Cinta Dalam Hati - Part 2 (written by Ary-sensei)
Kafe Babequ ini tergolong sepi
di pagi sampai siang hari, tapi pengunjung akan berebut kursi di sore bahkan
malam harinya. Biasanya anak-anak mahasiswa nongkrong sambil menyelesaikan
tugas kuliah mereka di sini. Tempatnya memang asyik, dua lantai dengan nuansa garden
yang asri.
Aku dan Cintya lebih memilih
lantai dua supaya kami lebih santai mengobrol. Camilan dan minuman ringanpun
sudah dipesan. Cintya memandangku lama sekali. Aku tahu Cintya menatapku, tapi
rasa bersalah membuatku tak sanggup membalas tatapan itu.
“Ehm…sebenarnya, selama ini
aku memperhatikan kamu dari jauh Sin. Apapun yang kamu lakukan di kampus, aku
tahu. Diam-diam aku mengikutimu, memperhatikan kegiatanmu,” jelasku dengan nada
pelan. “Tapi apa maksudnya? Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Kamu tiba-tiba
menghilang tanpa penjelasan padahal awalnya kita begitu akrab. Apakah aku
melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan?” Cintya terlihat kesal. “Sebenarnya,
ini berawal dari pembicaraanmu dengan ibumu sore itu waktu aku ke rumahmu.
Secara tak sengaja aku mendengar percakapan kalian dan itu membuat hatiku…merasa
tak terima.” Aku mengangkat wajahku, berusaha memandang wajah Cintya. Kulihat ekspresi
wajahnya. Dia mengernyitkan dahi. “Percakapan
yang mana?” tanyanya heran.
Agak ragu aku berkata, “Maaf
ya Sin, aku tak sengaja mendengarnya. Waktu itu ibumu memintamu tidak
berpacaran dengan orang yang beda agama. Aku merasa tak terima. Kita ini
manusia, punya perasaan, kenapa tak boleh mencintai? Toh cinta bukan kita yang
menciptakan tapi Tuhan. Kalau hati kita tiba-tiba suka pada seseorang, haruskah
kita menyalahkan agama kita karena tak sama?” Cintya terlihat kaget, lalu
menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kenapa kamu marah? Kan kita hanya sahabat?”
jawabnya.
Aku menghela nafas, jantungku
berdegup lebih kencang. Kuraih tangan Cintya. Dia kaget tapi tak menarik
tangannya. “Ada yang ingin aku katakan.” Aku menggenggam tangan Cintya lebih kuat,
aku mencondongkan tubuhku lebih dekat. Meja yang ada diantara kami nyaris tak
mampu menjadi penghalang antara kami berdua. “Aku cinta kamu Sin. Aku suka kamu
dari awal kita ketemu. Obrolan kita yang selalu nyambung, kamu yang baik dan
pengertian, membuatku tak menyadari rasa ini mulai tumbuh menjadi cinta. Tapi,
percakapan kamu dan ibumu waktu itu menahanku untuk tak menyatakan perasaan
ini. Sin, aku tersiksa jauh dari kamu,” kataku pelan. Cintya memandangku lama,
lalu perlahan mengelus tanganku.
“Kamu tahu Ron, aku sudah
merasakannya sejak lama. Meskipun aku berusaha menganggapmu sahabat, aku bisa
merasakan sesuatu yang berbeda,” kata Cintya lembut. Aku memandangnya “Lalu?
Apakah kamu menolak rasa yang aku punya?” tanyaku dengan ragu. Cintya
menggeleng. Aku mengernyitkan dahi, bingung dengan jawabannya. Cintya pun
membalas genggaman tanganku. “Sebenarnya aku juga suka kamu, tapi aku tak
berani membantah kata-kata ibu. Aku…aku….” Cintya menunduk, terdiam beberapa
saat lalu mengusap matanya. Aku kaget. Aku pindah posisi dudukku dekat dengannya.
Ingin kupeluk Cintya, tapi aku harus menahan diri. Aku hanya menggenggam tangannya
dengan kedua tanganku. Makin lama makin kuat, menunjukkan aku mulai khawatir.
Cintya mengangkat wajahnya, memandang wajahku. Kulihat mata indah itu mulai
basah, bibirnya bergetar seakan ada banyak kata yang tertahan.
Tiba-tiba Cintya memelukku dan
menangis dalam pelukanku. Aku kaget dan bingung dengan apa yang terjadi, tapi
aku biarkan dia menangis dalam pelukanku. Setelah tangis itu reda, Cintya
memundurkan tubuhnya sambil menyeka air matanya. Aku mendekatkan kotak tisue
dan menyerahkan beberapa lembar tisue padanya. “Sorry,” katanya sambil
mengambil tisue itu. Aku hanya mengangguk, tetap bingung tak tahu harus apa. “Ron,
aku cinta kamu.” Kalimat pendek tapi menyambar seperti petir. Aku terbelalak, “Jadi?”
Ada rasa senang yang luar biasa menyeruak dalam hatiku, tapi aku tetap harus
menahan diri. Tak bisa tiba-tiba aku memeluknya seperti dia memelukku tadi.
Cintya mengangkat wajahnya,
memandangku dan tersenyum. “Aku cinta kamu, aku kehilanganmu. Kamu nyakitin
hatiku.” Kali ini reflek, tak bisa aku kendalikan. Kutarik tubuhnya dan
kupeluk, “Maaf….” Hanya itu yang bisa kuucap karena aku berusaha sekuat hati
menahan air mata ini tak menetes di depannya. Ketika kesadaranku pulih,
kulepaskan pelukan itu. “Eh sorry, kelepasan,” kataku malu.
“Aku lega mengatakan
perasaanku dan mendengar apa yang kamu rasakan ke aku. Maaf aku konyol selama
ini, aku sungguh menyesalinya. Aku janji gak akan menyakiti hatimu lagi. Aku janji
selalu ada buat kamu,” kataku. Cintya mengangguk. “Kita gak akan tahu bagaimana
masa depan kita. Akankah kita hanya jadi sahabat, atau pacaran, atau yang
lainnya, kita jalani saja. Kamu buatku bahagia Ron. Hari ini aku bahagia kamu
kembali buat aku.” Cintya mencubitku, “Gak usah peluk lagi.” Kami tertawa.
Kuseka sisa air mata yang masih terlihat di sudut matanya. “Jangan sedih lagi
ya,” kataku.
Aaaah…rasanya dunia ini
tiba-tiba indah dan menyenangkan. Aku ingin melompat-lompat kegirangan
mendengar apa yang Cintya katakan. Hari ini ingin kulalui dengan indah, ini
momen berharga di hidupku. Aku tak ingin jauh dari Cintya, sebagai apapun aku
di hidupnya. Jika harus aku bersanding di hidupnya sebagai sahabat, akan aku
terima dengan syukur bahwa aku tak akan kehilangan dia yang aku sayangi. Jika
takdir kami akan bersama, biarlah Tuhan saja yang mengaturnya. Aku tak akan
bersikap konyol lagi, tak akan menyakiti hatinya lagi.
- TAMAT
-
.jpg)
Komentar
Posting Komentar