Cerpen Cinta Sedih: Waktu Yang Cepat Berakhir - Bagian 2
Bagian 2: Yang Tertinggal Setelah
Waktu Pergi
Aku membaca
kalimat itu berulang kali.
“Maaf… aku sudah bilang, waktuku
tidak banyak.”
Seolah dengan membacanya lagi,
maknanya akan berubah. Tapi tidak.
Kalimat itu tetap sama.
Sederhana.
Singkat.
Dan entah kenapa… terasa jauh lebih berat daripada seharusnya.
Aku duduk di
bangku halte itu lebih lama dari biasanya. Lebih lama dari yang seharusnya. Seakan
kalau aku tetap di sana, Aira akan muncul seperti hari-hari sebelumnya—datang
tanpa janji, duduk di sebelahku, lalu berkata sesuatu yang aneh tapi
menenangkan. Tapi sore itu… tidak ada siapa-siapa. Hanya angin, daun kering,
dan aku yang akhirnya sadar—aku tidak benar-benar mengenalnya.
Hari-hari setelah
itu terasa janggal. Halte yang sama.
Jam yang sama. Tapi rasanya… berbeda. Aku tetap datang. Entah untuk apa. Mungkin
untuk memastikan kalau semua ini hanya kebetulan yang buruk. Atau mungkin… aku
hanya belum siap menerima kalau itu benar-benar akhir.
Beberapa hari
kemudian, aku memberanikan diri bertanya pada penjaga warung kecil di dekat
halte.
“Pak… yang sering duduk di sini,
cewek, rambutnya panjang, sering pakai tas abu-abu… Bapak pernah lihat?”
Pria itu berpikir sejenak.
“Oh… yang sering sendirian itu?”
katanya.
Aku langsung mengangguk.
“Iya, itu.”
Dia menghela napas pelan.
“Udah nggak ada, Nak.”
Kalimat itu… terlalu cepat.
“Maksudnya?” tanyaku, hampir tidak
terdengar.
“Beberapa hari lalu… dia pingsan di
sini. Orang-orang lalu membawanya ke rumah sakit. Waktu itu dia dirawat di
rumah sakit beberapa hari.”
Jantungku seperti berhenti
sebentar.
“Terus… sekarang?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Hanya
menatapku, dengan ekspresi yang tidak perlu dijelaskan.
“Waktu itu saya sempat
mengunjunginya di rumah sakit. Dia sering beli makanan di warung saya, jadi
saya merasa tidak enak hati kalau tidak mengunjunginya. Tapi waktu itu, ibunya
bilang…” Pemilik warung itu terdiam sebentar, “Dia udah nggak kuat.”
Dunia tidak
langsung runtuh. Tidak ada suara dramatis.
Tidak ada langit yang tiba-tiba gelap. Semuanya tetap sama. Justru itu yang
terasa aneh. Karena di dalam diriku… ada sesuatu yang hilang, tapi dunia tidak
ikut berubah.
“Dia sakit apa?” tanyaku dengan
rasa sesak di dada.
“Kata ibunya, dia ada tumor di
ginjalnya. Awalnya, dia masih bisa bertahan, tapi rasa sakit itu membuatnya menyerah”.
Rasanya dunia berputar, mataku
berkunang-kunang. Kata-kata pria itu membuat dadaku semakin sesak.
Aku pulang hari
itu tanpa benar-benar tahu bagaimana langkahku sampai ke rumah. Di dalam kamar,
aku membuka kembali amplop itu. Kali ini aku memperhatikan lebih detail.
Kertasnya sedikit
kusut. Seolah sudah lama disimpan. Dan di balik lipatan kecil di bagian bawah…
ada sesuatu yang sebelumnya tidak kulihat. Tulisan lain. Lebih kecil. Seolah
ditulis dengan ragu.
“Aku sudah tahu dari awal. Tapi aku
tetap ingin bertemu kamu.”
Tanganku gemetar. Lalu, di bawahnya
lagi—
“Terima kasih sudah membuat waktuku
terasa lebih lama.”
Semua kalimat yang
dulu terasa aneh… sekarang mulai masuk akal.
“Waktuku nggak banyak.”
“Jangan datang terlalu cepat.”
“Kalau waktunya mengizinkan.”
Bukan sekadar kata-kata. Itu…
peringatan yang tidak pernah benar-benar kupahami.
Aku kembali ke
halte itu keesokan harinya. Dan hari berikutnya.
Dan setelahnya. Awalnya aku
berharap keajaiban bahwa semua ini salah, bahwa dia akan muncul lagi, duduk di
sana, dan berkata bahwa semuanya hanya lelucon yang terlalu jauh. Tapi waktu…
tidak pernah bekerja seperti itu.
Suatu sore, hujan
turun. Persis seperti hari itu. Aku berdiri di bawah atap halte, di tempat yang
sama saat kami pernah tertawa bersama. Dan untuk pertama kalinya… aku tidak
mencoba menahan apa pun.
“Harusnya aku lebih peka…” gumamku
pelan.
Harusnya aku sadar
dari cara dia bicara. Dari cara dia pamit. Dari cara dia selalu terlihat
seperti sedang mengejar sesuatu yang tidak bisa ditunggu. Tapi aku tidak. Aku
mengira… kami punya waktu.
Aku menutup mata,
membiarkan suara hujan memenuhi semuanya. Dan di tengah suara itu… seolah aku
masih bisa mendengar suaranya.
“Kamu harus tetap jalan.”
Sekarang aku
mengerti. Bukan karena dia ingin pergi.
Tapi karena dia tahu… dia tidak bisa tinggal. Hari itu, untuk pertama kalinya
sejak dia pergi… aku tidak menunggunya. Aku hanya duduk. Mengingat. Menerima.
Langit perlahan
berubah warna. Senja datang, seperti biasa. Aku tersenyum kecil, menatap ke
arah jalan yang dulu selalu kami lihat bersama.
“Katanya… jangan datang terlalu
cepat,” gumamku.
Aku menghela napas pelan.
“Tenang aja… kali ini aku nggak
akan buru-buru.”
Aku berdiri. Melangkah pergi. Bukan
karena aku sudah melupakan, tapi karena akhirnya… aku mengerti bahwa bukan
waktunya yang terlalu cepat berakhir tapi kita… yang tidak pernah benar-benar
sadar, betapa sedikit waktu yang kita punya.
Tamat.

Komentar
Posting Komentar