Cinta Dalam Diam - Part 1 (written by Ary-sensei)
Sore itu terasa lebih dingin
dari biasanya. Hujan deras mengguyur kota Malang yang memang terkenal sebagai
Kota Dingin. Sebenarnya bagian Kota Malang ini tidak terlalu dingin jika
dibandingkan dengan Kota Batu, tapi untuk orang-orang yang terbiasa dengan udara
hangat, kota ini mungkin lebih sejuk.
Dinginnya sore ini menjadi
makin dingin dengan hatiku yang sepi. Sejujurnya, aku merasa kehilangan Cintya.
Hatiku yang biasanya hangat jika memikirkan dia, kini menjadi dingin, tak ada
semangat yang membara seperti dulu.
Petikan gitarku seolah
mengungkapkan sepinya hati ini. Apalagi yang kupilih adalah lagu-lagu galau. Tiba-tiba
seseorang menepuk bahuku. Aku tersentak kaget. “Ron… Ron… sore gini galau.
Kenapa kamu?” tanya Agus teman kosku yang ternyata memperhatikanku sejak tadi. “Ah
kamu Gus, ngagetin aja.” Agus tertawa, “Kamu itu nyanyi apa ngelamun? Gak jelas
banget. Kenapa kamu? Putus cinta ya?” tanya Agus sambil menyulut rokoknya. “Cinta
apa?” jawabku sambil meletakkan gitar di sudut teras.
“Cewek cantik yang sering ke
sini siapa namanya? Sudah lama aku tidak
melihatnya,” tanya Agus yang membuatku kaget. Pertanyaan itu tak pernah
terlontar sebelumnya dan itu membuatku gelagapan mencari-cari jawaban yang
tepat. “Oh… Cintya? Dia sibuk,” jawabku pendek sambil menyeruput kopi panas
yang sekarang berubah hangat.
Agus melirikku, menghembuskan
asap rokoknya, “Kamu cinta dia rupanya.” Aku menatapnya sebentar, “Ah enggak,
dia teman biasa aja.” Agus tertawa, “Percuma kau bohongi aku. Ekspresi wajahmu
itu tak bisa bohong.” Aku terdiam.
Tiba-tiba HP Agus berdering
dan dia segera menjawabnya. ‘Selamatlah aku, kalau HP itu tak berdering, si
Agus bakal interogasi aku,’ gumamku sambil buru-buru membawa gitar dan kopiku
ke kamar, mengamankan diri.
Siang itu aku melihat sosok
Cintya keluar dari kelasnya. Ada keinginan untuk mendekatinya tapi entah kenapa
aku memilih untuk menjauh. Aku segera masuk ke kantin dan duduk dekat jendela
yang mengarah ke kelasnya. Kulihat dia masih berbincang dengan
sahabat-sahabatnya di depan kelas. ‘Andai keluargamu bisa menerimaku meski kita
berbeda keyakinan, aku pasti akan selalu disampingmu,’ hatiku berbisik sepi. Aku
masih ingat kata-kata ibunya yang kudengar saat itu, “Ingat Cintya, kalau pilih
pacar harus yang seagama. Ibu tidak mau kamu membantah kata-kata ibu.”
Sejak itulah aku menjauh. Sekarang
kami seperti musuh. Tak ada penjelasan dariku kenapa aku menjauh dan tepat hari
ini sudah 1 tahun aku menjauhinya. Hatiku sakit, hatiku hancur, aku harus
membunuh rasa yang kumiliki. Tapi aku tak bisa bohong kalau aku cinta dia.
Setiap kali aku melihatnya
dari jauh, aku membuang muka, pura-pura tak mengenalnya. Tapi sesekali aku
memperhatikan ekspresi wajahnya, dia pasti kesal, dia pasti marah, dia pasti
membenciku. Tapi apa yang harus kulakukan? Aku terus saja melakukannya selama 1
tahun. Hanya memperhatikannya dari jauh, namun sesekali mengagumi wajahnya yang
makin hari makin cantik. Ingin sekali aku menyapanya, tapi selalu saja ada yang
menahanku.
Suatu hari Agus mengetuk pintu
kamarku. “Cewek cantik itu menitipkan surat ini tadi. Dia hanya bilang salam
buatmu. Apa yang terjadi diantara kalian?” tanyanya penasaran. Dengan ringan
aku menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Agus mengangkat bahu, Ya sudahlah.” Dia pun
kembali ke kamarnya. Segera kubuka surat itu dan kutemukan tulisan tangan yang
rapi.
“Hai Ron, apa kabarmu? Entah
ada apa antara kita satu tahun ini, aku benar-benar tak mengerti kenapa kamu
menjauh bahkan seperti tak pernah mengenalku. Aku memang marah padamu, aku
memang kesal padamu. Harusnya kamu katakan padaku apa salahku yang membuatmu
menjauhiku. Ah sudahlah, apapun itu, aku memaafkanmu. Maafkan salahku juga,
mungkin tanpa sengaja aku telah melukai hatimu. – Cintya -”
Aku melipatnya lagi lalu termangu
di kasurku yang keras. ‘Harus apa aku sekarang? Aku harus meminta maaf padanya,
tapi bagaimana caranya?’ Malam itu aku tak bisa tidur, aku terus memikirkan
cara bagaimana aku meminta maaf atas semua kekonyolan ini.
Pagi itu, aku melihatnya masuk
ke ruang B2. Aku tahu jam 10.30 dia akan keluar dari kelas itu. Kebetulan aku
tak ada kelas sekarang, aku hanya menunggu waktu cepat berlalu. Aku ingin
menemuinya hari ini. Harus! Aku menghabiskan waktu di kantin, benar-benar
membosankan! Begini salah, begitu salah… Aku tak tahu bagaimana reaksinya
nanti, tapi aku harus menemuinya hari ini.
Yang kutunggu akhirnya tiba.
Jam 10.30 aku sudah berada di luar kelasnya. Menunggunya keluar dari kelas.
Satu per satu mahasiswa keluar dari kelas itu, tapi wajah Cintya tak kulihat
juga. Jantungku berdebar kencang. Aku melangkah perlahan menuju pintu. Kulihat
Cintya sedang memasukkan buku-bukunya. Lalu secara tak sengaja mata kami
bertatapan, dia kaget. Kami bertatapan beberapa menit, lalu aku tersenyum sambil
memberi kode kalau aku ingin bertemu dengannya. Dia menoleh ke belakang
kursinya, tak ada siapapun. Dia menoleh ke arahku lagi, “Aku?” tanyanya ketika
aku menunjuk jariku ke arahnya. Aku mengangguk. Tak lama, Cintya berada tepat
di depanku.
Jantungku berdebar kencang. “Hai
Sin,” sapaku. Terdengar aneh. Cintya berada tepat disebelahku. Kami memandang ke
arah taman. “Hai,” jawabnya pendek. “Kamu masih marah ya sama aku?” tanyaku
dengan suara bergetar. “Gak,” jawabnya pendek, “Aku hanya butuh penjelasan.”
Aku menghela nafas. “Aku tahu ini salahku. Aku minta maaf, semua ini kekonyolanku.”
Cintya memandangku sebentar lalu mengalihkan pandangannya kembali ke taman. “Aku
pengen jelasin semuanya ke kamu, aku sudah menahannya 1 tahun ini. Celakanya,
aku baru punya keberanian setelah 1 tahun berlalu. Bolehkah aku mengajakmu
mengobrol di kafe yang biasa kita datangi? Aku ingin jelaskan semuanya.” Cintya
menarik nafas dalam, “Oke, ayo.” Aku menggenggam tangan kirinya dan itu
membuatnya kaget. Dia memandangku, tapi aku tak melepaskan genggamanku, “Maafin
aku.” Cintya tersenyum lalu mengangguk.
- BERSAMBUNG
-
.jpg)
Komentar
Posting Komentar