Kau Curi Hatiku (written by Ary-sensei)

 


Fei Fei menikmati indahnya berbagai bunga yang mekar di Taman Bai Hua Gu. Pagi itu dia bersepeda pulang dari pasar setelah pamannya Li Wei memintanya berbelanja sayur-sayuran. Dua hari sekali Fei Fei pergi ke pasar membeli bahan membuat guan bing yang dijual pamannya Li Wei. Guan bing adalah makanan sederhana yang mirip dengan makanan kebab, berisi sayuran dan sosis. Makanan ini sangat disukai orang Cina, termasuk Fei Fei.

Hari itu Taman Bai Hua Gu seperti surga yang dipenuhi aneka macam bunga. Fei Fei si gadis periang berlari kecil ke sana kemari sambil menghirup harumnya bunga-bunga itu, bahkan ia berebutan dengan kumbang dan kupu-kupu. Harum bunga memenuhi udara dan membuat udara terasa segar. Fei Fei menjadi sangat bersemangat.

Tanpa disadarinya, sedari tadi ada sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan. Memperhatikan Fei Fei yang seperti anak kecil itu, senyum tipis pemuda itu tersungging di bibirnya. “Ada-ada saja,” gumamnya. Pemuda bernama Yi Chen itu berjalan perlahan, seakan asyik menikmati harumnya bunga. Dia sengaja berjalan mundur dan berharap menabrak gadis lincah itu. Dan terjadilah …!

“Ah … maafkan saya,” ujar Fei Fei yang merasa malu dan juga bersalah telah menabrak pemuda itu hingga pemuda itu terjatuh, nyaris terjungkal. “Aduuuuh …,” erang Yi Chen sambil memegangi lututnya hingga membuat Fei Fei semakin merasa bersalah. “Oh kau terluka? Maafkan saya,” katanya panik sambil berjongkok memeriksa kaki yang sedang dipegangi Yi Chen. Dalam hati Yi Chen tertawa, ‘Kena kau!!!”

Yi Chen berpura-pura kesulitan bangun dari posisinya. Fei Fei dengan sungguh-sungguh membantunya berdiri dan memapahnya duduk di sebuah bangku tak jauh dari situ. “Apakah kau terluka?” tanya Fei Fei khawatir. “Sepertinya tidak, mungkin hanya lecet sedikit, rasanya sedikit perih,” kata Yi Chen sambil menahan tawanya. Wajah Fei Fei yang panik membuat wajahnya menjadi lucu. “Siapa namamu?” tanya Yi Chen. “Aku Fei Fei, kau?” Fei Fei memperkenalkan diri. “Panggil saja Yi. Apakah kau bisa mengantarku pulang? Kakiku masih sakit.” Kembali Yi Chen membuat drama kecil. Fei Fei terlihat ragu. Aku hanya membawa sebuah sepeda listrik di sana, aku tak tahu apakah bisa memboncengmu,” jawabnya ragu. “Kita coba saja. Bantu aku berjalan,” pintanya. Fei Fei menurutinya.

Tak lama, mereka sudah berada dalam perjalanan. Yi Chen menunjukkan arah rumahnya dan beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah sederhana, namun bersih dan rapi. “Kau tinggal di sini?” tanya Fei Fei. “Ya. Ehm … bolehkah besok pagi aku bertemu denganmu di Taman Bai?” Yi Chen bertanya penuh harap. Fei Fei menggeleng. “Besok aku seharian membantu pamanku berjualan guan bing.” “Hei … apakah pamanmu itu lopan Li Wei, si penjual guan bing itu?” tanya Yi Chen. Fei Fei mengangguk. “Baiklah, kalau besok kakiku sudah tidak sakit lagi, aku akan ke sana membeli guan bing. Tunggu aku ya,” pinta Yi Chen. Pipi Fei Fei merona merah karena malu. “Aku pulang dulu ya,” katanya sambil memacu sepeda listriknya. Yi Chen memandangnya hingga hilang di balik pohon besar di ujung jalan itu. Dia pun tersenyum.

Esok harinya Yi Chen datang ke toko guan bin itu. Dia membeli dua guan bing lalu bertanya pada paman Li Wei, “Lopan, apakah itu keponakanmu?” tanyanya sambil menunjuk Fei Fei yang sedang membersihkan rumah. “Ya benar,” jawab paman Li Wei. “Ehm … bolehkah aku mengenalnya, lopan?” tanyanya bersemangat. Paman Li Wei meliriknya sebentar lalu tertawa. Dia segera memanggil Fei Fei. Ketika melihat Yi Chen, Fei Fei terkejut, tapi juga malu-malu. Rona merah menghiasi pipinya. Yi Chen lalu meminta izin mengajak Fei Fei pergi setelah toko guan bing tutup sore itu. Paman Li Wei mengizinkan. Kedua muda-mudi itu pun berjalan menyusuri sungai yang tak jauh dari toko guan bing.

“Kita duduk di bawah pohon itu yuk,” kata Yi Chen sambil menunjuk sebuah pohon berdaun rindang. Mereka pun duduk dan Yi Chen mengajak Fei Fei menikmati guan bing yang tadi dibelinya. “Dimanakah orang tuamu?” tanya Yi Chen penasaran. “Mereka bekerja di Guangdong. Aku membantu bofu Li Wei karena dia tidak menikah. Berjualan guan bing sudah sekitar sepuluh tahun dan dia mengeluh capek jika harus bekerja sendirian, apalagi ketika banyak pembeli. Makanya aku di sini,” jelas Fei Fei. “Oh … lopan Li Wie itu kakak dari ayahmu? Dia orang yang baik hati, siapapun mengenalnya. Sudah berapa lama kau di sini?” tanya Yi Chen lagi. “Baru dua bulan,” jawab Fei Fei. Dia sudah selesai menikmati guan bing yang diberikan Yi Chen, tapi tiba-tiba Yi Chen tertawa yang membuat Fei Fei heran. “Apa?” tanyanya. Yi Chen memberi kode jangan bergerak, lalu dia membersihkan ujung bibir Fei Fei dengan saputangannya. Fei Fei tersipu malu.

“Sebentar lagi matahari terbenam. Bolehkah kapan-kapan aku mengajakmu pergi? Kalau kau mau, aku akan meminta izin pada lopan,” kata Yi Chen sambil berjalan pulang. Fei Fei mengangguk. Mereka pun berpisah saat Fei Fei sampai di depan rumah pamannya. Jantung Yi Chen mulai bergetar.

Malam itu, Yi Chen gelisah. ‘Aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Dia mencuri hatiku. Rasanya aku ingin bertemu dengannya setiap hari,’ lamunnya malam itu. Udara dingin di musim semi itu membuatnya harus merapatkan baju hangat dan selimutnya. Yi Chen berusaha tidur malam itu dan berharap esok hari bisa melihat wajah manis Fei Fei yang periang. Wajah itu, senyum itu, telah mengusik pikiran Yi Chen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)