Postingan

Langkah yang Tak Pernah Menyerah (written by Ary-sensei)

Gambar
  Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Bu Sari bangun lebih awal, menyiapkan sarapan sederhana, lalu menyuruh Reno, anak semata wayangnya yang berusia delapan tahun, bermain di halaman depan rumah. Reno mengangguk ceria sambil membawa mobil-mobilan kesayangannya. Bu Sari hanya masuk ke dapur sebentar untuk mengambil air minum. Namun ketika ia kembali, halaman rumah terasa sunyi dengan cara yang aneh. Reno sudah tidak ada. Jantung Bu Sari berdetak kencang. Ia memanggil nama Reno berulang kali, berjalan ke ujung gang, lalu berlari tanpa alas kaki. Di pinggir jalan, ia melihat sepatu kecil Reno tergeletak. Tangannya gemetar saat mengambilnya. Sejak saat itu, waktu seakan berhenti. Tangis, teriakan, dan kepanikan bercampur menjadi satu. Warga berdatangan, polisi dipanggil, dan laporan orang hilang dibuat. Namun, Reno tetap tidak ditemukan. Hari-hari berikutnya dipenuhi kelelahan dan penantian. Bu Sari menempelkan poster di tiang listrik, terminal, dan pasar. Ia ...

Janji Di Bangku Paling Belakang (written by Ary-sensei)

Gambar
  Raka dan Alya pertama kali bertemu saat hari orientasi siswa baru di sebuah SD negeri kecil. Keduanya sama-sama anak pendiam yang memilih duduk di bangku paling belakang, bukan karena malas, tetapi karena ingin menghindari sorotan. Sejak hari itu, mereka menjadi dua anak yang selalu bersama. Raka membantu Alya mengangkat tasnya yang berat, sementara Alya membantu Raka membaca dengan lancar. Persahabatan mereka tumbuh sederhana, tanpa janji besar, hanya kebiasaan untuk saling ada. Mereka tumbuh bersama. SD berganti SMP, lalu SMA. Di setiap jenjang, bangku belakang selalu menjadi tempat mereka. Namun, semakin dewasa, dunia mulai memberi ujian. Raka aktif di organisasi dan lomba, sering pulang larut dan kelelahan. Alya tetap tenang, fokus belajar demi impian kuliah. Raka mulai merasa Alya menjauh. Alya merasa Raka berubah dan tak lagi punya waktu. Keduanya memilih diam, menyimpan rasa kecewa tanpa tahu cara mengungkapkannya. Konflik kecil berubah menjadi jarak yang nyata saat SMA ke...

Kucing Kesayanganku Hilang (written by Henny)

Gambar
  Namaku Denita. Usia dua belas tahun. Aku tahu betul perbedaan rumah yang bahagia dan rumah yang sedang kehilangan. Rumah yang bahagia itu ramai. Ada suara mama dari dapur, suara papa membuka pintu, suara sendok beradu dengan piring, dan suara kucing mengeong minta makan.  Tapi sejak tiga hari lalu, rumah kami terasa sunyi. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena satu suara tidak ada. Suara kucing kesayanganku. Namanya Sapi.  Aku yang memberinya nama itu. Bulunya putih dengan bintik-bintik hitam di punggung dan kepalanya, seperti sapi perah kecil. Setiap pulang sekolah, aku selalu berteriak dari pagar, "Sapiii…" dan dia selalu datang berlari.  Sekarang, kandang itu sepi tinggal Ginger. Kucing gembul warna oranye. Aku duduk di teras, menatap keset kecil tempat Sapi biasanya tidur. "Sapi biasanya di sini jam segini," kataku pelan.  Mama berhenti mengaduk sayur "Mungkin masih main," katanya meski suaranya terdengar ragu. Aku mengangguk, tapi dadaku terasa ...

Jejak Kaki Nabilah di Atas Embun (Part 2) (written by Henny)

Gambar
  Tak terasa sudah tiga tahun berlalu. Sore hari, di gerbang sekolah SMA Pantura ada kegiatan MOS.​ Di area pameran hasil tugas MOS, Nabilah sedang membereskan mading kelompoknya yang berisi kolase dan hiasan tangan yang sangat unik. Risa dan Dika, berjalan mendekat, melihat hasil kerjanya. Nindi berjalan di belakang mereka, diam-diam menyimak.  ​Dika berkata, "Coba lihat mading kelompok ini, Ris. Rapi banget”. Risa menoleh, "Wow, yang ini menarik perhatianku. Kolasenya beda dari yang lain, detailnya kuat. Siapa yang buat ya?”  ​Dika melihat daftar nama di sudut mading, “Oh, ini kelompok Nabilah.” Risa berkata," Pantas saja! Aku lihat dia memang pendiam, tapi ternyata dia kreatif banget. Lihat handicraft daur ulang yang dia pakai di sini, sederhana tapi artistik. Ini menunjukkan dia enggak cuma cantik alami, tapi juga punya isi.”  ​Dika mengamati Nabilah yang sedang menyusun sisa lembar kerjanya dengan tenang.” Iya, dia pendiam, tapi hasilnya bicara banyak. Itu lebih...

Jejak Kaki Nabilah di Atas Embun (Part 1) (written by Henny)

Gambar
    Udara sore di Dusun Mawar selalu beraroma kayu bakar dan rempah dari dapur desa. Di sebuah gubuk tua berdinding bambu yang sederhana, Nabilah tinggal bersama neneknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Nabilah adalah gadis desa berwajah cantik dengan senyum yang teduh, namun di balik ketenangan wajahnya tersimpan semangat yang besar.  ​Kehidupan mereka berputar di sekitar dapur dan sawah. Nenek, meski sudah renta, adalah sosok pekerja keras.  ​"Nek, Nenek sudah lelah seharian di sawah. Biar Nabilah yang pijat kaki Nenek malam ini," ujar Nabilah suatu malam, saat mereka duduk di teras menghadap petak sawah yang kini telah ditanami padi muda.  ​Nenek tersenyum, garis kerut di wajahnya semakin dalam. "Ah, Nabilah. Sejak kamu kecil, kamu selalu tahu bagaimana membuat Nenek senang. Jangan khawatir, Nak. Tenaga Nenek masih kuat."  ​Nenek tahu betul, kerja keras di sawah saat musim tanam adalah investasi penting. Begitu panen tiba, mereka akan mendapatkan ...

Maya dan Perisai Kurcaci (Part 2) (written by Henny)

Gambar
  Di SMP, prestasi akademisku meningkat drastis setelah aku dan Maya berkomitmen pada "Balas Dendam Kecerdasan". Kami memenangkan Lomba Sains tingkat Kota dengan hadiah beasiswa penuh dan piala besar terpampang di ruang kepala sekolah.  ​Aku sekarang adalah Kila, si juara, yang disayangi guru dan diandalkan teman. Sebutan si kurcaci dan si mini masih ada tapi tidak lagi berdaya. Tapi mereka ternyata masih menyimpan dendam dengan membuat kekacauan supaya aku malu. Terbiasa membully atau merundung membuat mereka tertantang untuk membullyku.  Aku mulai memfokuskan semua energiku ke dalam pelajaran. Aku belajar sangat keras, membaca semua buku yang bisa aku temukan. Aku dan Maya menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan bersama-sama. Kami berkomitmen pada "Balas Dendam Kecerdasan."  ​Anak iseng lainnya, Vania dan gengnya, masih sesekali mencoba mengganggu kami. Suatu siang, kami sedang berjalan di koridor membawa setumpuk buku tebal fisika dan kimia. Vania melihat ka...

Maya dan Perisai Kurcaci (Part 1) (written by Henny)

Gambar
  Namaku Kila sejak SD kelas 3 selalu dirundung teman-temanku. Penampilanku yang kecil, kurus dan pendek. Sekolah menganggap bullying hal yang biasa. Itulah yang membuatku makin tidak percaya diri dan mudah ketakutan.  Bagi orang dewasa mungkin itu hal yang bisa untuk bercanda. Padahal untuk seusiaku waktu itu pasti membuat hatiku perih dan sedih. Aku jadi rendah diri sampai sekarang. Sempat bertemu dengan cewek yang lebih cantik, bentuk tubuh yang bagus dan pintar. Hanya dia yang mau berteman denganku  “Hai si kurcaci, sini deh!" panggil Bima, si anak paling besar di kelas. Aku menunduk, berusaha mempercepat langkahku menuju perpustakaan. "Mau ke mana, si tulang berjalan?" goda Risa, teman dekat Bima. Dia menghadangku. "A-aku mau ke perpustakaan," jawabku pelan, hampir tak terdengar.  ​"Perpustakaan? Buat apa? Si kecil kayak kamu paling juga cuma bisa baca buku cerita bergambar!" Bima tertawa keras, diikuti oleh tawa Risa dan beberapa teman lain.  ​M...