Kucing Kesayanganku Hilang (written by Henny)

 

Namaku Denita. Usia dua belas tahun. Aku tahu betul perbedaan rumah yang bahagia dan rumah yang sedang kehilangan.

Rumah yang bahagia itu ramai. Ada suara mama dari dapur, suara papa membuka pintu, suara sendok beradu dengan piring, dan suara kucing mengeong minta makan.

 Tapi sejak tiga hari lalu, rumah kami terasa sunyi. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena satu suara tidak ada. Suara kucing kesayanganku. Namanya Sapi.

 Aku yang memberinya nama itu. Bulunya putih dengan bintik-bintik hitam di punggung dan kepalanya, seperti sapi perah kecil. Setiap pulang sekolah, aku selalu berteriak dari pagar, "Sapiii…" dan dia selalu datang berlari.

 Sekarang, kandang itu sepi tinggal Ginger. Kucing gembul warna oranye. Aku duduk di teras, menatap keset kecil tempat Sapi biasanya tidur. "Sapi biasanya di sini jam segini," kataku pelan.

 Mama berhenti mengaduk sayur

"Mungkin masih main," katanya meski suaranya terdengar ragu.

Aku mengangguk, tapi dadaku terasa sesak. Di rumah masih ada satu kucing lain, kucing oren bernama Ginger. Bulunya jingga terang, badannya gendut, dan hobinya cuma makan lalu tidur. Ginger manja dan tanggap  tapi dia bukan Sapi.

 "Ginger warnanya udah sering liat, kalau Sapi kan unik ma," gumamku.

 Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku memeluk bantal, menatap langit-langit, membayangkan Sapi kedinginan atau kehujanan ya, aku kepikiran. "Kenapa kucing yang paling aku suka bulunya tega ninggalin aku?” bisikku.

 Ginger meloncat ke kasur dan mengeong pelan. Aku ga kesepian, “Makasih Ginger udah nemenin aku”. Ginger juga ga bisa tidur karena gelisah. Biasanya Ginger tidur berdua dengan Sapi di kandang..hiks hiks..

 Pagi berikutnya aku memberanikan diri. “Mama… aku mau nyari Sapi lagi ya,” kataku lesu. Mama terdiam lama. "Tapi jangan jauh-jauh dari komplek perumahan kita lho ya," katanya akhirnya.

 Aku keluar dari perumahan, berjalan ke arah kampung kecil di dekat rumah. Jalanannya sempit, rumah-rumah berdempetan, dan udara terasa panas. Aku baru memanggil-manggil tapi terkejut saat seseorang menepuk bahuku. "Mbak Denita!"aku menoleh ternyata Azura. “Kamu kenapa mukanya sedih?" tanyanya.

 "Sapi hilang," jawabku. Suaraku serak. Azura langsung menaruh tasnya.

"Ya udah. Aku temenin nyari yuk.”

"Kamu serius?" tanyaku. “Iya. Masa kamu nyari sendirian."

 Kami berjalan menyusuri gang sambil memanggil,

"Sapiiiii…!!" Azura ikut teriak, bahkan lebih kencang dariku.

“Kalau kucingnya pinter, dia denger kita," katanya. Kami bertanya ke ibu-ibu yang menyapu, ke anak-anak yang bermain, ke tukang bakso.

"Pak, apa bapak melihat kucing bulu putih totol hitam seperti sapi, di matanya bulunya hitam?" tanya Azura ke seorang bapak.

Bapak itu menggeleng. Kami melanjutkan perjalanan keliling komplek dan kampung, tapi tidak ketemu juga. Aku mulai lelah. Kakiku pegal. Mataku panas. Azura menghentikanku di bawah pohon.

"Duduk dulu," katanya. Dia membuka tas kecilnya dan menyodorkan camilan. “Nih..makan dulu. Kalau kamu pingsan, nanti malah ga ada tenaga untuk nyari Sapi".

Aku tertawa kecil meski air mataku jatuh, “Kamu bisa aja".

“Tapi camilanku ada gunanya kan?" katanya sambil tersenyum.

Saat kami duduk, aku baru sadar kampung ini seperti punya dunia kucing sendiri. Ada kucing belang tidur di atas motor, ada induk kucing kurus mengawasi dua anaknya di balik pot, dan ada kucing hitam yang duduk anggun di atas tembok.

 "Di sini banyak kucing ya?" kataku. Azura mengangguk. "Mereka kayak saling kenal. Kalau satu lari, yang lain nengok".

 Aku memperhatikan mereka satu per satu. Ada kucing belang yang tiba-tiba meloncat kaget karena motornya berbunyi, lalu pura-pura jalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Anak kucing kecil berebut makanan sampai salah satunya tercebur ke ember kosong dan langsung kabur dengan muka malu. Kucing hitam di tembok menjilat kaki sendiri sambil melirik kami, seperti sedang mengawasi.

Kami duduk lama. Aku bercerita tentang Sapi, tentang bagaimana aku dulu pernah kehilangan kucing dan betapa aku takut itu terulang lagi. Azura mendengarkan. "Nanti kalau Sapi pulang kita rayain ya,” hibur Azura. Aku mengangguk pelan.

Malam itu mama mengajakku keluar sebentar. Kami bawa plastik berisi nasi dan ikan. Di dekat perumahan, ada beberapa kucing yang biasa berkeliaran. Aku jongkok pelan, menuang makanan. "Sini… sini…" kataku. Kucing-kucing itu mendekat satu per satu. Aku membuka ponsel. Ada foto Sapi di sana. Foto waktu dia tidur miring, perutnya kelihatan buncit. Aku memperlihatkannya ke kucing-kucing itu. “Kalau ketemu kucing ini… bilang suruh pulang ya," ucapku lirih.

Mama diam saja. Tidak menertawakan. Tidak melarang. Hanya berpikir, ‘apa iya cara dari tok*  bener-bener mengembalikan kucing ya?’

Salah satu kucing menatap layar ponselku agak lama, lalu makan dengan lahap. Entah kenapa dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Pagi harinya aku melakukannya lagi. Kali ini papa ikut mencari mumpung masih ada sedikit waktu. Tapi sebentar karena tugas kantor yang belum selesai. Kami memberi makan kucing-kucing yang sama. Aku kembali membuka foto Sapi sambil menunjukkan ke kucing-kucing liar dan kucing tertangga. "Namanya Sapi," kataku. "Dia temen kalian."

Ginger duduk di teras rumah. Dari jauh dia memperhatikan. Aku menemukan cara itu di medsos. Aku pikir biar cepat kembali atau bisa ditemukan dengan mudah. Saat aku kembali, aku duduk di samping Ginger yang gelisah.

 "Ginger," bisikku, "kalau kamu bisa ke luar rumah, kamu pasti nyari Sapi, kan?" Ginger mengeong pelan. Aku tersenyum kecil. “Doain Sapi pulang ya".

 Aku tidak tahu apakah kucing memang bener-bener bisa hafal foto. Aku juga tidak tahu apakah mereka benar-benar bisa menyampaikan pesan. Aku hanya berusaha dan berpikir positif.

 Tapi pagi itu, aku merasa…aku sudah mencoba segalanya. Keesokan harinya di halaman rumah, aku memegang HP dengan wajah sedih, sementara Azura baru kembali dari luar pagar.

​Azura tiba-tiba datang, “Kak Denita, aku udah tanya orang-orang di taman, tapi belum ada yang lihat kucing hitam-putih. Apa kita cari lagi ke blok belakang?"

​Aku menghela napas, "Aku udah coba cara 'jalur langit' lewat kucing-kucing sini, Zura. Tadi pas si Loreng sama gengnya makan, aku sengaja jongkok di depan mereka."

​Azura heran, "Terus kakak ngapain? Ngajak mereka rapat?"

​Aku menjawab sambil tertawa, "Iya, he he lucu ya! Aku kasih lihat foto Sapi di HP. Aku bilang, 'cariin ya, ini temen kalian yang coraknya kayak sapi, badannya putih ada totol hitamnya. Aku minta tolong banget sama kalian, serius..”

​"Zaman sekarang cari kucing pakainya digital marketing lewat kucing liar ya? Tapi apa mereka beneran dengerin?" Azura sangat penasaran.

​"Jangan salah, insting mereka kuat. Lihat, Ginger  dari tadi juga nggak tenang. Dia nungguin saudaranya di atas pagar."

​Ginger, kucing oren duduk di pilar pagar, mengeong dengan nada panjang dan keras ke arah jalanan: "Mee-owwrr! Mee-owwrr!"

​"Ayo Ginger, panggil terus. Bilang ke Sapi kalau rumahnya di sini."

Sampai sore hari, kami menunggu di teras sambil terus berdoa dan membayangkan Sapi datang. Mama juga ikut menemaniku dan menghiburku. Mama menguatkan hatiku yang sedang sedih selama Sapi hilang.

Saat aku berdiri untuk pergi, Ginger tiba-tiba mendekat. Pelan sekali. Dia tidak menyentuh makanannya padahal biasanya lahap banget makannya. Ginger  hanya duduk di dekat kakiku. Matanya menatap foto di ponselku lebih lama dari kucing lain. Aku berjongkok.

"Kamu kenal dia ya?" bisikku.

Ginger tidak mengeong. Dia hanya mengibaskan ekornya pelan, lalu pergi. Entah kenapa dadaku terasa hangat. Seperti baru saja dijawab tanpa kata-kata.

 Tiba-tiba, Loreng muncul dari gang sebelah. Ia berjalan dengan tenang, lalu berhenti di depan gerbang sambil mengeong sekali seolah memberi kode. Tak lama, dari balik tanaman tetangga, muncul sosok kucing putih dengan corak hitam besar di punggungnya.

​Azura terperangah, "Kak! Itu Sapi! Ya ampun, beneran muncul!"

​"Sapi!!!! Sini, sayang!"

 Sapi, si kucing tuxedo, berjalan mendekat dengan bulu yang sedikit kotor. Ginger langsung melompat turun dan menyundul-nyundul kepala saudaranya itu, seolah-olah sedang memarahi sekaligus melepas rindu.

​"Aku nggak percaya... Si Loreng beneran bawa dia balik. Kayaknya mereka beneran ngerti foto yang kakak kasih lihat tadi," kata Azura nyaris tak percaya dengan apa yang terjadi.

​Aku memeluk Sapi, "Kekuatan kucing komplek emang nggak ada tandingannya. Makasih ya, Loreng! Besok kamu sama temen-temen kamu pesta ikan tongkol!"

Si Loreng hanya mengibaskan ekornya sekali, lalu berjalan pergi dengan gagah ke arah kegelapan gang.

Di dalam rumah Sapi tertidur lelah di pangkuanku setelah aku mandikan. Pulang dari luar badannya basah dan sedikit kotor. Entah kemana saja dia kok sampai begitu. Tubuhnya agak kurus karena kurang makan.

Setelah tubuhnya kering dan ditutup selimut, Sapi dikembalikan ke kandang bergabung dengan Ginger. Lucunya saat sudah berkumpul, Ginger pura-pura cuek. Padahal biasanya Sapi dijilat-jilat, main kejar-kejaran, tapi ini malah dilewati dan pura-pura tidak melihat. Tingkahnya kucing lucu dan ada aja.

Hari itu aku belajar sesuatu. Bahwa mencintai memang bisa membuat kita kehilangan. Tapi kadang, kasih sayang yang tulus juga mengembalikan yang sempat pergi. Meski tidak berbicara, mereka tahu siapa “saudara”, siapa yang hilang, dan ke mana harus kembali. Ikatan itu tidak selalu terlihat, tapi terasa dalam diam, dalam tatapan, dan dalam langkah kecil yang akhirnya membawa kembali pulang. Kadang, yang memanggil mereka pulang bukan suara manusia, melainkan panggilan sunyi dari alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)