Cerpen Romantis: Email Terakhir Dari Kyoto - Bagian 1

Bagian 1 – Pertemuan Tak Terduga

Lamunan Reza kembali melayang pada seorang gadis Jepang bernama Naomi. Dua tahun lalu mereka bertemu secara tidak sengaja di Bali. Saat itu Reza sedang berada di sana untuk urusan kantor. Hari itu seharusnya hanya menjadi hari biasa—hingga langkahnya terhenti di sebuah toko kerajinan tangan kecil di sudut jalan.

Saat berbelok di lorong toko, Reza hampir saja menabrak seseorang.Seorang gadis. Gadis itu menunduk cepat dan berkata pelan, “Sumimasen.”

Reza terdiam. Ia tidak mengerti apa yang gadis itu katakan, tetapi cara gadis itu menundukkan kepala dengan sopan membuatnya terpaku. Gadis itu memiliki wajah yang lembut, rambut hitam panjang yang jatuh rapi di bahunya, dan mata yang teduh seperti senja.

Melihat Reza hanya berdiri mematung, gadis itu sedikit kebingungan. Ia lalu berkata lagi dengan bahasa Inggris yang pelan.

“Excuse me.” 

Reza tersentak, seolah baru kembali ke dunia nyata.

“Oh—sorry,” katanya gugup sambil memberi jalan.

Namun langkah gadis itu justru membuat Reza semakin gelisah. Ia tidak ingin pertemuan singkat itu berakhir begitu saja.

‘Ayolah, Reza… setidaknya tahu namanya,’ gumamnya dalam hati.

Tak lama kemudian ia melihat gadis itu membayar belanjaannya di kasir. Dengan sedikit keberanian yang tersisa, Reza menghampirinya.

“Are you Japanese?” tanyanya.

Gadis itu tersenyum kecil dan mengangguk. Senyum itu membuat Reza hampir lupa apa yang ingin ia katakan.

“Can you speak English?” lanjutnya agak kikuk.

“Yes, I can. What can I do for you?” jawab gadis itu sopan.

Dengan jantung berdebar, Reza memberanikan diri bertanya, “Do you have time to have lunch with me at the café near here?”

Gadis itu tampak berpikir sebentar, lalu tersenyum.

“Sure. I’d love to.”

Siang itu mereka makan bersama di sebuah café bernama Kichi Kichi Omurice—tempat kecil yang hangat dengan aroma makanan yang menggoda. Di sana Reza akhirnya mengetahui nama gadis itu.

“Naomi Yamashita,” katanya lembut, “You can call me Naomi.”

“I’m Reza,” jawabnya sambil tersenyum.

Pertemuan singkat itu terasa begitu hangat. Naomi ternyata cerdas, ramah, dan menyenangkan untuk diajak berbincang. 

Sebelum mereka berpisah, mereka saling bertukar alamat email. Naomi tidak memberikan nomor teleponnya. Bagi orang Jepang, itu hal yang wajar. Namun bagi Reza, itu sudah lebih dari cukup. Karena sejak hari itu, ia tahu bahwa pertemuan mereka bukan sekadar kebetulan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

Apalah Arti Menunggu? (written by Ary-sensei)