Cerita Inspiratif: Menemukanmu Di Balik Jutaan Kata Asing
Sejak masih SMA, Nadia punya satu impian yang selalu pada akhirnya membuatnya ragu.
“Aku pengen punya pacar bule!”
Setiap kali Nadia menginginkan atau
memikirkan hal itu, dia langsung bertanya ke dirinya sendiri: “Bahasa Inggrismu
aja masih pas-pasan!”
Kemampuan bahasa Inggrisnya memang
tidak terlalu baik. Ia hanya memahami kata-kata sederhana. Menonton film
berbahasa Inggris tanpa subtitle adalah hal yang mustahil baginya. Bahkan untuk
membalas komentar sederhana dari orang asing di media sosial, ia sering
menggunakan aplikasi penerjemah.
Namun, mimpi tetaplah mimpi. Nadia
tidak pernah benar-benar menyerah.
Suatu malam, saat sedang bersantai
sambil membuka media sosial, Nadia menerima pesan dari seorang pria bernama
Ethan. Pria itu berasal dari Inggris dan secara tidak sengaja menemukan
foto-foto perjalanan Nadia di sebuah akun wisata.
“Hello, I like your pictures.
Indonesia looks very beautiful.”
Nadia langsung panik.
Ia memahami sebagian isi pesan itu,
tetapi tidak semuanya. Tanpa berpikir panjang, ia menyalin pesan tersebut dan
memasukkannya ke aplikasi penerjemah.
Setelah mengerti maksudnya, Nadia
membalas dengan cara yang sama. Ia menulis dalam bahasa Indonesia terlebih
dahulu, lalu menerjemahkannya ke bahasa Inggris.
Tak disangka, Ethan membalas dengan
ramah.
Percakapan sederhana itu berlanjut
ke hari berikutnya, lalu minggu berikutnya, hingga akhirnya menjadi kebiasaan
sehari-hari.
Mereka saling bertukar cerita
tentang makanan favorit, pekerjaan, keluarga, film, dan tempat-tempat yang
ingin dikunjungi suatu hari nanti.
Namun ada satu rahasia yang selalu
disembunyikan Nadia.
Hampir seluruh percakapannya dengan
Ethan dibantu oleh aplikasi penerjemah.
Setiap kali Ethan mengirim pesan
panjang, Nadia akan membuka aplikasi penerjemah dengan panik. Setiap kali ingin
membalas, ia memeriksa ulang setiap kalimat berkali-kali agar terlihat alami.
Nadia merasa malu mengakui
kenyataan bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya sebenarnya sangat terbatas. Ia
takut Ethan akan kecewa jika mengetahui hal itu.
Waktu terus berjalan. Hubungan
mereka semakin dekat. Mereka mulai melakukan panggilan suara sesekali, meskipun
Nadia sering memberikan alasan untuk tidak berbicara terlalu lama.
Suatu hari, Ethan mengirim sebuah
pesan yang membuat jantung Nadia berdebar kencang.
“I have a good news. A couple
months later, I have a plan to visit Indonesia. I want to meet you in person.”
Nadia membaca pesan itu berulang
kali.
Bukannya merasa bahagia sepenuhnya,
ia justru dilanda kepanikan.
Bertemu langsung berarti tidak ada
lagi waktu untuk membuka penerjemah diam-diam.
Bagaimana jika ia tidak bisa
memahami perkataan Ethan?
Bagaimana jika percakapan mereka
menjadi canggung?
Bagaimana jika Ethan menyadari
bahwa selama ini Nadia sebenarnya tidak pandai berbahasa Inggris?
Malam itu Nadia sulit tidur.
Namun keesokan harinya, ia membuat
sebuah keputusan. Ia tidak ingin terus bersembunyi di balik aplikasi
penerjemah. Kalau benar ingin bertemu Ethan, ia harus belajar bahasa Inggris
dengan sungguh-sungguh.
Sejak saat itu, Nadia mulai
mengubah rutinitasnya. Setiap pagi ia menonton video berbahasa Inggris. Saat
perjalanan ke kantor, ia mendengarkan podcast sederhana untuk melatih kemampuan
mendengarnya. Di malam hari, ia menghafal kosakata baru dan berlatih berbicara
di depan cermin.
Awalnya sangat sulit. Ia sering
salah mengucapkan kata-kata. Tata bahasa yang dipelajarinya mudah terlupakan. Berkali-kali
ia merasa ingin menyerah. Namun setiap kali mengingat bahwa Ethan akan datang
ke Indonesia, semangatnya kembali muncul.
Sedikit demi sedikit, kemampuannya
meningkat. Ia mulai memahami video tanpa harus membaca subtitle sepanjang
waktu. Ia berani mengirim pesan suara kepada Ethan. Bahkan mereka mulai
melakukan panggilan video secara rutin.
Yang mengejutkan, Ethan selalu
sabar mendengarkan ketika Nadia berbicara.
“Your English is pretty good,”
kata Ethan suatu hari.
Pujian sederhana itu membuat Nadia
semakin percaya diri.
Beberapa minggu sebelum kedatangan
Ethan, Nadia akhirnya memberanikan diri untuk jujur.
“I want to tell you something,”
katanya saat panggilan video.
“What’s that?” tanya Ethan.
“In our first communication, I always
used a translator. I was embarrassed because my English was so bad at that time.”
Ethan terdiam beberapa detik
sebelum tersenyum.
“Honestly, I knew it.”
Nadia langsung menutupi wajahnya
karena malu.
“Did you?”
“Yes, a little,” jawab Ethan
sambil tertawa. “But it didn’t matter to me.”
“Why?”
“What makes me interested is not
your English skill. I like the way you tell the stories, your sense of humor,
and your effort to keep practicing.”
Mendengar itu, beban yang selama
berbulan-bulan ia simpan akhirnya menghilang. Nadia tersenyum lega.
Hari yang dinanti pun tiba. Ethan
akhirnya mendarat di Indonesia.
Saat melihat pria itu berjalan
keluar dari area kedatangan bandara, Nadia merasakan gugup yang luar biasa. Namun
ketika Ethan tersenyum dan melambaikan tangan, semua ketakutannya perlahan
menghilang.
“Hello, Nadia,” sapa Ethan.
“Welcome to Indonesia!”
jawab Nadia dengan lancar dalam bahasa Inggris.
Tak perlu waktu lama, rasa canggung
diantara mereka pun mencair. Mereka menghabiskan beberapa hari menjelajahi kota
bersama. Mereka mencicipi makanan khas Indonesia, mengunjungi tempat-tempat
wisata, dan mengobrol selama berjam-jam.
Untuk pertama kalinya, Nadia
benar-benar berbicara tanpa bantuan penerjemah. Memang masih ada beberapa
kesalahan kecil, tetapi itu tidak lagi penting. Percakapan mereka mengalir
dengan alami.
Suatu sore, saat menikmati matahari
terbenam di tepi pantai, Ethan memandang Nadia sambil tersenyum.
“I’m proud of you.”
Nadia tersenyum bingung.
“Why?”
“Because you’re brave to step
out of your comfort zone. You studied so hard for something important to you.”
Nadia menatap langit yang mulai
berubah jingga. Saat itulah ia menyadari sesuatu. Awalnya, ia belajar bahasa
Inggris karena ingin memiliki pacar bule. Namun dalam perjalanan itu, ia
mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Ia mendapatkan kepercayaan diri.
Ia membuka pintu menuju pengetahuan
yang lebih luas dan ia membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu
berkembang jika mau berusaha.
Setahun kemudian, hubungan Nadia
dan Ethan semakin serius. Ethan bahkan memutuskan untuk bekerja di Indonesia
agar mereka bisa lebih dekat. Ketika teman-temannya bertanya bagaimana kisah
mereka bisa dimulai, Nadia selalu tertawa sebelum menjawab, “Semuanya berawal
dari Google Translator.” Lalu ia menambahkan sambil tersenyum, “Dan berakhir
dengan percakapan yang tidak lagi membutuhkan Google Translator sama sekali.”
Mereka pun tertawa bersama,
menikmati kisah cinta yang tumbuh dari keberanian, usaha, dan kemauan untuk
terus belajar.
Komentar
Posting Komentar