Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Cinta Dalam Hati - Part 2 (written by Ary-sensei)

Gambar
  Kafe Babequ ini tergolong sepi di pagi sampai siang hari, tapi pengunjung akan berebut kursi di sore bahkan malam harinya. Biasanya anak-anak mahasiswa nongkrong sambil menyelesaikan tugas kuliah mereka di sini. Tempatnya memang asyik, dua lantai dengan nuansa garden yang asri. Aku dan Cintya lebih memilih lantai dua supaya kami lebih santai mengobrol. Camilan dan minuman ringanpun sudah dipesan. Cintya memandangku lama sekali. Aku tahu Cintya menatapku, tapi rasa bersalah membuatku tak sanggup membalas tatapan itu. “Ehm…sebenarnya, selama ini aku memperhatikan kamu dari jauh Sin. Apapun yang kamu lakukan di kampus, aku tahu. Diam-diam aku mengikutimu, memperhatikan kegiatanmu,” jelasku dengan nada pelan. “Tapi apa maksudnya? Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Kamu tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan padahal awalnya kita begitu akrab. Apakah aku melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan?” Cintya terlihat kesal. “Sebenarnya, ini berawal dari pembicaraanmu dengan ibumu sore itu ...

Cinta Dalam Diam - Part 1 (written by Ary-sensei)

Gambar
  Sore itu terasa lebih dingin dari biasanya. Hujan deras mengguyur kota Malang yang memang terkenal sebagai Kota Dingin. Sebenarnya bagian Kota Malang ini tidak terlalu dingin jika dibandingkan dengan Kota Batu, tapi untuk orang-orang yang terbiasa dengan udara hangat, kota ini mungkin lebih sejuk. Dinginnya sore ini menjadi makin dingin dengan hatiku yang sepi. Sejujurnya, aku merasa kehilangan Cintya. Hatiku yang biasanya hangat jika memikirkan dia, kini menjadi dingin, tak ada semangat yang membara seperti dulu. Petikan gitarku seolah mengungkapkan sepinya hati ini. Apalagi yang kupilih adalah lagu-lagu galau. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Aku tersentak kaget. “Ron… Ron… sore gini galau. Kenapa kamu?” tanya Agus teman kosku yang ternyata memperhatikanku sejak tadi. “Ah kamu Gus, ngagetin aja.” Agus tertawa, “Kamu itu nyanyi apa ngelamun? Gak jelas banget. Kenapa kamu? Putus cinta ya?” tanya Agus sambil menyulut rokoknya. “Cinta apa?” jawabku sambil meletakkan gitar di...

Langit di Atas Menara (written by Henny)

Gambar
  Malam itu, festival sekolah berlangsung meriah. Cahaya lampion beterbangan di langit, musik dan tawa memenuhi halaman. Alya, siswi kelas XI, berdiri di dekat menara jam tua sekolah yang konon katanya menyimpan misteri. “Kata orang, kalau ada yang naik ke atas menara tepat saat festival, mereka bisa melihat bintang jatuh yang cuma muncul sekali dalam seratus tahun,” gumam Alya pelan. Ia sendiri tidak terlalu percaya. Tapi entah kenapa, hatinya ingin mencoba. Saat hendak menapaki tangga menara, suara seorang cowok membuatnya berhenti. “Kamu juga dengar cerita itu?” Alya menoleh. Seorang cowok dengan seragam rapi berdiri di sana, tersenyum samar.  “Aku Reno,” katanya. Mereka akhirnya naik bersama. Tangga kayu berderit, angin malam menyelinap. Anehnya, setiap kali Alya hampir kehilangan pijakan, Reno selalu sigap menangkap tangannya. “Takut jatuh?” tanya Reno sambil tersenyum. Alya pura-pura tegar. “Enggak... cuma kaget. Lagian kalau jatuh, kan ada kamu.” Reno te...

Titik Koma (written by Henny)

Gambar
  Rani adalah gadis kelas XI dengan tawa yang khas, renyah, dan mudah pecah. Senyumnya selalu terbingkai saat jari-jarinya asyik menari di atas buku sketsa. Di sampingnya, selalu ada Rio, sahabat karibnya sejak kelas VIII. Rio adalah pemuda nyentrik yang hobi melucu, tapi berubah menjadi pendiam dan melamun saat tidak bersama Rani. Diam-diam, ia menaruh hati pada sahabatnya itu. “Kalau semut jatuh cinta, dia ngapain ya?” tanya Rio suatu sore, memecah hening di bangku taman sekolah. Rani menahan tawa, tak mengalihkan pandangannya dari sketsa bunga yang sedang ia gambar. “Mungkin dia nyari gula bareng.” Setiap hari, mereka selalu bersama, seolah tak terpisahkan. Semua orang di sekolah tahu tentang kedekatan mereka. Jika Rani ke kantin, Rio pasti menyusul. Jika Rio melontarkan lelucon, hanya Rani yang tertawa paling keras. Namun, ketika ditanya tentang hubungan mereka, Rani akan menjawab singkat, “Kami sahabat. Titik.” Rio hanya tersenyum samar, lalu menimpali, “Titik koma, sih....

Jus Penuh Cinta (written by Henny)

Gambar
  Rifki, murid kelas XI, menghadapi masalah uang jajan yang menipis. Ia pun memanfaatkan program kantin kreatif sekolah untuk membuka usaha makanan ringan. Setelah menemui kendala kesehatan dari pelanggan, Rifki melakukan transformasi menu menjadi lebih sehat dan romantis—dengan sentuhan humor yang membuat lapaknya menjadi favorit di sekolah. Pagi itu, kelas XI riuh seperti biasanya. Rifki duduk gelisah, mencoret-coret buku tulis. Bima, sahabatnya, memperhatikan wajahnya yang cemas: “Ki, kenapa muka lo kayak utang lima belas cicilan?” Rifki hanya bisa menghela napas—uang jajan sudah hampir habis. Saat ia mengeluhkan pengeluaran, Sinta menyela dengan kabar tentang program kantin kreatif, menyalakan harapan baru dalam benak Rifki: kini ia berencana jadi juragan kantin sekolah. Dia pun segera menghubungi koordinator kantin sekolah dan dia sangat beruntung. Pak Heru, koordinator kantin, sangat mendukung ide kreatifnya. Hari itu, saat bel istirahat berbunyi, Rifki memulai misi juala...

Hujan di Ujung Senja (written by Henny)

Gambar
  Hujan sore itu turun semakin deras. Dari balik jendela kecil kamarnya, Zahra memandangi jalan yang perlahan mulai sepi. Biasanya suara motor mahasiswa yang baru pulang kuliah masih riuh, tapi kali ini hanya suara hujan yang terdengar, jatuh berisik di atap seng kosannya.   Ia menghela napas panjang. Dalam diam, ada nama yang sejak seminggu terakhir sering muncul begitu saja—Arka. Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan membuka buku catatan kuliahnya, tapi halaman demi halaman hanya dipenuhi coretan yang tak terbaca karena pikirannya berlari ke tempat lain.   “Kenapa sih jadi kepikiran terus?” gumamnya lirih.   Seakan menjawab pertanyaan itu, ponselnya bergetar. Notifikasi pesan muncul, membuat jantungnya berdetak lebih kencang.   Arka: “Zahra, kamu lagi di kos? Aku kebetulan lewat depan, tapi hujannya deras banget. Boleh numpang neduh?”   Mata Zahra membesar. Sekilas ia ragu, tapi jemarinya lebih cepat merespons.   Zahra: “Iya, sini aja. Ha...