Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 2

 


Bagian 2 — Hal yang Tidak Tertulis

Hari itu hujan turun lebih lama dari biasanya. Kantor mulai sepi. Satu per satu orang pulang, menyisakan suara tetesan air di jendela.

Nadira masih di mejanya, pura-pura sibuk.

“Belum pulang?”

Suara itu lagi. Nadira menoleh. Arka berdiri di sana, memegang tasnya.

“Sebentar lagi,” jawab Nadira.

Arka mengangguk, tapi tidak langsung pergi.

“Aku boleh jujur?” katanya tiba-tiba.

Nadira menegang sedikit. “Apa?”

Arka menarik napas pelan.

“Lo berubah.”

Langsung. Tanpa basa-basi. Nadira tidak menjawab.

“Kalau aku salah, bilang aja. Tapi… rasanya kayak lo lagi menjauh.”

Hening. Suara hujan semakin jelas terdengar.

“Aku…” Nadira membuka suara, tapi kalimatnya menggantung.

Apa yang harus dia bilang? Bahwa semuanya karena sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat?

“Karena aku?” tanya Arka lagi, lebih pelan.

Nadira menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya—ketulusan.

“Aku percaya sesuatu,” akhirnya Nadira berkata.

Arka tidak memotong.

“Aku percaya… kalau beberapa hal itu udah ditentukan dari awal. Kayak… siapa yang cocok sama kita, siapa yang nggak.”

Arka mengernyit sedikit, tapi tetap mendengarkan.

“Dan… kadang, kita cuma perlu ngikutin itu,” lanjut Nadira.

“Dan aku termasuk yang nggak cocok?” tanya Arka.

Langsung. Tepat sasaran. Nadira menunduk.

“Menurut… yang aku percaya, iya.”

Hening lagi. Tapi kali ini, rasanya berbeda.

Arka tersenyum kecil. Bukan senyum lucu seperti biasanya. Lebih ke arah… menerima.

“Lucu juga ya,” katanya pelan.

Nadira mengangkat kepala.

“Apa?”

“Aku pikir… kita cocok.”

Kalimat itu sederhana. Tapi sempat membuat Nadira kaget.

“Aku juga…” Nadira hampir mengatakan sesuatu, tapi berhenti.

Arka menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Yaudah,” katanya. “Mungkin… nggak semua hal harus dipaksain.”

Nadira merasa ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.

“Arka—”

“Tapi satu hal,” potong Arka.

Nadira terdiam.

Arka tersenyum lagi.

“Kalau suatu hari nanti lo ngerasa… mungkin ada hal yang lebih kuat dari yang lo percaya sekarang—” Ia berhenti sejenak.“—aku harap saat itu belum terlambat.”

Beberapa bulan berlalu. Arka pindah divisi. Interaksi mereka semakin jarang… sampai akhirnya hampir tidak ada. Dan hidup Nadira kembali seperti dulu. Tenang. Teratur. Sesuai dengan “yang seharusnya”.

 

Suatu malam, Nadira membuka lagi catatannya. Ia membaca daftar shio itu. Masih sama. Tidak berubah. Tapi kali ini, ada satu pertanyaan yang muncul—Bagaimana kalau yang salah bukan orangnya… tapi cara aku membaca tanda? Ia menutup buku itu. Lalu tanpa sadar, membuka kontak di ponselnya. Nama itu masih ada. Ia menatapnya lama. Jari-jarinya hampir menekan tombol pesan—lalu berhenti.

Di luar, langit malam terlihat tenang. Seperti tidak pernah menyimpan jawaban apa pun. Dan Nadira hanya duduk di sana…dengan satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar ia selesaikan: Apakah ia baru saja menghindari kesalahan…atau justru melewatkan sesuatu yang seharusnya ia perjuangkan?


 Beberapa bulan berlalu. Waktu berjalan seperti biasa—bahkan terlalu biasa. Nadira tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menjalani hidup yang ia yakini sudah “benar”. Ia bahkan sempat mencoba membuka diri dengan beberapa orang yang secara shio dianggap cocok.

Tapi entah kenapa…tidak ada yang terasa seperti dulu. Tidak ada yang membuatnya menunggu pagi hari dengan perasaan ringan. Tidak ada yang membuatnya sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan… bahkan saat ia tidak meminta. Dan anehnya, semakin ia mencoba meyakinkan diri—semakin sering nama itu muncul di pikirannya. Arka.

Suatu sore, tanpa alasan yang jelas, Nadira membuka kembali kontaknya. Masih ada. Masih sama. Ia menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, ia membiarkan dirinya jujur.

Mungkin… ia salah.

Mungkin selama ini, ia terlalu sibuk mencari kecocokan di atas kertas… sampai lupa merasakan apa yang benar-benar ada di depan mata. Tangannya gemetar sedikit saat mulai mengetik.

“Ka… apa kabar?”

Ia berhenti.

Menghapus.

Mengetik lagi.

“Aku lagi inget obrolan kita dulu…”

Hapus lagi.

Lalu akhirnya—

“Arka, aku mau jujur. Kayaknya aku salah waktu itu.”

Ia menatap pesan itu lama. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Lalu—send.

Satu menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tidak ada balasan.

“Ya mungkin lagi sibuk,” gumamnya pelan, mencoba tenang.

Tapi ada sesuatu yang terasa… aneh.

Malamnya, Nadira iseng membuka media sosial kantor lama. Ia tidak benar-benar mencari apa-apa. Sampai akhirnya—ia melihat satu unggahan. Foto beberapa orang berdiri di depan karangan bunga. Serba putih. Wajah-wajah yang ia kenal. Dan di tengahnya… seseorang yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lihat dalam bingkai seperti itu. Arka. Tersenyum. Tapi hanya dalam foto.

Jari Nadira membeku di layar. Ia membaca keterangan di bawahnya, berulang-ulang, seolah berharap kata-katanya berubah.

Kami berduka atas kepergian rekan kami, Arka…

Tanggalnya. Dua minggu lalu. Kecelakaan.

Dunia Nadira seperti berhenti. Tidak ada suara. Tidak ada pikiran yang jelas. Hanya satu hal yang terasa sangat nyata—ia terlambat.

 

Ponselnya masih terbuka. Dan di layar itu…pesan yang ia kirim beberapa jam lalu masih belum terbaca. Tidak akan pernah terbaca.

Nadira perlahan duduk di lantai. Tangannya gemetar, tapi ia tetap memeluk ponselnya seolah itu satu-satunya yang tersisa. Tiba-tiba, semua hal yang dulu ia yakini terasa… tidak berarti.

Daftar shio itu. Prinsip-prinsya. Keyakinannya tentang “yang sudah ditentukan”. Semua terasa begitu kecil… dibandingkan satu hal yang tidak sempat ia lakukan—memberi kesempatan.

Air matanya jatuh tanpa suara. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nadira tidak mencari tanda di langit, tidak mencari jawaban di catatan lamanya. Karena ia akhirnya mengerti—bahwa beberapa hal tidak pernah ditakdirkan untuk menunggu.

Di layar ponselnya, pesan itu tetap di sana. Sunyi. Tidak terbalas.

Seperti perasaan yang akhirnya ia akui…tepat setelah semuanya berakhir.


(Tamat)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Cerpen Romantis: First Love

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)