Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 1
Bagian
1: Kita Punya Waktu, Kan?
Aku
pertama kali bertemu Aira di halte yang hampir kosong, sore itu.
Langit
sedang ragu—tidak benar-benar cerah, tapi juga belum siap hujan. Awan
menggantung rendah, seperti menahan sesuatu yang belum waktunya jatuh. Seperti
kalimat yang tertahan di ujung lidah.
Aku
datang lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa hari itu terasa panjang, dan aku
hanya ingin cepat pulang.
Tapi
halte itu sepi. Terlalu sepi.
Hanya
ada satu orang di sana.
Dia
duduk di ujung bangku, memeluk tasnya erat, seolah ada sesuatu yang ingin ia
jaga agar tidak jatuh. Pandangannya lurus ke depan, ke arah jalan yang
kosong—tapi matanya tidak benar-benar melihat ke sana. Lebih seperti… sedang
melihat sesuatu yang jauh. Atau mungkin, sedang kehilangan sesuatu.
Aku
sempat ragu untuk mendekat. Tapi anehnya, justru karena dia terlihat begitu
“sendiri”, aku merasa tidak enak kalau ikut diam saja. Jadi aku duduk di
sebelahnya.
Tidak
terlalu dekat. Tapi cukup untuk menyadari kalau dia menarik napas lebih pelan
dari kebanyakan orang. Seperti setiap detik baginya… berharga.
“Busnya
lama, ya?” tanyaku akhirnya.
Bodoh.
Dari sekian banyak kalimat di dunia, itu yang kupilih.
Dia
menoleh.
Matanya…
tenang. Tapi bukan tenang yang kosong—lebih seperti tenang yang sudah menerima
banyak hal.
“Iya…”
jawabnya pelan, lalu tersenyum kecil.
“Atau mungkin… kita yang datang terlalu cepat.”
Aku
terdiam sebentar, mencerna.
“Datang
terlalu cepat?” ulangku.
“Iya,”
katanya, menatap ke depan lagi. “Kadang kita pikir kita tunggu sesuatu terlalu
lama… padahal mungkin kita aja yang
belum siap sampai di waktunya.”
Aku
mengernyit kecil.
“Berat juga buat ukuran obrolan halte.”
Dia
tertawa pelan. Suaranya ringan, tapi cepat hilang, seperti tidak ingin
terdengar terlalu lama.
“Maaf.
Kebiasaan mikir aneh.”
“Enggak,”
aku ikut tersenyum. “Justru lebih menarik daripada ‘panas ya hari ini’.”
Dia
menoleh lagi, kali ini dengan ekspresi sedikit lebih hidup.
“Jadi
kamu tipe yang suka obrolan aneh?”
“Kalau
sama orang yang tepat, iya.”
Aku
nggak tahu kenapa aku bilang itu.
Tapi anehnya, aku nggak merasa canggung.
Dia
tidak langsung menjawab. Hanya menatapku beberapa detik, seolah menimbang
sesuatu.
Lalu
dia mengalihkan pandangan.
“Kalau
gitu… hati-hati,” katanya pelan.
“Hati-hati
kenapa?”
“Kadang
obrolan yang nggak biasa… bikin kita nggak bisa kembali ke yang biasa lagi.”
Aku
tertawa kecil, setengah menganggap itu bercanda.
“Kayaknya
kamu terlalu dalam deh buat sore hari.”
“Mungkin,”
jawabnya singkat.
Hening
sebentar.
Angin
lewat pelan, membawa bau tanah yang belum sepenuhnya basah. Langit semakin
gelap, tapi hujan belum juga turun.
Seperti
menunggu sesuatu.
“Ngomong-ngomong…”
aku meliriknya, “kamu sering nunggu di sini?”
Dia
mengangguk kecil.
“Sering.”
“Jam
segini?”
“Iya.”
“Berarti…”
aku ragu sebentar, lalu nekat, “kita mungkin bakal sering ketemu?”
Dia
tidak langsung menjawab.
Aku
sempat berpikir dia akan menghindar atau hanya mengangguk biasa.
Tapi
dia justru tersenyum lagi—lebih lembut dari sebelumnya.
“Kalau
waktunya mengizinkan.”
Jawaban
itu… sederhana.
Tapi entah kenapa terasa seperti sesuatu yang lebih besar dari sekadar
kebetulan.
Tak
lama, suara bus terdengar dari kejauhan.
Aku
berdiri, bersiap.
Dia
juga.
Dan
untuk sesaat, aku merasa… sayang sekali kalau percakapan ini berhenti di sini.
“Eh,”
panggilku, sedikit gugup, “namamu siapa?”
Dia
naik satu langkah ke dalam bus, lalu menoleh.
“Aira.”
Aku
mengangguk.
“Revan.”
Dia
mengulang pelan, seolah memastikan nama itu tidak hilang begitu saja.
“Revan…”
Lalu,
sebelum benar-benar masuk, dia berkata:
“Jangan
datang terlalu cepat besok.”
Aku
mengernyit.
“Maksudnya?”
Tapi
pintu sudah tertutup.
Dan
bus itu… pergi.
Meninggalkanku
dengan satu pertanyaan aneh, dan perasaan yang lebih aneh lagi.
Sejak
hari itu… semuanya terasa berjalan terlalu cepat.
Aku
tidak pernah benar-benar mengajak Aira untuk bertemu lagi.
Tapi
entah bagaimana, kami selalu bertemu.
Di
halte yang sama.
Di waktu yang hampir sama.
Dengan percakapan yang semakin panjang setiap harinya.
Tentang
hal-hal sederhana—kopi yang terlalu pahit, langit yang berubah warna, atau lagu
lama yang tiba-tiba terasa berbeda.
Dan
tanpa aku sadari… aku mulai menunggu.
Bukan
busnya.
Tapi dia.
“Aku
takut waktu itu kejam,” katanya suatu sore.
Kami
sedang duduk di bangku taman, tempat baru yang kami temukan secara tidak
sengaja. Daun-daun kering jatuh perlahan, seolah ikut mendengarkan percakapan
kami.
“Kenapa?”
tanyaku.
Aira
tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap ke depan, ke arah jalan setapak yang
kosong.
“Soalnya…
waktu nggak pernah nunggu siapa-siapa.”
Aku
mengangguk pelan.
Masuk akal. Tapi cara dia mengatakannya terasa… berbeda.
Seperti
dia tidak sedang membicarakan teori.
Tapi pengalaman.
Hari-hari
berikutnya terasa seperti potongan-potongan kecil yang terlalu indah untuk
disadari saat itu.
Aira
tertawa saat aku salah menyebut nama minuman di kafe kecil.
Aira diam lama saat melihat langit senja, seolah sedang menyimpan sesuatu di
dalamnya.
Aira selalu pamit lebih dulu… tanpa pernah benar-benar menjelaskan kenapa.
“Aku
harus pergi dulu.”
“Cepat
banget?” tanyaku suatu hari.
Dia
tersenyum.
“Iya… waktuku nggak banyak.”
Aku
tertawa kecil, menganggap itu hanya cara lain untuk bilang dia sibuk.
Seharusnya…
aku tidak menganggapnya sesederhana itu.
Suatu
sore, hujan turun lebih cepat dari biasanya.
Kami
berlari kecil ke bawah atap halte, napas kami tidak beraturan, tapi kami
sama-sama tertawa.
“Kayaknya
hujan juga nggak sabaran,” kataku.
Aira
menatap hujan yang jatuh deras di depan kami.
“Banyak hal yang datang lebih cepat dari yang kita kira.”
Aku
menoleh ke arahnya.
Entah kenapa, kalimat itu terasa berat.
“Kalau
suatu hari aku nggak ada,” katanya tiba-tiba, “kamu bakal gimana?”
Aku
langsung mengernyit.
“Kenapa ngomong gitu sih?”
Dia
tersenyum lagi. Senyum yang sama—hangat, tapi selalu menyisakan sesuatu yang
tidak bisa aku pahami.
“Jawab
aja.”
Aku
menghela napas.
“Ya… aku bakal nyari kamu. Sampai ketemu.”
Dia
tertawa pelan, lalu menggeleng.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Kamu
harus tetap jalan.”
Hujan
masih turun. Tapi entah kenapa, dunia terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.
Hari
itu, untuk pertama kalinya… aku merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan
belum benar-benar kumiliki.
Beberapa
hari setelahnya, Aira tidak datang.
Aku
menunggu di halte seperti biasa.
Jam yang sama.
Bangku yang sama.
Tapi
tidak ada dia.
“Ya
mungkin lagi sibuk,” pikirku.
Besoknya,
aku datang lagi.
Tidak
ada.
Hari
berikutnya.
Masih
tidak ada.
Sampai
akhirnya… aku menyadari sesuatu.
Aku
bahkan tidak punya nomor teleponnya.
Tidak tahu rumahnya di mana.
Tidak tahu apa pun tentang hidupnya… selain potongan waktu yang dia habiskan
bersamaku.
Dan
untuk pertama kalinya… waktu terasa benar-benar kejam.
Di
bangku taman, tempat kami biasa duduk, aku menemukannya.
Sebuah
amplop kecil, terselip di antara celah kayu.
Dengan
namaku di depan.
Revan.
Tanganku
bergetar saat membukanya.
Dan di
dalamnya, hanya ada satu kalimat.
“Maaf…
aku sudah bilang, waktuku tidak banyak.”
(Bersambung
ke Bagian 2…)

Komentar
Posting Komentar