena lagi!”

Tanpa pikir panjang, refleknya bekerja lebih cepat dari otaknya. Ia menghantam kakinya sendiri dengan raket nyamuk.

PLET!

“AAAAAA!”

Fredo meloncat seperti kena sengatan lebah.

“Ya ampun! Bodoh banget sih aku!”

Kakinya perih, matanya berair, sementara dengungan nyamuk terdengar makin ramai, seolah mereka menertawakannya. Merasa kalah telak, Fredo akhirnya mengambil obat nyamuk bakar.

“Sekarang kita lihat siapa yang kuat,” katanya sambil menyalakannya.

Asap perlahan memenuhi kamar. Beberapa menit pertama ia merasa puas… sampai tenggorokannya mulai gatal.

“Khok… khok… kok aku yang sesak, sih…”

Ia terbatuk keras sambil melambaikan tangan, membuka jendela lebar-lebar. Udara segar masuk, tapi bersama itu… satu nyamuk terbang santai melewati hidungnya.

“Ngggiiing…”

Fredo menatapnya kosong.

“Serius… kamu masih hidup?”

Nyamuk itu hinggap di dinding seolah menantang.

Fredo terlalu lelah untuk marah. Ia menjatuhkan tubuh ke kasur.

“Menanglah kalian. Aku menyerah…”

Matanya terpejam perlahan. Tubuhnya lelah setelah perang panjang. Beberapa menit berlalu. Kamar hening.Tak ada suara dengungan. Tak ada gigitan. Fredo tersenyum kecil dalam tidur.

 “Akhirnya… damai…”

Namun tiba-tiba—

“Fredo! Bangun!!!”

Ia terlonjak kaget.

Di depannya berdiri ibunya dengan wajah kesal sambil membawa ember air.

“Kamu tahu nggak kenapa nyamuk di rumah ini makin banyak?!”

Fredo masih setengah sadar.

“Karena… musim hujan?”

Ibunya menunjuk ke arah jendela kamar.

“LIHAT ITU!”

Fredo menoleh.

Di luar jendela, tepat di samping kamarnya, ada ember besar penuh air hujan yang ia pakai kemarin buat main perahu kertas — dan lupa dibuang. Di dalamnya… ratusan jentik nyamuk berenang riang.

Ibunya menyilangkan tangan.

“Selamat, Pemburu Nyamuk. Markas musuhnya ternyata kamu sendiri.”

Fredo melotot.

“…Jadi selama ini aku…”

Ibunya mengangguk pelan.

“Iya. Kamu bukan pembasmi nyamuk. Kamu peternaknya.”

Hening.

Lalu terdengar “Ngggiiing…”

Fredo menjerit putus asa.

“AAAAA!!! PANTESAN NGGAK HABIS-HABIS!!!”

Sejak hari itu, Fredo tak cuma memburu nyamuk…

 ia juga rutin menguras semua genangan air di rumah. Karena ternyata, musuh terbesarnya bukan nyamuk. Tapi kebiasaan lupanya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)