Saat Terakhir Bersamamu (written by Ary-sensei)

 


     Hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini dirayakan lebih meriah oleh SD Permata Bunda, sekolah anakku Clara. Sebagai ketua Paguyuban Orang Tua Siswa aku pasti ikut berperan aktif di kegiatan sekolah. Dari awal Agustus semua persiapan lomba telah dilakukan, bahkan acara puncak kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia juga sudah dipersiapkan dengan sangat baik oleh sekolah dan panitia pelaksana kegiatan.

     Hari demi hari sekolah, panitia dan para pendukung acara semakin sibuk, tak terkecuali aku. Aku membantu panitia mempersiapkan hadiah lomba, dari belanja hadiah sampai membungkus semua hadiah. Aku juga mengikuti beberapa lomba yang diselenggarakan sekolah untuk para wali murid agar kegiatan lomba semakin meriah.

     Hari itu, tanggal 19 Agustus, aku seharian berada di sekolah. Pagi itu, sekitar jam 6.00 pagi, aku bersama panitia berdiri di salah satu titik pos pemeriksaan tiket jalan sehat. Tiba-tiba, keponakanku menelepon. “Tante, bisa cepat pulang? Ini eyang tiba-tiba pingsan,” katanya terbata-bata, seakan dia menahan tangisnya. “Hah? Apa? Kenapa eyang? Tadi waktu tante berangkat, eyang baik-baik aja,” jawabku panik. “Aku nggak tahu tante. Eyang tiba-tiba tidur dengan posisi yang aneh di sofa. Aku coba bangunkan, tapi eyang diam saja. Aku takut,” katanya. Tentu saja dia takut, dia hanya bocah berumur 12 tahun yang belum mengerti apa-apa. Dalam kepanikan, aku mencoba berpikir. “Ah, tante coba telpon om Daniel dulu ya, biar om yang duluan pulang. Tante masih ada perlu sampai siang,” kataku akhirnya. “Iya deh, cepetan ya tante,” jawabnya dan langsung telepon ditutup.

     Aku segera menelpon mas Daniel. “Pa, sedang dimana?” tanyaku dengan panik. “Aku di rumah temanku, kenapa?” tanyanya tenang. “Ibu… Linda baru saja telepon katanya ibu tidur di sofa tapi dengan posisi yang aneh. Dia coba bangunkan tapi ibu diam saja. Bisa nggak papa pulang dulu terus periksa kondisi ibu?” kataku. Mas Daniel pun panik, “Oke, aku pulang sekarang.” Lalu telepon pun ditutup. Perasaanku mulai tak tenang, tapi aku tak bisa cepat pulang. Kegiatan di sekolah masih membutuhkanku.

     Bu Fitri yang rupanya menyadari ada yang tak biasa lalu bertanya, “Tumben Bu Anita lebih pendiam hari ini?” Aku yang sudah tak tenang dari tadi akhirnya bercerita keadaan ibu. Dia pun menyarankanku untuk minta izin pada panitia untuk pulang lebih awal karena memang kondisinya darurat. Bu Uut pun mengantarkanku pulang karena jarak rumah dan sekolah lumayan jauh.

     Sesampai di rumah aku langsung berlari ke kamar ibu. Di sana kulihat mas Daniel dan Linda sedang menjaga ibu. “Bagaimana keadaan ibu?” tanyaku khawatir. “Ibu sudah siuman, ini sedang tidur,” kata mas Daniel. Aku perhatikan wajah ibu, ada yang berbeda di wajah tenang itu tapi apa? Agak lama aku memperhatikannya, lalu berkata pada mas Daniel, “Pa, apa kita perlu memanggil Dokter Satya, tetangga belakang rumah itu?” Mas Daniel berpikir sebentar, “Oh iya, boleh juga.” Dia pun segera menelpon Dokter Satya dan kira-kira 20 menit kemudian beliau datang.

     Setelah memeriksa keadaan ibu, Dokter Satya berkata, “Lebih baik ibu segera dibawa ke rumah sakit. Saya khawatir beliau mengalami stroke.” “Apa?” tanyaku terkejut. Ah… berarti perasaanku tadi benar, aku melihat ada sesuatu di wajah ibu yang menurutku berbeda, tapi aku tak tahu apa. Aku perhatikan lagi wajah itu dan kali ini aku menemukan bibir ibu tidak seperti biasanya. “Ayo pa, cepat panggil ambulance, jangan sampai terlambat,” kataku panik. “Ya benar, kalau bisa segera dibawa ke rumah sakit. Stroke bisa menjadi kondisi berbahaya kalau tidak segera ditangani,” kata Dokter Satya lagi. Kami pun segera mempersiapkan kartu berobat dan baju ibu, juga baju ganti mas Daniel. Dia akan mengurus ibu dan menjaga ibu malam itu di rumah sakit.

     Hari itu ibu mendapatkan perawatan intensif karena didiagnosa stroke. Mas Daniel dan aku bergantian menjaga ibu. Di hari ketiga, aku boleh menjenguk ibu di ruang ICU. Ada rasa sedih di hatiku saat mendekat dan menggenggam tangan ibu. “Ibu, Anita di sini,” bisikku. Tiba-tiba nafas ibu tersengal, aku terkejut dan takut. Aku coba menenangkannya dengan membisikkan kata “Allah” berulang-ulang di telinga ibu, dan perlahan ibu mulai tenang. Hanya beberapa menit aku ada di sisi ibu dan tiba-tiba rasa sesak memenuhi dadaku. Aku mencium pipi ibu lalu lari keluar ruangan dengan tangis yang meledak tak terkendali. Aku menangis di sudut ruangan.

     Semua begitu tiba-tiba. Ibu tak pernah mengeluh apapun selama ini dan inilah yang membuat kami semua shocked, tak menyangka ibu terserang stroke. Mas Daniel memelukku, kami sama-sama tak mampu menahan kesedihan kami lagi. Malam itu mas Daniel menjaga ibu dan menyuruhku pulang supaya aku bisa beristirahat.

     Tengah malam mas Daniel menelponku sambil terisak, “Ma, ibu sudah meninggalkan kita semua. “Innalillahi wainnaillaihirajiun.” Tubuhku terasa lemas, tak ada kata yang keluar dari mulutku hanya tangis yang tak mampu terbendung lagi.

    “Ibu, waktu terakhirku bersamamu ada di pagi itu, ketika aku pamit untuk kegiatan sekolah. Kini, aku tak lagi bisa mendengar suara ibu, nasihat ibu, atau sekedar melihat senyum manis ibu”.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

Apalah Arti Menunggu? (written by Ary-sensei)