Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

The Mirror House (written by Ary-sensei)

Gambar
  Malam itu Taman Orchid ramai sekali. Kota Chestnut Grove sedang merayakan ulang tahun kota yang ke 75 tahun. Pak Walikota mengadakan Bazar dan Pasar Malam untuk warga selama 1 minggu dan semua orang bergembira. Salah satu wahana yang menarik di Pasar Malam itu adalah The Mirror House. Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu terdapat puluhan kaca yang tertata seperti Labirin. Banyak orang yang penasaran dengan wahana ini dan mereka ingin merasakan sensasinya. Apa itu? Sulit mencari jalan keluar….hahahahaha…. Tetapi, cermin dalam “The Mirror House” adalah cermin ajaib yang bisa menunjukkan masa depan orang yang melewatinya. Dari banyaknya orang yang penasaran adalah Ethan dan Eullore. Mereka adalah kakak beradik. Ethan adalah anak laki-laki berumur 20 tahun, dan Eullore adalah anak perempuan berumur 15 tahun. “Kak, aku ingin ke The Mirror House. Aku tidak pernah ke wahana seperti itu, boleh ya kak?” pinta Eullore pada Ethan. Setelah berpikir sebentar, Ethan pun menyetuju...

Angsa Putih dari Danau Biru (written by Ary-sensei)

Gambar
  Dahulu kala, di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, terdapat sebuah danau bernama Danau Biru. Airnya sangat jernih dan di sana hiduplah seekor angsa putih yang sangat cantik. Angsa ini berbeda dari angsa biasa, karena bulunya bisa bersinar di malam hari. Orang-orang desa memanggilnya Aurora yang berarti “Cahaya”. Entah siapa yang awalnya memberinya nama itu, orang desa secara turun-temurun mengenalnya dengan nama indah itu. Orang-orang desa percaya bahwa Aurora adalah penjaga danau. Konon katanya, siapa pun yang berlaku jujur dan baik hati akan mendapatkan keberuntungan jika bertemu angsa itu. Banyak orang berkunjung ke danau hanya untuk bertemu dengan Aurora. Mereka ingin bernasib baik, sehingga mereka rajin datang ke danau itu untuk menemuinya. Sayangnya, keberadaan Aurora menjadi misteri. Dia tak mudah dilihat, apalagi ditemui. Suatu hari, seorang anak bernama Eullore berjalan di tepi Danau Biru. Ia sedih karena keluarganya miskin dan ayahnya sedang sakit. Ibunya ...

Warisan (written by Ary-sensei)

Gambar
Kupandangi pesan WhatsApp yang dikirim ibu pagi itu. Sebuah undangan makan malam? Sedikit terdengar aneh, ada apa di balik undangan itu? Sudah satu bulan aku tidak pulang ke kota kesayanganku, Malang. Memang Surabaya-Malang hanya dua jam perjalanan, tapi pekerjaan membuatku tenggelam dalam kesibukan. “Bisa Deva pulang akhir pekan ini? Kita akan mengadakan makan malam. Sudah lama sekali kita tidak makan bersama. Ibu sangat mengharapkan kedatanganmu.” Aku menghela nafas, berpikir bagaimana bisa “sedikit melarikan diri” dari segudang pekerjaan yang tidak memberiku waktu bernafas. Akhirnya kubalas pesan itu, “Insyaallah aku pulang Sabtu ini bu, tunggu ya.” Sebuah balasan singkat yang kembali membuatku berpikir keras bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang tersisa dalam dua hari. Sang surya mulai bergeser ke arah barat ketika mobilku berhenti di depan sebuah rumah. Rumah itu terlihat kokoh, bersih dan rapi. Halaman depan terlihat cantik dengan bunga-bunga dan tanaman rindang yang berjajar r...

Kau Curi Hatiku (written by Ary-sensei)

Gambar
  Fei Fei menikmati indahnya berbagai bunga yang mekar di Taman Bai Hua Gu. Pagi itu dia bersepeda pulang dari pasar setelah pamannya Li Wei memintanya berbelanja sayur-sayuran. Dua hari sekali Fei Fei pergi ke pasar membeli bahan membuat guan bing yang dijual pamannya Li Wei. Guan bing adalah makanan sederhana yang mirip dengan makanan kebab, berisi sayuran dan sosis. Makanan ini sangat disukai orang Cina, termasuk Fei Fei. Hari itu Taman Bai Hua Gu seperti surga yang dipenuhi aneka macam bunga. Fei Fei si gadis periang berlari kecil ke sana kemari sambil menghirup harumnya bunga-bunga itu, bahkan ia berebutan dengan kumbang dan kupu-kupu. Harum bunga memenuhi udara dan membuat udara terasa segar. Fei Fei menjadi sangat bersemangat. Tanpa disadarinya, sedari tadi ada sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan. Memperhatikan Fei Fei yang seperti anak kecil itu, senyum tipis pemuda itu tersungging di bibirnya. “Ada-ada saja,” gumamnya. Pemuda bernama Yi Chen itu berjalan perl...

Cerpen Drama: Aku Butuh Psikiater

Gambar
  Dada ini terasa sesak. Aku merasa nasib baik tak berpihak padaku. Masalah datang silih berganti, seakan menguji ‘masih kuatkah aku menghadapi?’ Orang yang seharusnya jadi pelindungku justru menjadi akar masalah yang terus menerus ini. Apa reaksinya ketika masalah baru muncul lagi? “Biarkan saja, nanti kan selesai dengan sendirinya.” Rasanya ingin kucakar dan kumaki lelaki ini yang tak pernah merasa bersalah apalagi berdosa telah memberiku banyak masalah. Pedro Alexander yang 7 tahun lalu kunikahi mempunyai usaha rental mobil. Dia memiliki bisnis ini setelah kami menjalani pernikahan 3 tahun. Sebelumnya dia seorang staf Marketing di sebuah perusahaan periklanan, tapi karena dia dipindahkan ke luar kota dan merasa bahwa gajinya tidak sepadan dengan pengeluarannya, maka dia keluar dan memulai bisnisnya sendiri. Sebenarnya saat dia memiliki gagasan bisnis ini, aku sudah memberikan banyak pertimbangan. Menurutku, bisnis ini tidak mudah. Bukan hanya menjaga kepercayaan pemilik mob...

Cerpen Romantis: First Love

Gambar
Hari itu hari pertama Nia ospek di perguruan tinggi pilihannya, ambil jurusan Sastra Inggris. Pasti dia senang, bangga, dan merasa keren jadi anak mahasiswi. Bangun super pagi dan berangkat saat mentari belum muncul di ufuk timur. Jalanan masih sepi, tapi kampus itu mulai ramai dengan kedatangan mahasiswa baru. “Jaga diri ya nak,” kata Pak Hari pada Nia dan dibalas dengan anggukan dan salim berpamitan. Dengan langkah pasti dan penuh kebanggaan, Nia memasuki gerbang. Ayahnya menatap dengan bangga. Jam 6.30 pagi di saat banyak orang masih menggeliat malas di atas ranjang, Nia dan para mahasiswa sudah berbaris rapi di lapangan. Para senior memberi instruksi apa saja yang akan mereka lakukan hari itu. Mereka semua terlihat galak, mereka selalu berteriak bersahutan membuat suasanya menegangkan selama ospek. Nia berusaha tetap semangat meskipun kegiatan hari itu cukup melelahkan. Ada sesi mereka mengikuti pembekalan di kelas dan ada sesi mereka harus berbaris dalam aula atau lapangan unt...

Cerpen Drama: Kalau Aku Jadi Kamu

Gambar
  Kriiiingggg……kriiiiingggg….. Suara keras berulang-ulang itu terpaksa membuat Netta terbangun dari tidurnya di kala mimpi sedang indah-indahnya. Mimpi di saat si ganteng Pedro berjalan ke arahnya dengan senyum yang makin membuat wajahnya ganteng ga ada obat. Momen di saat Pedro mengulurkan tangannya dan Netta hendak meraih tangan itu dengan bahagia. Suara alarm yang keras dan berulang-ulang itu mengagetkannya dan membuyarkan mimpi yang rasanya ingin bukan hanya sekadar mimpi. Netta mendengus kesal ketika dilihatnya sudah jam 4.30 pagi. Menggeliat sebentar, lalu dia turun dari tempat tidur berkasur tipis itu sambil mengusap-usap matanya yang masih mengantuk. Terdengar suara seorang perempuan dan seorang laki-laki di luar kamarnya, membuatnya begitu penasaran ingin mengintip siapakah mereka. Dari balik jendela bergorden maroon, dilihatnya si anak kaya Sarah dan ayahnya sedang mengobrol sambil olahraga pemanasan. Seperti biasanya, jogging adalah olahraga rutin mereka setiap pagi s...

Cerpen Romantis: Email Terakhir Dari Kyoto - Bagian 1

Gambar
Bagian 1 – Pertemuan Tak Terduga Lamunan Reza kembali melayang pada seorang gadis Jepang bernama Naomi. Dua tahun lalu mereka bertemu secara tidak sengaja di Bali. Saat itu Reza sedang berada di sana untuk urusan kantor. Hari itu seharusnya hanya menjadi hari biasa—hingga langkahnya terhenti di sebuah toko kerajinan tangan kecil di sudut jalan. Saat berbelok di lorong toko, Reza hampir saja menabrak seseorang.Seorang gadis. Gadis itu menunduk cepat dan berkata pelan, “Sumimasen.” Reza terdiam. Ia tidak mengerti apa yang gadis itu katakan, tetapi cara gadis itu menundukkan kepala dengan sopan membuatnya terpaku. Gadis itu memiliki wajah yang lembut, rambut hitam panjang yang jatuh rapi di bahunya, dan mata yang teduh seperti senja. Melihat Reza hanya berdiri mematung, gadis itu sedikit kebingungan. Ia lalu berkata lagi dengan bahasa Inggris yang pelan. “Excuse me.”  Reza tersentak, seolah baru kembali ke dunia nyata. “Oh—sorry,” katanya gugup sambil memberi jalan. Namun langkah ...