Aku Butuh Psikiater (written by Ary-sensei)
Dada ini terasa sesak. Aku merasa nasib
baik tak berpihak padaku. Masalah datang silih berganti, seakan menguji ‘masih
kuatkah aku menghadapi?’ Orang yang seharusnya jadi pelindungku justru menjadi
akar masalah yang terus menerus ini. Apa reaksinya ketika masalah baru muncul
lagi? “Biarkan saja, nanti kan selesai dengan sendirinya.” Rasanya ingin
kucakar dan kumaki lelaki ini yang tak pernah merasa bersalah apalagi berdosa
telah memberiku banyak masalah.
Pedro Alexander yang 7 tahun lalu kunikahi
mempunyai usaha rental mobil. Dia memiliki bisnis ini setelah kami
menjalani pernikahan 3 tahun. Sebelumnya dia seorang staf Marketing di
sebuah perusahaan periklanan, tapi karena dia dipindahkan ke luar kota dan
merasa bahwa gajinya tidak sepadan dengan pengeluarannya, maka dia keluar dan
memulai bisnisnya sendiri.
Sebenarnya saat dia memiliki gagasan
bisnis ini, aku sudah memberikan banyak pertimbangan. Menurutku, bisnis ini
tidak mudah. Bukan hanya menjaga kepercayaan pemilik mobil yang akan
dikelolanya, tapi juga menjaga kelancaran pembayaran sewa mobil kepada mereka.
Tapi, tanpa sepengetahuanku, dia telah bernegosiasi dengan seorang temannya,
Burhan, dan tak lama kemudian Burhan mempercayakan mobil Honda Jazz-nya pada
Pedro. Rasa was-was mulai mengganggu hari-hariku. ‘Kepercayaan investor ini
harus dijaga dengan baik, itu yang kupikirkan.
Empat bulan berlalu dan bisnis itu bisa
berjalan baik meski belum bisa menikmati keuntungan yang besar. ‘Setidaknya
tidak terlambat membayar sewa mobil,’ itu yang selalu aku ingatkan pada Pedro.
Namun masalah mulai muncul di bulan kelima ketika pembayaran sewa mobil
berkurang dari kesepakatan. Saat itu, Pedro meminta waktu tambahan supaya bisa
menyelesaikan kekurangannya, namun dia gagal. Burhan masih memberikan
kesempatan hingga bulan berikutnya, tetapi dia mengancam akan menarik unit
mobilnya jika di bulan keenam itu masih terjadi keterlambatan pembayaran atau
pembayaran sewa kurang dari kesepakatan. Aku mulai gelisah, tapi Pedro
mengatakan, “Biarkan aku yang mengaturnya. Kamu tenang saja.”
Beberapa hari setelah mereka membuat
kesepakatan baru, Pedro sering pulang larut malam. Beberapa kali aku bertanya
apa yang dilakukannya di luar sana, dia menjawabnya dengan datar, “Ada urusan.
Udah, kamu tenang aja. Doain aja.” Aku tahu dia mulai stres dengan bisnisnya
dan aku takut dia marah kalau aku sering bertanya, aku memilih diam tapi
memperhatikan bisnisnya.
Aku mulai stres dengan pikiran ‘apa hal
terburuk yang bisa terjadi?’ Lalu aku minta izin Pedro untuk membantunya mencari
uang dengan mengajar privat. Kebetulan kami belum memiliki anak dan aku merasa
waktu luangku di rumah sangat membosankan. Pedro mengizinkan, tapi dia
memintaku membuka les privat di rumah saja supaya dia tidak perlu mengantarku
ke sana kemari. Aku menyetujuinya. Saat itu, aku langsung mempunyai dua murid
les privat, anak-anak tetanggaku. Kalau dihitung penghasilan, mungkin itu tak
seberapa, tapi aku bisa menabung sedikit demi sedikit.
Di akhir bulan kelima itu, tiba-tiba Pedro
pulang dengan membawa sebuah mobil Kijang Innova berwarna hitam. “Mobil siapa,
yank?” tanyaku heran. “Mobil temanku, aku menyewanya untuk memperbesar usaha
kita,” jawabnya. “Lalu pembayaran ke mas Burhan?” tanyaku gelisah. “Kita bisa
dapat uang dari mobil Innova ini lalu dipakai untuk menutup pembayaran mobil
Honda Jazz. Rencananya aku tidak akan memperpanjang kontrak Honda Jazz karena
konsumen lebih nyaman dengan mobil Innova, jadi aku akan fokus ke Innova saja,”
jelasnya. Aku menghela nafas, “Atur dengan baik ya, jangan sampai ada masalah
lagi,” kataku sambil meraih tangannya. Pedro tersenyum dan menepuk bahuku,
“Tenang saja.” Sebagai istri, aku berusaha mempercayainya.
Setelah bulan keenam kontrak mobil Honda
Jazz, Pedro memang banyak mengelola mobil Kijang Innova. Saat itu dia mempunyai
4 unit. Bisa dikatakan aku bangga dengan ketekunannya berbisnis, tapi terselip
rasa takut dan khawatir jika tiba-tiba terjadi resiko. Berulangkali Pedro
berkata supaya aku tenang saja.
Suatu hari, seorang teman baru Pedro,
bernama Yohan, bernegosiasi menyewa 1 unit mobil Innova untuk keperluan suatu
perusahaan. Dia berjanji mengikat kontrak 1 tahun dan jika berjalan lancar bisa
diperpanjang ke periode berikutnya. Pembayaran 2 bulan pertama lancar-lancar
saja, tetapi di bulan ketiga mulai terjadi kemacetan. Pedro mencoba menghubungi
Yohan, tapi komunikasi mereka terputus. Pedro mulai gelisah. Dia sering
mendatangi rumah Yohan, tapi keluarganya berkata dia sering ada pekerjaan
mengantarkan konsumen ke luar kota. Pedro mulai stres dan sebagai istri aku
mulai bisa merasakannya.
Dari waktu ke waktu, bisnis Pedro
mengalami penurunan. Setelah kejadian dengan Yohan, Pedro mengalami banyak
kerugian dari keterlambatan pembayaran dari teman-teman penyewa mobilnya juga
beberapa konsumen nakal. Satu per satu pemilik mobil berdatangan menagih. Semua
itu membuatku semakin stres. Aku ingin membahas keadaan emosiku ini dengan
Pedro tapi aku yakin Pedro juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah
dariku. Aku berusaha mencari pertolongan dengan bercerita pada sahabatku, tapi
dia tak mampu membantuku keluar dari stres ini.
Meski aku mencoba bertahan, aku mulai
lelah dengan semua ini. Pedro berubah menjadi seorang yang pemarah dan
menurutku menjadi tak bertanggung jawab. Dia tak lagi bisa memenuhi kebutuhan
rumah tangga, sehingga aku mulai mengajar privat lagi. Tapi ketika semakin
banyak pemilik mobil dan orang-orang yang menagih utang datang ke rumah kami,
aku menjadi tak tahan lagi.
Salah satu sahabat menyarankanku untuk
menemui seorang psikiater. Sebelum aku menjadi gila, aku harus segera
mencari pertolongan. Pedro yang seharusnya menjadi pelindungku tak mampu
menenangkanku.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar