Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 2
Bagian 2: Yang Tertinggal Setelah Waktu Pergi Aku membaca kalimat itu berulang kali. “Maaf… aku sudah bilang, waktuku tidak banyak.” Seolah dengan membacanya lagi, maknanya akan berubah. Tapi tidak. Kalimat itu tetap sama. Sederhana. Singkat. Dan entah kenapa… terasa jauh lebih berat daripada seharusnya. Aku duduk di bangku halte itu lebih lama dari biasanya. Lebih lama dari yang seharusnya. Seakan kalau aku tetap di sana, Aira akan muncul seperti hari-hari sebelumnya—datang tanpa janji, duduk di sebelahku, lalu berkata sesuatu yang aneh tapi menenangkan. Tapi sore itu… tidak ada siapa-siapa. Hanya angin, daun kering, dan aku yang akhirnya sadar—aku tidak benar-benar mengenalnya. Hari-hari setelah itu terasa janggal. Halte yang sama. Jam yang sama. Tapi rasanya… berbeda. Aku tetap datang. Entah untuk apa. Mungkin untuk memastikan kalau semua ini hanya kebetulan yang buruk. Atau mungkin… aku hanya belum siap menerima kalau itu benar-benar akhir. Beberapa hari k...