Langkah yang Tak Pernah Menyerah (written by Ary-sensei)
Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Bu Sari bangun lebih awal, menyiapkan sarapan sederhana, lalu menyuruh Reno, anak semata wayangnya yang berusia delapan tahun, bermain di halaman depan rumah. Reno mengangguk ceria sambil membawa mobil-mobilan kesayangannya. Bu Sari hanya masuk ke dapur sebentar untuk mengambil air minum. Namun ketika ia kembali, halaman rumah terasa sunyi dengan cara yang aneh. Reno sudah tidak ada.
Jantung Bu Sari berdetak kencang. Ia memanggil nama Reno berulang kali, berjalan ke ujung gang, lalu berlari tanpa alas kaki. Di pinggir jalan, ia melihat sepatu kecil Reno tergeletak. Tangannya gemetar saat mengambilnya. Sejak saat itu, waktu seakan berhenti. Tangis, teriakan, dan kepanikan bercampur menjadi satu. Warga berdatangan, polisi dipanggil, dan laporan orang hilang dibuat. Namun, Reno tetap tidak ditemukan.
Hari-hari berikutnya dipenuhi kelelahan dan penantian. Bu Sari menempelkan poster di tiang listrik, terminal, dan pasar. Ia mendatangi kantor polisi hampir setiap minggu, berharap ada kabar baru. Telepon yang berdering sering kali hanya berisi harapan palsu atau penipuan. Setiap malam, Bu Sari duduk memeluk foto Reno, meminta maaf karena merasa lalai sebagai ibu.
Waktu berjalan lambat dan kejam. Ada tetangga yang mulai menyarankan Bu Sari untuk mengikhlaskan. Ada pula yang diam-diam menyalahkannya. Kata-kata itu melukai, tetapi tidak mematahkan langkahnya. Ia menjual cincin pernikahan dan barang-barang berharga lainnya untuk terus mencari. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya menua sebelum waktunya, tetapi hatinya menolak menyerah.
Memasuki tahun ketiga, sebuah kabar datang dari kota lain. Seorang anak ditemukan bersama jaringan pekerja ilegal, dengan ciri-ciri yang mirip Reno. Tanpa berpikir panjang, Bu Sari berangkat. Ketika ia melihat seorang anak kurus dengan mata yang sangat ia kenal, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Anak itu tampak ragu saat Bu Sari memeluknya, seolah ingatannya terpecah oleh waktu.
Bu Sari lalu membisikkan lagu nina bobo yang dulu selalu ia nyanyikan. Perlahan, tubuh kecil itu gemetar. Anak itu menangis dan memanggil, “Ibu.” Saat itulah Bu Sari tahu, perjuangannya tidak sia-sia. Mereka pulang dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh, tetapi dengan cinta yang tak pernah hilang. Bu Sari belajar bahwa harapan bukan tentang hasil yang cepat, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah, sejauh apa pun jalannya.

Komentar
Posting Komentar