Kalau Aku Jadi Kamu (written by Ary-sensei)

 

Kriiiingggg……kriiiiingggg….. Suara keras berulang-ulang itu terpaksa membuat Netta terbangun dari tidurnya di kala mimpi sedang indah-indahnya. Mimpi di saat si ganteng Pedro berjalan ke arahnya dengan senyum yang makin membuat wajahnya ganteng ga ada obat. Momen di saat Pedro mengulurkan tangannya dan Netta hendak meraih tangan itu dengan bahagia. Suara alarm yang keras dan berulang-ulang itu mengagetkannya dan membuyarkan mimpi yang rasanya ingin bukan hanya sekadar mimpi.

Netta mendengus kesal ketika dilihatnya sudah jam 4.30 pagi. Menggeliat sebentar, lalu dia turun dari tempat tidur berkasur tipis itu sambil mengusap-usap matanya yang masih mengantuk. Terdengar suara seorang perempuan dan seorang laki-laki di luar kamarnya, membuatnya begitu penasaran ingin mengintip siapakah mereka. Dari balik jendela bergorden maroon, dilihatnya si anak kaya Sarah dan ayahnya sedang mengobrol sambil olahraga pemanasan. Seperti biasanya, jogging adalah olahraga rutin mereka setiap pagi sebelum beraktivitas. Netta memandangi wajah cantik Sarah dengan perasaan cemburu berat. ‘Beruntung sekali dia, cantik dan kaya. Apapun bisa dia dapatkan dengan mudah, termasuk pacar seganteng Pedro’, dengusnya.

Ditutupnya gorden dengan kesal dan dengan malas dia melangkah keluar kamar. Dilihatnya pintu kamar Dany masih tertutup rapat. “Kak Dany bangun!!!! Cepat mandi, hari ini aku harus berangkat lebih pagi, ayo buruaaaannnn!!!!” teriaknya sebagai rutinitas paginya. Dia juga mengetuk kamar Ferdi dengan keras, “Ferdiiiii…..banguuuunnnn!” Suara keras Netta seperti petir yang menyambar di saat hujan. Tak lama, pintu kamar pak Manar terbuka. “Mereka belum bangun? Suara kerasmu itu membangunkan ayah, harusnya mereka juga sudah bangun”. Netta mengangkat bahunya dan segera masuk kamar mandi sambil menyambar handuknya yang tergantung di jemuran dekat kamar mandi.

Rutinitas pagi keluarga Pak Manar bukan jogging seperti kebiasaan keluarga Pak Matthew dan putrinya. Semenjak Bu Manar meninggal 2 tahun lalu, semua kegiatan di rumah sederhana itu menjadi tanggung jawab mereka berempat. Dany, si sulung, membantu menyapu lantai rumah; Ferdi membantu mencuci piring yang tersisa dari makan malam semalam; Netta sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berempat; dan Pak Manar mencuci mobilnya lalu memanaskan mesin, bersiap mengantarkan ketiga anaknya sekolah dan setelah itu dia berangkat ke kantor.

“Sarapan sudah siap!” teriak Netta. Tak lama mereka berempat sudah berada di ruang makan dan segera menghabiskan sarapan mereka pagi itu. “Ayo cepat bersiap, sudah jam 6.15,” kata Pak Manar sambil membereskan piringnya. Ketiga anaknya segera membereskan piring mereka dan menyambar tas. Dalam hitungan menit, mereka semua sudah dalam perjalanan menuju sekolah Dany, Ferdi, dan Netta. “Hari ini ayah lembur di kantor, jadi kalian makan malam bertiga ya, jangan tunggu ayah. Mungkin ayah akan pulang larut malam,” kata Pak Manar. “Oke yah,” sahut Netta.

Ketika Netta turun dari mobil, dia lupa bahwa flute-nya tertinggal di mobil. Saat dia sadar, dia berteriak memanggil ayahnya. Sayangnya, mobil itu sudah menjauh. Saat Netta hendak mengejar mobil itu, sebuah mobil menabraknya. Mobil mewah itu berhenti dan seorang gadis turun dengan panik. “Kamu tidak apa-apa?” tanya seorang wanita. Samar Netta melihat wajah wanita itu, tapi tak lama kemudian Netta tak sadarkan diri. Satpam sekolah dan beberapa guru membawanya ke klinik tak jauh dari sekolah.

Netta menemukan dirinya berada di sebuah kamar penuh dengan barang branded. Ada lemari kecil penuh dengan tas, lemari pakaian penuh dengan baju-baju bagus dan mahal, rak sepatu kecil dengan sepatu-sepatu yang mewah, dan sebuah meja rias dengan berbagai kosmetik mahal….’Waaaahhhh!’ Netta girang sekali. Disentuhnya semua barang itu. Dicobanya sebuah gaun berwarna pink, tas kecil dan sepatu merah berhak tinggi, dipoleskan bedak di wajahnya dan lipstik di bibir tipisnya, lalu disemprotkannya parfum….’Waaaahhh…cantiknya aku sekarang!’ teriak Netta sambil berputar-putar. Dilemparkan tubuhnya ke kasur empuk yang tertata begitu rapi….’Empuk sekali!’ lalu Netta melompat-lompat di atas kasur itu.

“Saraaaaahhhh….ayo cepat turun, makan malam sudah siap!” teriak seorang wanita dari lantai bawah. Netta berhenti melompat, lalu dia bergumam “Sarah?” Panggilan itu terdengar lagi, “Saraaaahhhh….cepatt!” Netta diam mematung. “Sarah? Kok Sarah?” Tak lama terdengar ketukan di pintu kamar. Dengan ragu dibukanya pintu itu. “Ayo cepaaattt!!!” tarik seorang anak kecil dengan rambutnya yang dikepang dua. Seorang wanita dan seorang pria paruh baya duduk di meja makan, sepertinya menunggu Netta. “Ayo cepat nak, papa sudah lapar”. Netta menatap pria dan wanita itu dan dia mengenalinya sebagai Pak Matthew dan Bu Matthew. Lalu siapa gadis kecil ini? Dengan ragu Netta duduk di sebelah gadis kecil itu, tapi Bu Matthew menegurnya, “Biasanya kamu duduk di sebelah mama, ayo sini”. Netta pun berpindah duduk di sebelah wanita itu. Malam itu mereka pun makan malam dengan tenang, tetapi pikiran Netta tak bisa tenang. ‘Kenapa Sarah? Apa aku berubah menjadi Sarah?’ pikirnya.

Keesokan harinya, di pagi buta, pintu kamar Netta diketuk agak keras. “Ayo cepat bangun Sarah, kita akan adu lari!” terdengar suara Pak Matthew dari balik pintu. Dengan malas Netta membuka matanya dan menggeliat, “Iya sebentar!” Dia bergumam, ‘Ternyata gak enak jadi Sarah, harus bangun sepagi ini untuk jogging….huuuuhhhh.” Dengan terpaksa dia turun dari kasur empuk itu dan berganti pakaian, sebelum keluar kamar dia membasuh wajahnya di kamar mandi dalam kamar itu.

Pak Matthew sudah menunggunya di halaman depan sambil pemanasan. Ketika Netta muncul, Pak Matthew segera menyuruhnya pemanasan sebentar sebelum mereka jogging dan adu lari memutari taman di komplek itu. Akhirnya, Netta bisa menikmati kegiatan jogging pagi itu dan dia memenangkan adu lari dengan Pak Matthew. Dia girang sekali.

Ketika mereka pulang dan melewati rumah Pak Manar, Netta melihat rumah itu suram, kotor, tak terawat. Ada rasa sedih di hatinya, ingin rasanya dia menuju ke rumah itu dan merawat rumah yang sejak kecil ditinggalinya. Namun dia tersentak ketika Pak Matthew memanggilnya dan menyuruhnya segera pulang. Mereka harus bersiap untuk pergi beraktivitas.

Pagi itu, Pedro sudah menunggunya di gerbang sekolah. Netta berjalan dengan ragu, tapi Pedro segera menghampirinya. “Hai cantik, kangen gak lihat kamu satu hari aja,” ujarnya. Netta kikuk, “Eh…ah…masa sih?” Dia canggung tapi ada degup kencang di jantungnya yang membuatnya semakin salah tingkah. Sepertinya Pedro menyadari kecanggungan itu, dia tertawa, “Eh…kamu kenapa? Aneh banget hari ini? Aku kan biasa nyapa kamu gitu?” Netta tersipu. Dia melangkah menuju halaman sekolah bersama Pedro, cowok ganteng yang selama ini membuatnya cemburu pada Sarah. Hari ini, Pedro jadi pacarnya. “Sarah, nanti aku antar pulang ya?” pinta Pedro. “Ehm…mamaku menjemputku,” jawabku ragu. “Laaaahhh….sekali-sekali pulang sama aku, kasih tahu mama kamu biar gak usah jemput.” Netta mengangguk. Mereka berpisah di depan kelas Netta. Rasanya Netta tak sabar menunggu jam pulang sekolah, jantungnya berdegup kencang.

Waktu berlalu begitu panjang dan akhirnya bel pulang pun terdengar. Netta segera memasukkan semua bukunya, dia pun tak begitu peduli ketika teman-temannya ingin mengajaknya ke kantin sebelum pulang. Dia segera menghambur ke luar kelas. Dilihatnya Pedro baru saja keluar kelas dan menuju ke arahnya. Senyum itu makin menggetarkan hati Netta.

“Netta….Netta….ayo buka mata, sayang. Netta….ini ayah,” terdengar suara pria begitu jelas di telinganya. Perlahan Netta membuka mata dan samar dilihatnya wajah cemas ayahnya. “Syukurlah nak, kamu sudah sadar. Ayah takut sekali. Kepalamu sakit? Kaki atau tanganmu sakit?” tanyanya cemas. Netta terdiam sejenak sambil mencoba mencari apakah tubuhnya merasa sakit, lalu dia menggeleng. “Syukurlah!” kata Pak Manar lega.

Netta terdiam, dia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Ternyata dia tak sungguh-sungguh menjadi Sarah, itu hanya mimpinya saja. Tak ada Pedro, tak ada kemewahan, tak ada kehangatan keluarga Pak Matthew. ‘Oalaaahhh….semua hanya mimpi,’ gumamnya.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)