Cerpen Drama: Pesan Yang Tak Pernah Terbaca - Bagian 1
Bagian 1 — Angka yang Tertera di Langit
Nadira sudah terlalu sering mendengar kalimat yang sama, “Udah
35, masih sendiri juga?” Awalnya dia tersenyum. Lama-lama, senyumnya jadi
semacam kebiasaan yang otomatis muncul—tanpa benar-benar terasa. Bukan karena
dia tidak ingin menikah.Justru sebaliknya.
Nadira percaya bahwa jodoh itu bukan
sekadar pertemuan, tapi kecocokan yang sudah ditentukan sejak lahir. Dan
baginya, salah satu petunjuk paling kuat adalah shio.
Ia lahir di tahun Ular Tanah. Dalam
catatan yang ia simpan rapi sejak kuliah, ada daftar shio yang paling cocok,
cukup cocok, dan yang sebaiknya dihindari. Dan sejauh ini… hidupnya seperti
sedang membuktikan teori itu.
Dua hubungan serius yang pernah ia jalani
kandas. Yang pertama terasa sempurna—sampai akhirnya penuh konflik kecil yang
melelahkan. Yang kedua lebih tenang, tapi terasa hambar, seperti membaca buku
tanpa alur. Keduanya, tidak cocok secara shio. Sejak itu, Nadira berjanji pada
dirinya sendiri: “Aku nggak akan lagi melawan tanda-tanda.”
Di kantor barunya, semuanya berjalan biasa
saja… sampai hari itu.
“Ini laporan revisinya udah aku perbaiki, tapi kayaknya
bagian analisisnya masih bisa diperdalam.”
Suara itu tenang. Jelas. Percaya diri. Nadira
mendongak. Seorang pria berdiri di samping mejanya. Kemejanya rapi, lengan
digulung sedikit. Wajahnya… ya, cukup untuk membuat seseorang memperhatikan dua
kali.
“Thanks,” jawab Nadira singkat, berusaha terdengar
profesional.
“By the way, aku Arka.”
“Nadira.”
Pertemuan itu sederhana. Tapi sejak saat itu, ada sesuatu
yang berubah.
Hari-hari berikutnya terasa… lebih ringan.
Arka sering mengajak diskusi, kadang bercanda ringan, kadang diam tapi nyaman.
Dia bukan tipe yang berisik, tapi setiap kata yang keluar selalu terasa pas.
Dan yang paling membuat Nadira tidak tenang—Arka
memperhatikannya. Bukan dengan cara yang berlebihan, tapi cukup untuk membuat
Nadira sadar… bahwa ia tidak sendirian di ruangan itu.
“Lo kalau lagi mikir serius, suka ngetuk-ngetuk meja,” kata
Arka suatu sore.
Nadira terdiam.
“Kok lo tahu?”
Arka cuma mengangkat bahu kecil. “Keliatan.”
Sejak kapan dia diperhatikan sedetail itu?
Malam itu, Nadira membuka kembali catatan
lamanya. Tangannya sedikit ragu saat mengetik di ponsel:
“Shio Arka tahun lahir…”
Ia menunggu hasilnya muncul. Dan ketika itu akhirnya
terlihat—Nadira berhenti bernapas sejenak. Tidak cocok.Bahkan masuk
kategori yang harus dihindari. Ia menatap layar cukup lama.
Seolah berharap huruf-huruf itu berubah. Tapi tidak.
Hari berikutnya, Nadira mulai menjaga
jarak. Ia tetap ramah. Tetap profesional. Tapi ada batas yang ia bangun
perlahan. Arka menyadarinya.
“Lo lagi sibuk?” tanya Arka suatu siang.
“Lumayan.”
Padahal tidak.
“Oke…” Arka mengangguk pelan. Ada jeda. “Kalau butuh
bantuan, bilang ya.”
Biasanya Nadira akan langsung mengiyakan. Tapi kali ini, ia
hanya tersenyum kecil. “Iya.” Dan itu saja.
Malamnya, Nadira menatap langit dari
jendela kamarnya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ini yang benar. Lebih
baik berhenti sebelum terlambat.
Tapi untuk pertama kalinya…teorinya terasa seperti sesuatu yang dingin. Dan anehnya, yang membuatnya ragu bukan Arka. Tapi dirinya sendiri.
(bersambung ke Bagian 2)

Komentar
Posting Komentar