Postingan

Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2: Yang Tertinggal Setelah Waktu Pergi Aku membaca kalimat itu berulang kali. “Maaf… aku sudah bilang, waktuku tidak banyak.” Seolah dengan membacanya lagi, maknanya akan berubah. Tapi tidak. Kalimat itu tetap sama. Sederhana. Singkat. Dan entah kenapa… terasa jauh lebih berat daripada seharusnya. Aku duduk di bangku halte itu lebih lama dari biasanya. Lebih lama dari yang seharusnya. Seakan kalau aku tetap di sana, Aira akan muncul seperti hari-hari sebelumnya—datang tanpa janji, duduk di sebelahku, lalu berkata sesuatu yang aneh tapi menenangkan. Tapi sore itu… tidak ada siapa-siapa. Hanya angin, daun kering, dan aku yang akhirnya sadar—aku tidak benar-benar mengenalnya. Hari-hari setelah itu terasa janggal. Halte yang sama. Jam yang sama. Tapi rasanya… berbeda. Aku tetap datang. Entah untuk apa. Mungkin untuk memastikan kalau semua ini hanya kebetulan yang buruk. Atau mungkin… aku hanya belum siap menerima kalau itu benar-benar akhir. Beberapa hari k...

Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1: Kita Punya Waktu, Kan? Aku pertama kali bertemu Aira di halte yang hampir kosong, sore itu. Langit sedang ragu—tidak benar-benar cerah, tapi juga belum siap hujan. Awan menggantung rendah, seperti menahan sesuatu yang belum waktunya jatuh. Seperti kalimat yang tertahan di ujung lidah. Aku datang lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa hari itu terasa panjang, dan aku hanya ingin cepat pulang. Tapi halte itu sepi. Terlalu sepi. Hanya ada satu orang di sana. Dia duduk di ujung bangku, memeluk tasnya erat, seolah ada sesuatu yang ingin ia jaga agar tidak jatuh. Pandangannya lurus ke depan, ke arah jalan yang kosong—tapi matanya tidak benar-benar melihat ke sana. Lebih seperti… sedang melihat sesuatu yang jauh. Atau mungkin, sedang kehilangan sesuatu. Aku sempat ragu untuk mendekat. Tapi anehnya, justru karena dia terlihat begitu “sendiri”, aku merasa tidak enak kalau ikut diam saja. Jadi aku duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk menyada...

Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 2

Gambar
  Bagian 2 — Hal yang Tidak Tertulis Hari itu hujan turun lebih lama dari biasanya. Kantor mulai sepi. Satu per satu orang pulang, menyisakan suara tetesan air di jendela. Nadira masih di mejanya, pura-pura sibuk. “Belum pulang?” Suara itu lagi. Nadira menoleh. Arka berdiri di sana, memegang tasnya. “Sebentar lagi,” jawab Nadira. Arka mengangguk, tapi tidak langsung pergi. “Aku boleh jujur?” katanya tiba-tiba. Nadira menegang sedikit. “Apa?” Arka menarik napas pelan. “Lo berubah.” Langsung. Tanpa basa-basi. Nadira tidak menjawab. “Kalau aku salah, bilang aja. Tapi… rasanya kayak lo lagi menjauh.” Hening. Suara hujan semakin jelas terdengar. “Aku…” Nadira membuka suara, tapi kalimatnya menggantung. Apa yang harus dia bilang? Bahwa semuanya karena sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat? “Karena aku?” tanya Arka lagi, lebih pelan. Nadira menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya—ketulusan....

Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 1

Gambar
  Bagian 1 — Angka yang Tertera di Langit   Nadira sudah terlalu sering mendengar kalimat yang sama, “Udah 35, masih sendiri juga?” Awalnya dia tersenyum. Lama-lama, senyumnya jadi semacam kebiasaan yang otomatis muncul—tanpa benar-benar terasa. Bukan karena dia tidak ingin menikah.Justru sebaliknya. Nadira percaya bahwa jodoh itu bukan sekadar pertemuan, tapi kecocokan yang sudah ditentukan sejak lahir . Dan baginya, salah satu petunjuk paling kuat adalah shio. Ia lahir di tahun Ular Tanah. Dalam catatan yang ia simpan rapi sejak kuliah, ada daftar shio yang paling cocok, cukup cocok, dan yang sebaiknya dihindari. Dan sejauh ini… hidupnya seperti sedang membuktikan teori itu. Dua hubungan serius yang pernah ia jalani kandas. Yang pertama terasa sempurna—sampai akhirnya penuh konflik kecil yang melelahkan. Yang kedua lebih tenang, tapi terasa hambar, seperti membaca buku tanpa alur. Keduanya, tidak cocok secara shio. Sejak itu, Nadira berjanji pada dirinya sendiri: “...

Cerpen Romantis: Ketika Cinta Belajar Mengerti - Bagian 3

Gambar
  Bagian 3 — Pelukan yang Tidak Pernah Pergi Arga masih diam. Memberinya waktu untuk jujur pada perasaannya sendiri. “Aku kangen pesanmu,” lanjut Laila dengan suara yang hampir pecah. “Kangen kamu yang selalu nanya aku sudah makan atau belum.” Air mata akhirnya jatuh di pipinya. “Aku juga sadar sesuatu…” “Apa?” tanya Arga pelan. Laila menarik napas dalam. “Aku cemburu sama adik-adikmu.” Arga sedikit terkejut. Tapi tidak marah. “Aku merasa mereka lebih penting dari aku,” lanjut Laila jujur. Arga menggeleng pelan. “Kamu salah kalau berpikir begitu.” “Lalu kenapa kamu selalu bersama mereka?” Arga tersenyum kecil. Ada kelelahan di wajahnya. “Karena mereka masih butuh aku.” Ia berhenti sejenak. “Tapi itu tidak pernah berarti kamu tidak penting.” Mata Laila kembali berkaca-kaca. “Aku terlalu egois ya?” Arga menggeleng lagi. “Kamu cuma takut kehilangan.” Kalimat itu membuat tangisan Laila pecah. “Aku memang takut kehilangan kamu,” katanya liri...