Maya dan Perisai Kurcaci (Part 2) (written by Henny)

 


Di SMP, prestasi akademisku meningkat drastis setelah aku dan Maya berkomitmen pada "Balas Dendam Kecerdasan". Kami memenangkan Lomba Sains tingkat Kota dengan hadiah beasiswa penuh dan piala besar terpampang di ruang kepala sekolah. 

​Aku sekarang adalah Kila, si juara, yang disayangi guru dan diandalkan teman. Sebutan si kurcaci dan si mini masih ada tapi tidak lagi berdaya. Tapi mereka ternyata masih menyimpan dendam dengan membuat kekacauan supaya aku malu. Terbiasa membully atau merundung membuat mereka tertantang untuk membullyku. 

Aku mulai memfokuskan semua energiku ke dalam pelajaran. Aku belajar sangat keras, membaca semua buku yang bisa aku temukan. Aku dan Maya menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan bersama-sama. Kami berkomitmen pada "Balas Dendam Kecerdasan." 

​Anak iseng lainnya, Vania dan gengnya, masih sesekali mencoba mengganggu kami. Suatu siang, kami sedang berjalan di koridor membawa setumpuk buku tebal fisika dan kimia. Vania melihat kami. 

​"Oh, lihat! Si kurcaci itu membawa buku atau bukunya yang membawa dia?" ledek salah satu teman Vania. 

​Vania tersenyum sinis. "Hei, Kila! Berat badanmu itu berapa sih? Jangan-jangan cuma dua puluh kilo! Kamu enggak takut ketarik layangan ya?" 

​Aku sudah siap membalas dengan kata-kata serius tentang harga diri, tapi Maya lebih cepat. 

​"Dua puluh kilo? Oh, Vania, kamu salah besar," kata Maya, menarik Kila mendekat dan menatap Vania dengan ekspresi pura-pura kaget. 

​"Memangnya berapa, supermodel?" tanya Vania, mencibir. 

​"Dia itu minus dua puluh kilo!" seru Maya, membesarkan matanya. "Kila harus membawa buku-buku ini agar dia tidak terbang! Kalau Kila tidak membawa beban berat, dia bisa tersedot ke lubang ventilasi di atap. Dia ini anomali fisika, Vania, low gravity." 

​Vania dan gengnya terdiam, mencoba memproses kalimat absurd Maya. 

​"Makanya kami harus cepat-cepat menang lomba sains," sambung Maya, pura-pura panik. "Kami harus menemukan penyeimbang gravitasi agar Kila tidak hilang ditiup angin! Kalian mau bantu cari penyeimbang?" 

​Ekspresi bingung Vania langsung berubah menjadi marah. Dia kesal karena Maya mengubah ejekannya menjadi drama fiksi ilmiah yang konyol. 

​"Kalian aneh!" seru Vania, lalu buru-buru pergi karena malu tidak bisa membalas. 

​Aku dan Maya saling pandang, lalu kami tertawa terbahak-bahak sampai perut sakit. "Minus dua puluh kilo, May? Serius?" kataku, sambil menyenggol lengannya. 

​"Tentu saja serius! Itu lebih lucu daripada marah," bisik Maya. "Lihat, dia pergi. Itu membuktikan, kecerdasanmu yang luar biasa dan ideku yang brilliant jauh lebih efektif daripada otot dan ejekan mereka." 

​"Kila, kamu adalah jeniusnya Sains! Aku yang akan jadi manajermu," kata Maya penuh semangat. Kami harus menang. 

Sehari sebelum upacara penyerahan piala, aku menyiapkan presentasi untuk pidatoku. Aku menyimpannya di flash disk dalam sebuah kotak pensil kecil. Tiba-tiba, saat hendak mengambilnya, kotak pensilku telah hilang. 

​"Astaga, flash disk-ku hilang, Maya!" bisikku panik saat istirahat. Maya mendadak tegang. "Flash disk yang isinya presentasi itu, Kila? Kamu ingat terakhir kali meletakkannya?" 

​Kami mencari ke mana-mana, namun flash disk tidak ditemukan. Aku mulai merasa takut dan hancur. Ini adalah presentasiku yang paling penting. "Aku yakin Vania yang ambil," kataku gemetar. "Dia tidak mungkin membiarkan aku menang dengan mudah." 

“Tapi kok dia bisa tahu ya,” Maya berpikir keras. “Berarti selama ini ada yang melihat dari jauh. Selalu mengikuti semua kegiatan kita”. 

​Benar saja. Keesokan harinya, Vania datang kepadaku dengan wajah angkuh. “Mencari ini, si kurcaci?" kata Vania sambil menunjukkan flash disk-ku di tangannya. "Aku tidak akan biarkan anak kecil sepertimu merusak reputasi sekolah ini". 

​"Kembalikan, Vania! Itu kerja keras Kila!" teriak Maya marah. Ia maju mencoba merebutnya. Vania tertawa licik. "Tidak semudah itu, Maya!" Dengan sekali sentak, Vania melemparkan flash disk-ku ke arah kolam ikan sekolah. Air mataku langsung jatuh. Flash disk itu jatuh ke dalam air. Aku melihatnya tenggelam. 

​"Kamu jahat, Vania! Kamu jahat sekali!" teriakku histeris. Aku berlari ke arah kolam. Vania dan gengnya hanya tertawa puas, “Kenapa menangis, Kila? Kecerdasanmu tidak bisa melawan kami!" ejek Vania. 

​Aku terdiam menatap flash disk-ku di dasar kolam. Namun, Maya tidak tinggal diam. Maya segera membuka sepatunya, melipat roknya, dan tanpa ragu menceburkan diri ke kolam ikan! 

​"Maya, apa yang kamu lakukan!" teriakku terkejut. 

​Maya berenang cepat, meraih flash disk, dan kembali ke tepi dengan wajah basah kuyup. Wajahnya tampak dingin, tetapi matanya penuh api keberanian. "Ini, Kila. Untung flash disk ini tahan air! Aku sudah pernah mencoba mencuci punyaku!" 

​Aku menerima flash disk basah itu dengan haru. Vania dan gengnya terdiam, melihat tindakan Maya yang nekat demi persahabatan. 

​Saat pengumuman juara disampaikan, aku berdiri di podium, di sampingku Maya yang bajunya masih sedikit basah. Aku menatap ke kerumunan dan berbicara dengan penuh semangat. "Aku pernah berpikir bahwa tubuh kecilku adalah kelemahanku. Tetapi hari ini, aku sadar kelemahanku bukan fisik, melainkan ketidak-beranian untuk membela diri," kataku tegas. 

 "Setiap ejekan dan rintangan, termasuk insiden hari ini, hanya membuktikan satu hal: bahwa kita harus berjuang untuk apa pun yang kita yakini, dan bahwa penghargaan ini adalah milik kita semua yang berani bermimpi". 

​Vania tidak lagi tertawa. Dia menunduk, merasa tersudut dengan pidato yang begitu personal itu. Aku mendengar itu. Tapi kali ini aku tidak menunduk Setelah menerima piala aku menatap lurus ke arah Vania 

​"Tubuhku memang kecil Vania. Tapi piala ini membuktikan bahwa pikiran dan keberanianku tidak sekecil tubuhku. Aku sudah biasa mendengar ejekan kalian. Terima kasih sudah memotivasiku untuk bekerja lebih keras," kataku dengan suara lantang dan penuh keyakinan. 

​Vania terkejut ekspresi marahnya segera berubah menjadi malu. Teman-teman sekelas lain bertepuk tangan untukku. Aku tidak lagi hanya mendapat dukungan dari Maya, seluruh sekolah kini menghargaiku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)