Jejak Kaki Nabilah di Atas Embun (Part 1) (written by Henny)
Udara sore di Dusun Mawar selalu beraroma kayu bakar dan rempah dari dapur desa. Di sebuah gubuk tua berdinding bambu yang sederhana, Nabilah tinggal bersama neneknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Nabilah adalah gadis desa berwajah cantik dengan senyum yang teduh, namun di balik ketenangan wajahnya tersimpan semangat yang besar.
Kehidupan mereka berputar di sekitar dapur dan sawah. Nenek, meski sudah renta, adalah sosok pekerja keras.
"Nek, Nenek sudah lelah seharian di sawah. Biar Nabilah yang pijat kaki Nenek malam ini," ujar Nabilah suatu malam, saat mereka duduk di teras menghadap petak sawah yang kini telah ditanami padi muda.
Nenek tersenyum, garis kerut di wajahnya semakin dalam. "Ah, Nabilah. Sejak kamu kecil, kamu selalu tahu bagaimana membuat Nenek senang. Jangan khawatir, Nak. Tenaga Nenek masih kuat."
Nenek tahu betul, kerja keras di sawah saat musim tanam adalah investasi penting. Begitu panen tiba, mereka akan mendapatkan jatah beras, yang berarti mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membeli bahan pokok selama beberapa bulan ke depan.
Kemandirian itu juga yang ditanamkan Nenek pada cucunya. Sehari-hari, penghasilan mereka adalah dari kue-kue basah yang Nenek buat—kue lumpur, kue mangkok, atau kadang getuk.
Tiap fajar menyingsing, Nabilah sudah siap dengan tampah berisi dagangan. Ia tidak pernah merasa malu membawa kue-kue itu untuk dijual kepada teman-temannya di sekolah.
"Ini bukan sekadar kue, Nak," Nenek pernah berpesan. "Ini adalah martabat kita. Uang yang kamu dapat dari keringatmu sendiri akan lebih berkah dan berguna untuk masa depanmu."
Hasil penjualan kue itu, meski tak seberapa, selalu Nabilah bagi dua: untuk modal Nenek besok, dan sebagian lagi ia masukkan ke dalam kaleng biskuit bekas yang ia jadikan tabungan. Uang itu bukan untuk jajan, melainkan murni untuk biaya dan keperluan sekolahnya.
Kehidupan Nabilah adalah kisah tentang kerja keras, ketulusan, dan mimpi sederhana yang dibentuk di antara harum adonan kue dan aroma lumpur sawah.
Bel istirahat berbunyi nyaring. Seperti biasa, Nabilah segera menuju sudut kantin yang teduh. Belum sempat ia membuka tutup tampahnya, beberapa teman sudah mengerubunginya.
"Nabilah!" panggil Sinta sambil berlari kecil. "Aku mau lima kue lumpur, ya! Punyamu selalu enak, bikin ketagihan."
Nabilah tersenyum manis. "Tentu, Sinta. Lima kue lumpur, jadi lima ribu rupiah. Terima kasih sudah membeli," katanya sambil menyerahkan bungkusan daun pisang.
Budi, yang baru datang, menyela. "Nabilah, punyaku dua kue mangkok dan satu kue lumpur. Ini uangnya dua ribu rupiah," ujar Budi, agak tergesa-gesa.
Nabilah mengambil uang itu dan menghitung dengan cepat. Matanya yang jeli tidak pernah salah.
"Tunggu, Budi," ucap Nabilah lembut. "Dua kue mangkok dua ribu rupiah, ditambah satu kue lumpur seribu rupiah. Totalnya tiga ribu rupiah. Kamu kurang seribu."
Budi menepuk jidatnya. "Oh, iya, maaf, Nabilah. Aku buru-buru tadi. Ini tambahannya. Terima kasih," katanya seraya menyodorkan selembar seribuan.
"Sama-sama, Budi. Selamat menikmati," balas Nabilah, kembali fokus melayani teman-temannya yang lain.
Ia tahu betul, kejujuran dan ketelitian dalam menghitung uang adalah pelajaran terpenting yang Nenek ajarkan, sama pentingnya dengan pendidikan di sekolah. Hasil jualan ini adalah nafas bagi harapannya.
Beberapa hari terakhir, ada yang berbeda. Warung kue Nenek di depan rumah mendadak sepi. Pelanggan setia yang biasanya berebut kue mangkok dan kue lumpur kini hanya lewat, menoleh sekilas, lalu bergegas pergi. Bahkan di sekolah, dagangan Nabilah tak lagi laku keras. Beberapa teman menolak dengan alasan yang aneh, seolah-olah mereka merasa jijik.
"Nek, kue kita sisa banyak hari ini," bisik Nabilah di balik pintu dapur. Wajah cantiknya tampak layu.
Nenek, yang sedang mengolah adonan untuk esok, hanya menghela napas panjang. "Mungkin rezeki kita sedang ditahan sebentar, Nak. Besok kita coba lagi."
Namun, Nabilah tahu ini bukan sekadar soal rezeki.
Di saat Nabilah sedang melamun di teras, ia tak sengaja mendengar percakapan antara dua ibu yang melintas di depan gubuknya.
"Aku sudah bilang, Bu! Jangan beli di situ lagi," ujar suara yang ia kenali sebagai Bi Ijah, pemilik warung kecil di ujung dusun. "Kue mereka enak sekali itu bukan karena resep rahasia. Katanya dia pakai penglaris! Makanya Nenek itu bisa dapat beras jatah dari sawah dan cucunya bisa sekolah."
Ibu yang satu lagi berbisik ketakutan. "Astaga, Bi Ijah! Benarkah? Pantas saja kuenya laris manis, padahal rumahnya reot begitu."
Kata-kata itu bagai belati yang menusuk dada Nabilah. Ia merasakan darahnya mendidih, namun kakinya kaku. Penglaris! Sebuah tuduhan keji yang menghina kerja keras Nenek selama bertahun-tahun.
Air mata Nabilah luruh tanpa bisa ia tahan. Ia masuk ke kamar kecilnya, bersandar di dinding bambu yang rapuh, dan memeluk lututnya erat-erat. Hatinya menjerit.
"Mengapa kami? Mengapa orang miskin selalu dihina dan difitnah?" batinnya penuh kepedihan. "Apakah kami tidak berhak bahagia? Kami hanya menjual kue dari tepung dan gula, bukan dari penglaris”.
Ia memandang celengan kalengnya. Ia bekerja keras untuk setiap lembar uang di sana, bukan meminta-minta atau merugikan orang lain. Kenapa perjuangan mereka harus dibalas dengan fitnah semurah ini?
Sesaat kemudian, halaman gubuk Nenek sudah dipenuhi warga. Di barisan paling depan, berdiri Bu RT dengan wajah keras, di sampingnya ada Bi Ijah yang kini menunduk, wajahnya pucat pasi dan terlihat kaku.
Bu RT menatap lurus ke arah Nenek. "Nek, saya mewakili Rukun Tetangga di sini. Kami sudah menemukan bahwa fitnah tentang 'penglaris' yang beredar di dusun ini adalah kebohongan yang disebarkan oleh Bi Ijah," jelasnya tegas. "Dan sekarang, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Bi Ijah didorong maju sedikit oleh Bu RT. Wanita itu berdiri tegang, tidak ada air mata, hanya rasa malu dan keterpaksaan yang kentara. Ia mengangkat pandangannya sebentar, lantas kembali menunduk.
"Saya... saya minta maaf, nek," ucap Bi Ijah dengan suara datar dan kaku, seolah kata-kata itu dipaksa keluar dari tenggorokannya. "Saya iri. Saya telah menuduh nenek menggunakan penglaris untuk jualan kue. Saya tahu itu tidak benar. Maafkan saya sudah menghina kerja keras Nenek dan Nabilah."
Nenek diam sejenak, menatap mata Bi Ijah yang terlihat kosong, tanpa setitik pun penyesalan tulus.
"Nenek maafkan kamu, Ijah," kata Nenek dengan suara yang lirih namun terdengar jelas oleh semua orang. "Hati yang damai jauh lebih berharga daripada kue yang laris. Sekarang, berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatanmu."
Bi Ijah hanya mengangguk cepat dan mundur satu langkah, lega urusan ini cepat selesai. Nabilah, yang berdiri di belakang nenek, menyaksikan drama itu. Ia mengerti bahwa permintaan maaf tidak selalu tulus, tetapi kebenaran telah terungkap. Mereka telah mendapatkan kembali martabat mereka di hadapan warga.
Di sudut rumah Nabilah, tepatnya di ruang tamu yang bersebelahan langsung dengan teras, Sheila, berbisik mengomel panjang lebar “Kalo aku ga bakal memaafkan Bi Ijah. Nenekmu sampe sakit. Memang bener ya, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Bisa membunuh secara perlahan“, Nabilah tertawa, “Ya untungnya nenek bukan kamu”.
Mulut Sheila monyong seketika. Dia kesal setelah menyaksikan seluruh adegan dramatis saat Bi Ijah dengan terpaksa meminta maaf. Nabilah senang melihat neneknya semangat membuat kue lagi untuk dijual. Pelanggan kue nenek berdatangan lagi.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar