Seratus Bintang Untuk Memanggilmu Kembali (written by Ary-sensei)

  

Longsor itu datang tanpa suara, sebelum akhirnya mengaum bagai raksasa. Desa kecil Kirana, yang bernama Desa Harapan, tertimbun tanah merah yang bergulung seperti ombak. Kirana yang saat itu berusia 10 tahun baru saja selesai membantu ibunya menyiapkan makan malam ketika tanah di belakang rumah mereka retak dan roboh. Ia sempat ditarik ayahnya keluar, namun dalam kekacauan, Kirana terlepas dari genggaman. Ia terjatuh ke semak dekat sungai dan tak sadarkan diri. Saat membuka mata, wajah pertama yang ia lihat adalah Pak Arman, relawan dari Tim SAR Indonesia. “Kamu aman sekarang, Nak,” katanya dengan suara serak menahan iba. Setelah pencarian yang panjang, tidak ada kabar tentang kedua orang tua Kirana. Dengan restu kepala desa, Pak Arman membawa Kirana ke kota dan menitipkannya di sebuah panti bernama Panti Asuhan Kasih Bunda. Hari-hari pertama di sana, Kirana lebih banyak diam. Ia tidur sambil memegang liontin berbentuk bintang kecil yang menjadi peninggalan ibunya—satu-satunya benda yang tersisa dari keluarganya.

Di panti, Kirana dikenal sebagai anak yang tidak mudah menyerah. Ia bangun setiap pagi lebih cepat dari anak lain untuk membantu membersihkan halaman. Ia belajar giat di sudut kamar, ditemani lampu kuning dan suara jangkrik dari kejauhan. Suatu sore, ketika usianya menginjak 12 tahun, sepasang suami istri berhenti di depan gerbang panti. Mereka adalah Tuan Aditya dan Nyonya Laras, pasangan dermawan yang juga pemilik toko buku besar di kota itu, yaitu Rumah Buku Mentari. Mereka sering menyumbang buku dan alat sekolah ke panti. Namun hari itu, mereka datang dengan tujuan berbeda. Mereka menginginkan seorang anak untuk menjadi bagian dari keluarga. Dari puluhan anak, Kirana menarik perhatian Laras karena ia sedang membaca buku tebal sendirian tanpa diminta. “Matamu… ada cahaya yang sama seperti cahaya anak yang punya mimpi,” ujar Nyonya Laras. Setelah proses administrasi dan masa adaptasi, Kirana resmi menjadi putri mereka. Ia dibesarkan penuh cinta, disekolahkan di sekolah terbaik bernama Akademi Citra Gemilang, dan mendapat kesempatan mengembangkan bakat menulisnya. Sahabat barunya, mentor menulis bernama Kak Dara dari komunitas literasi Sahabat Aksara, membantu Kirana mengikuti berbagai lomba menulis remaja. Di usia sekolah, Kirana berkali-kali memenangkan penghargaan. Ia tumbuh menjadi gadis cerdas, berani bicara, dan selalu menjadikan liontinnya sebagai pengingat janji masa kecilnya: bahwa ia harus hidup dua kali lebih kuat agar cinta ibunya di langit tidak sia-sia.

Tahun demi tahun berlalu, Kirana kini berusia 22 tahun. Ia telah menjadi mahasiswi tingkat akhir di universitas ternama dan sedang menyusun novel pertamanya. Untuk mencari inspirasi dialog, ia rutin pergi mengamati kehidupan pasar tradisional. Suatu pagi, di sudut pasar yang riuh, ia membeli mangga dari lapak sederhana bernama Buah Segar Ratna milik Bu Ratna—seorang ibu paruh baya berkerudung biru dengan senyum yang teduh. Saat Bu Ratna membungkuk mengambil kantong plastik, liontin di lehernya terayun dan memantulkan cahaya matahari. Kirana membeku. Itu bukan sekadar mirip—itu liontin yang sama persis dengannya. Bu Ratna pun menegang ketika melihat liontin Kirana, namun ia cepat menunduk. “Kamu… dari sekolah mana dulu, Nak?” tanyanya perlahan. Kirana hanya menjawab singkat karena ia pun bingung dengan perasaannya sendiri. Sejak saat itu, Bu Ratna mulai menyelidiki semuanya diam-diam. Ia mengunjungi kembali panti tempat Kirana dulu dibesarkan. Ia bicara dengan pengurus lama, senior relawan, bahkan menelusuri artikel arsip dari media Kabar Nusantara yang dulu sempat meliput kisah anak selamat dari longsor. Semakin jauh ia mencari, semakin jelas bahwa Kirana bukan pertemuan kebetulan, melainkan potongan dari masa lalu sahabatnya yang hilang saat bencana.

Setelah proses berbulan-bulan, Bu Ratna akhirnya memberanikan diri mengirim surat kecil melalui kak mentor Kirana, Kak Dara. Mereka janjian bertemu di perpustakaan tua dekat alun-alun bernama Perpustakaan Kenangan. Kirana datang dengan jantung berdegup kencang. Di ruang buku yang sunyi, Bu Ratna berdiri lebih dulu. “Liontin itu… dibuat ibu kamu, Sari namanya,” kata Bu Ratna dengan suara pecah. “Dia sahabat terbaik saya. Dia pernah berjanji… jika ia tak bisa menjaga putrinya, saya yang akan melanjutkan.” Kirana menutup mulut, air matanya tumpah. Ia tak pernah mendengar nama ibunya lagi sejak umur 10 tahun, namun nama itu jatuh di hatinya seperti pintu yang akhirnya terbuka. Mereka berdua menangis lama, bukan karena hidup tidak adil, tapi karena Tuhan mempertemukan kembali yang sempat dipisahkan bumi. Bu Ratna memeluk Kirana, dan di pelukannya ada dua rasa pulang: pulang ke masa lalu, dan pulang ke arti keluarga yang lebih luas. Di luar perpustakaan, angin berhembus membawa daun-daun. Kirana menatap langit, lalu liontinnya. Untuk pertama kalinya, ia berbisik, “Ibu… aku sudah sampai di seratus bintangnya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)