Jejak Kaki Nabilah di Atas Embun (Part 2) (written by Henny)
Tak terasa sudah tiga tahun berlalu. Sore hari, di gerbang sekolah SMA Pantura ada kegiatan MOS. Di area pameran hasil tugas MOS, Nabilah sedang membereskan mading kelompoknya yang berisi kolase dan hiasan tangan yang sangat unik. Risa dan Dika, berjalan mendekat, melihat hasil kerjanya. Nindi berjalan di belakang mereka, diam-diam menyimak.
Dika berkata, "Coba lihat mading kelompok ini, Ris. Rapi banget”. Risa menoleh, "Wow, yang ini menarik perhatianku. Kolasenya beda dari yang lain, detailnya kuat. Siapa yang buat ya?”
Dika melihat daftar nama di sudut mading, “Oh, ini kelompok Nabilah.” Risa berkata," Pantas saja! Aku lihat dia memang pendiam, tapi ternyata dia kreatif banget. Lihat handicraft daur ulang yang dia pakai di sini, sederhana tapi artistik. Ini menunjukkan dia enggak cuma cantik alami, tapi juga punya isi.”
Dika mengamati Nabilah yang sedang menyusun sisa lembar kerjanya dengan tenang.” Iya, dia pendiam, tapi hasilnya bicara banyak. Itu lebih keren daripada yang heboh di depan tapi hasilnya biasa saja. Dia memang unik. Sederhana, alami, dan cerdas.
Nindi yang sudah mendekat dan mendengar kata-kata Dika, langsung menyambar," Unik apanya? Cuma modal barang bekas! Kalian ini berlebihan banget deh!” Dika terkejut dengan komentar Nindi. "Nindi? Kenapa lagi? Kami cuma mengapresiasi karya siswa”.
"Mengapresiasi? Atau kalian sedang terpesona sama 'si anak desa yang kreatif' itu? Aku sudah berusaha membuat mading kelompokku semaksimal mungkin, dan kalian bahkan tidak menoleh! Tapi dia? Karena dia pendiam dan sok polos, langsung jadi sorotan!”
Risa menengahi. "Nindi, jangan cemburu buta! Ini soal kualitas. Nabilah memang pendiam, tapi dia menunjukkan kualitasnya lewat karya, daripada modal penampilan dan teriak-teriak”.
Nindi menatap Dika dan Risa dengan amarah, “Kenapa kamu selalu membela dia, Dika? Kamu bilang dia unik dan cerdas. Apakah semua usahaku untuk tampil terbaik di matamu selama ini enggak ada artinya? Kamu selalu bilang suka cewek yang berkarakter, apa ini yang kamu maksud? Karakter sederhana, pendiam, dan miskin itu?!”
Dika menghela napas, berusaha menenangkan diri, ”Aku menghargai setiap orang yang menunjukkan usahanya, Nindi. Tapi jangan membandingkan dirimu dengan Nabilah dengan cara yang negatif. Dia menunjukkan karakternya melalui kreativitasnya, bukan hanya mengutamakan penampilan dirinya”.
Nindi wajahnya memerah karena cemburu dan marah, “Oh, jadi aku ini hanya modal penampilan tapi kosong? Baik! Kita lihat saja nanti, Dika. Siapa yang akan bertahan jadi pusat perhatian!” batin Nindi.
Nindi menghentakkan kaki dan segera pergi, meninggalkan Risa dan Dika yang terdiam di depan mading Nabilah. "Kreativitas Nabilah ternyata memicu masalah baru”.
Dika tersenyum tipis, “Justru itu membuktikan, Nabilah memang punya sesuatu yang luar biasa. Sayangnya, Nindi belum bisa melihat itu.”
Satu bulan setelah MOS. Dika dan Risa sedang berjalan di dekat kantin saat jam istirahat. Mereka melihat Nabilah baru saja meletakkan beberapa wadah berisi kue basah di etalase kantin, lalu ia bergegas kembali ke kelas. Nindi sedang duduk di salah satu bangku kantin, mendengar pembicaraan Risa dan Dika.
"Lihat, Risa. Nabilah lagi,” kata Dika. Risa melihat ke arah Nabilah, "Oh, dia memang rajin banget, Dika. Hampir tiap pagi aku lihat dia nitip kue basah di kantin sebelum bel masuk”.
“Kerja kerasnya luar biasa. Dia harus bangun pagi, membuat kue, lalu berangkat sekolah, dan masih sempat rajin belajar. Dia bahkan dapat nilai tertinggi di ulangan Biologi kelasnya kemarin, kan?
"Iya! Padahal dia anak baru dan pendiam. Dia membuktikan kalau kesederhanaan bukan berarti malas. Dia mandiri, berprestasi, dan enggak gengsi. Itu yang membuat dia sangat berbeda,” puji Risa.
"Itu yang aku kagumi. Dia tidak mencari perhatian, dia fokus pada tanggung jawabnya, baik berbisnis dan belajar. Seimbang. Dia punya karakter yang sangat kuat dan sangat dewasa untuk usianya”.
Nindi yang tertarik pada Dika berdiri di dekat loker, botol minum mahalnya tergenggam erat. Pujian Dika yang sangat tulus tentang karakter Nabilah terasa seperti serangan langsung terhadap dirinya.
Nindi mengingat saat ia mencoba melancarkan ancaman yang bertujuan membuatnya terlihat lebih baik di mata Dika. Saat Nabilah sedang terburu-buru menitip kue, Nindi sengaja berpapasan dan menjatuhkan buku-buku PR-nya. Nindi berkata, "Aduh, Nabilah, bisakah kamu tolong ambilkan? Aku mau membahas tugas dengan Dika. Kita harus fokus pada PR, bukan pada hal lain. Ini penting, soalnya aku harus cepat-cepat ke Dika. Kami sudah janjian sejak kemarin. Oh, ya, tolong diingat ya, Dika bukan tipe yang mudah teralihkan dengan hal-hal yang remeh seperti mencari perhatian”. Nindi sengaja ingin Nabilah memilih antara membantu Nindi atau fokus menitipkan dagangan kue.
Dan ternyata Nabilah dengan cepat membantu memungut buku Nindi, namun sambil tersenyum ia berkata, "Tentu, kak. Tapi maaf, aku harus cepat. Kantin akan ramai, dan tanggung jawabku untuk mengantarkan kue ini”. Nabilah pergi tanpa terlihat cemas atau malu, memprioritaskan tugasnya. Dika bahkan tidak memperhatikan drama kecil itu.
Nindi merasakan kekalahan. "Aku sudah coba membuat dia terlihat konyol di depan Dika. Aku sudah coba membandingkan dia dengan diriku. Tapi Dika dan Risa malah semakin memuji kedewasaan dan tanggung jawabnya. Ancamanku itu gagal karena dia punya prioritas yang lebih kuat daripada memedulikan drama dariku. Aku benci betapa naturalnya dia mendapatkan perhatian yang aku inginkan!"
Nindi melanjutkan berbisik, matanya tertuju pada Nabilah, "Aku harus cari cara lain. Kalau tidak bisa dijatuhkan, mungkin... didekati? Atau pura-pura menjadi temannya agar aku bisa mengendalikan dia...," batinnya berbisik.
"Bim, aku butuh bantuanmu banget. Tugasmu membuat Dika benci Nabila".
"Deal. Tapi jangan sampai Dika tahu aku terlibat, ya".
Sudut sekolah yang sepi. Bima menunjukkan screenshot palsu kepada Dika.
"Dik, aku tahu ini berat, tapi aku nggak bisa biarin kamu dibutakan sama Nabilah. Dia memanfaatkan kamu. Lihat chat ini. Dia bilang ke temannya kalau kamu itu cupu, dan dia cuma mendekat buat kenal sama kamu yang kaya raya. Dia bilang, 'Dika cuma tangga ke pintu gerbang uang'. Maafkan aku ambil ini diam-diam, tapi aku lebih baik kamu marah padaku daripada hancur karena dia. Dia nggak pernah beneran suka sama kamu, Dik. Dia cuma incar posisi kamu.",
Dika, melihat screenshot, wajah Dika pucat dan kemudian marah besar,” Bohong. Semuanya bohong! Aku benci dia! Nggak ada lagi Nabilah. Aku percaya kamu, Bim. Terima kasih sudah memberitahu aku meskipun menyakitkan".
Besoknya di taman sekolah Dika hanya berbicara berdua dengan Bima.
"Bim, aku nggak habis pikir. Aku sudah se-suka ini sama Nabilah, tapi dia cuma lihat dompetku. Aku mau block nomornya. Kamu setuju, kan?"
Bima panik, “Jangan, Dik. Jangan langsung block".
"Kenapa? Kamu bilang dia matre. Kenapa sekarang kamu aneh? Kamu mau dia dapat kesempatan kedua setelah menghinaku di belakang?"
Bima mulai berkeringat dan gelisah,” Aku nggak tahan, Dik. Aku bohong. Screenshot itu palsu. Nindi yang nyuruh. Dia bayar aku buat jauhin kamu dari Nabilah. Aku... aku nggak mau kamu marah sama aku, Dik".
Wajah Dika berubah drastis, antara marah dan sakit hati, “Nindi? Jadi dia yang merencanakan ini semua? Dan kamu, Bim? Kamu mengkhianati pertemanan kita? Hanya karena uang, kamu tega merusak perasaan aku ke Nabilah?"
“Iya, maafin aku Dik.. kebetulan aku juga butuh untuk biaya hidup. Kamu tau ayahku sudah tidak bisa kerja sejak kecelakaan itu”.
“Aku paham, tapi jangan dengan cara begitu. Kamu kenapa tidak cerita padaku aja,” sesal Dika sedih.
Dika mendatangi Nindi. Dika berdiri di depan Nindi dengan tegas, tanpa amarah, tapi kecewa, “Nin, Bima sudah jujur. Semua yang kamu lakukan, ancaman, suap, fitnah, semuanya terbongkar. Kenapa kamu sampai sejauh ini?"
Nindi menunduk, tak sanggup menatap mata Dika, akhirnya menangis, “Aku... aku cinta kamu, Dik. Aku nggak bisa lihat kamu dekat sama Nabilah. Aku gelap mata”.
"Aku hargai kejujuranmu sekarang. Tapi cinta sejati tidak pernah menggunakan cara kotor seperti itu. Aku maafkan kamu, tapi kamu harus minta maaf pada Nabilah".
Nindi mengangguk sambil sesenggukan, “Aku janji. Aku akan minta maaf".
Beberapa hari kemudian, Nindi menemui Nabilah dan Dika.
Nindi mendekati Nabilah dengan sedikit grogi tapi tulus, “Nabilah, aku minta maaf atas semua fitnah dan kejahatan yang aku lakukan. Aku sungguh-sungguh menyesal. Aku janji ini nggak akan terulang".
Nabilah tersenyum tulus, “Sudah, kak Nindi. Aku mengerti kamu cemburu. Yang penting sekarang kamu sudah mau jujur. Aku memaafkanmu."
Dika melihat mereka berdua,”Nah, begini kan enak. Kita semua teman, dan yang penting sekarang sudah rukun. Kita lupakan semua drama ini, ya?" Nindi dan Nabilah pun berpelukan seperti Teletubbies.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar