Warisan (written by Ary-sensei)
Kupandangi pesan WhatsApp yang dikirim ibu pagi itu. Sebuah undangan makan malam? Sedikit terdengar aneh, ada apa di balik undangan itu? Sudah satu bulan aku tidak pulang ke kota kesayanganku, Malang. Memang Surabaya-Malang hanya dua jam perjalanan, tapi pekerjaan membuatku tenggelam dalam kesibukan.
“Bisa
Deva pulang akhir pekan ini? Kita akan mengadakan makan malam. Sudah lama
sekali kita tidak makan bersama. Ibu sangat mengharapkan kedatanganmu.” Aku
menghela nafas, berpikir bagaimana bisa “sedikit melarikan diri” dari segudang
pekerjaan yang tidak memberiku waktu bernafas.
Akhirnya
kubalas pesan itu, “Insyaallah aku pulang Sabtu ini bu, tunggu ya.” Sebuah
balasan singkat yang kembali membuatku berpikir keras bagaimana menyelesaikan
pekerjaan yang tersisa dalam dua hari.
Sang
surya mulai bergeser ke arah barat ketika mobilku berhenti di depan sebuah
rumah. Rumah itu terlihat kokoh, bersih dan rapi. Halaman depan terlihat cantik
dengan bunga-bunga dan tanaman rindang yang berjajar rapi. Ibu selalu
menyempatkan waktu berlama-lama dengan tanaman-tanaman kesayangannya tiap sore.
Tangan lembutnya bisa membuat bunga-bunga itu bermekaran indah.
Aku
turun dari mobil sambil tak lupa membawa sekotak oleh-oleh seperti kebiasaanku
ketika pulang ke rumah ini. Pintu depan terbuka dan terlihatlah wajah ibu yang sumringah
melihatku pulang. “Aaaaa … Devandra, kesayanganku….” Ibu yang sudah mulai tua
itu berlari kecil menyambutku. Aku tersenyum dan memeluknya dengan hangat, “Apa
kabar bu?” sapaku sambil mencium kedua pipinya. Ibu membalas mencium kedua
pipiku, “Sehat nak. Ayo … ayo masuk!” Ibu membantuku membawa beberapa barang
yang kubawa.
Baru
saja kulewati ruang tamu, terdengar suara adik perempuanku, Dinda. “Hai kak,”
sapanya manja sambil memelukku. “Eh kapan kamu datang?” tanyaku setelah Dinda
melepaskan pelukannya. “Kemarin malam,” jawabnya sambil mengajakku duduk di
ruang tamu. Dinda sudah lama tidak pulang kampung setelah dia diterima kerja di
Jakarta, jadi tidak mengherankan aku terkejut melihatnya. “Eh nanti malam ada
yang mau aku kenalkan ke kakak,” katanya ceria. “Heh? Siapa? Pacarmu?”
selidikku. Dinda tertawa. Tak lama ayah muncul dengan tertatih. Beliau
mengalami stroke sejak beberapa bulan lalu, namun nampaknya semakin hari
semakin menunjukkan kemajuan kesehatannya. Aku segera menghampirinya, mencium
tangannya dan membantunya duduk di sofa. “Akhirnya kamu bisa pulang, Deva,” kata
ayah. Aku sedikit kaget dengan kalimat itu, bukannya aku sering pulang? Hanya
satu bulan terakhir saja aku tidak pulang karena pekerjaanku tidak memberiku
waktu libur.
Malam
pun tiba. Kami pun menyiapkan makan malam. Tak lama, terdengar pintu diketuk.
Dinda segera berlari membukanya dan samar terdengar suara pria. Tak lama,
mereka berdua masuk ke ruang makan. “Kak, kenalkan ini Rony,” katanya
memperkenalkan. Pria bernama Rony itu menganggukkan kepala padaku dan sambil
tersenyum dia sodorkan tangannya. Aku menyambutnya. “Rony,” katanya
memperkenalkan diri. “Devandra,” balasku.
Kami
pun segera berkumpul di meja makan. Hidangan makan malam terlihat begitu menggugah
selera. Kami makan tanpa bersuara. Karena ayahku sudah sulit untuk
berkata-kata, maka ibu yang mengawali percakapan. “Deva, itu Rony, tunangan
Dinda,” kata ibu. Aku melotot, lalu mengarahkan pandanganku pada mereka berdua.
Dinda hanya tersenyum, sedangkan Rony menunduk malu. “Eh, kok aku baru tahu?
Sejak kapan kalian tunangan?” tanyaku penasaran. “Kami tunangan 5 bulan lalu kak.
Sebenarnya meskipun aku tidak pulang, aku sering bercerita tentang Rony ke ibu.
Baru kali ini kami bisa pulang supaya ayah, ibu, kak Deva bisa kenalan,” jawab
Dinda, “Aku mengusulkan pada ibu untuk mengadakan makan malam hari ini untuk
mengenalkan Rony pada keluargaku sekaligus kami berdua akan mengumumkan
sesuatu. Kami berencana menikah 5 bulan lagi.” Aku terkejut, tapi tidak kulihat
ekspresi yang sama pada ayah dan ibu. Mereka pasti sudah tahu rencana ini sejak
lama. “Begitu cepat?” tanyaku. Rony menjawab, “Saya sudah yakin dengan pilihan
saya kak, dan menurut saya tidak perlu menunggu lama untuk menjadikan Dinda
sebagai pendamping hidup saya.” Aku melihat kesungguhan di mata dan ekspresi
wajahnya. Meski terkejut, aku berusaha menguasai perasaan itu.
“Karena
nanti setelah menikah Dinda tidak lagi bekerja di Jakarta, dia akan kembali ke
rumah ini. Ayah dan ibu sudah tidak bisa mengelola restoran, maka kami
memutuskan restoran kita akan diserahkan pengelolaannya pada Dinda.” Ini
kejutan kedua untukku. Rasanya hidangan malam ini terasa hambar, tak lagi
membuatku bersemangat menikmatinya. Kuhentikan makanku dan kutatap tajam ayah
dan ibu. “Kenapa ayah ibu tidak mengajakku bicara dulu? Restoran itu kan milik
kami juga, artinya aku juga punya hak yang sama untuk mengelolanya,” kataku
mulai emosi. Semua terdiam. “Kami menganggap kamu sudah mapan dengan
pekerjaanmu di Surabaya, Deva. Sedangkan Dinda belum tahu akan bekerja apa
setelah dia menikah dan kembali ke sini. Jadi, ayah ibu menitipkan restoran itu
padanya,” kata ayah. “Tetap saja ayah dan ibu tidak bisa membuat keputusan
sebelum berbicara denganku dan Dinda. Apakah pendapatku sudah tidak penting
lagi? Tidak bisa begitu, tidak adil!” kataku sambil meninggalkan meja makan.
Semua terdiam. Ada ekspresi bersalah di wajah Dinda dan Rony, seakan mereka
menjadi awal permasalahan ini. Ibu dan ayah menghibur mereka dan berjanji untuk
membahasnya denganku dari hati ke hati. Aku yang sedang kesal langsung memacu
mobilku, entah aku tak tahu akan pergi ke mana. Aku hanya ingin menenangkan
hatiku, otakku dan meredakan migrain yang lagi dan lagi menyerangku.
Akhirnya, aku berhenti di sebuah guest house dan memutuskan menginap
semalam di sana untuk mencari ketenangan.
Bergantian
ibu dan Dinda meneleponku tapi tak aku angkat, aku biarkan saja. Aku masih
sangat kesal dengan keputusan ayah dan ibu yang menyerahkan pengelolaan
restoran tanpa berdiskusi terlebih dahulu denganku. Apakah aku sudah tidak
punya hak berbicara? Malam itu, aku berusaha tidur untuk meredakan migrain
yang semakin lama semakin nyeri.
Esok
harinya, aku merasa lebih segar. Aku masih termenung di tempat tidur. Setelah
mempertimbangkan banyak hal, akhirnya aku memutuskan untuk mengikhlaskan
pengelolaan restoran itu pada Dinda dan Rony. Toh aku juga sangat sibuk dengan
pekerjaanku, pasti tak ada waktu lagi untuk memikirkan restoran. Aku menghela
nafas panjang, “Ya sudahlah, mungkin itu yang terbaik. Setidaknya restoran itu
diserahkan pada keluarga, bukan pada orang lain. Ayah ibu juga sudah tidak
mampu mengelolanya seperti dulu.” Kupejamkan mata dan tak terasa air mata
menyeruak di ujung mataku. Meski tidak semudah itu mengikhlaskannya, tapi ya
sudahlah.
Siang
itu aku pulang. Rumah nampak sunyi saat aku masuk ke ruang tamu. Terdengar
langkah ibu yang pelan menyambutku, “Deva.” Ibu membelai rambutku, “Ayo duduk
sebentar.” Kami duduk di ruang tamu dan ibu mulai berbicara dari hati ke hati.
Tak lama, Dinda muncul dengan wajah merasa bersalah, “Kak, maafkan aku. Aku
tidak bermaksud merampas restoran itu darimu. Aku sudah membicarakan dengan
Rony. Kami yang mengelola, tapi tiap akhir bulan kami akan berikan bagian
keuntungan kakak,” jelasnya perlahan.
Aku
menghela nafas. “Baiklah, kamu kelola restoran itu dengan baik ya. Aku pun
terlalu sibuk dengan pekerjaanku, jadi kupercayakan semuanya padamu dan Rony.
Kamu juga pasti tahu apa yang harus kamu lakukan,” kataku. “Terima kasih kak.”
Aku dan Dinda berpelukan, kembali hangat sebagai keluarga. Sore itu aku harus
kembali ke Surabaya dengan perasaan lega. Aku rasa ini adalah pilihan terbaik,
baik untukku, Dinda maupun keluargaku.
Amanat cerita ini: Komunikasi akan
mengurangi konflik dan diskusi akan menghasilkan keputusan terbaik untuk semua
orang.

Komentar
Posting Komentar