Hujan
sore itu turun semakin deras. Dari balik jendela kecil kamarnya, Zahra
memandangi jalan yang perlahan mulai sepi. Biasanya suara motor mahasiswa yang
baru pulang kuliah masih riuh, tapi kali ini hanya suara hujan yang terdengar,
jatuh berisik di atap seng kosannya.
Ia
menghela napas panjang. Dalam diam, ada nama yang sejak seminggu terakhir
sering muncul begitu saja—Arka. Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan membuka
buku catatan kuliahnya, tapi halaman demi halaman hanya dipenuhi coretan yang
tak terbaca karena pikirannya berlari ke tempat lain.
“Kenapa
sih jadi kepikiran terus?” gumamnya lirih.
Seakan
menjawab pertanyaan itu, ponselnya bergetar. Notifikasi pesan muncul, membuat
jantungnya berdetak lebih kencang.
Arka:
“Zahra, kamu lagi di kos? Aku kebetulan lewat depan, tapi hujannya deras
banget. Boleh numpang neduh?”
Mata
Zahra membesar. Sekilas ia ragu, tapi jemarinya lebih cepat merespons.
Zahra:
“Iya, sini aja. Hati-hati ya kehujanan.”
Tak
sampai lima menit, suara ketukan terdengar di pintu. Saat dibuka, tubuh Arka
sudah berdiri di ambang pintu, basah kuyup. Rambutnya menempel ke dahi,
jaketnya basah, tapi ia tetap tersenyum.
“Maaf
ya, tiba-tiba ganggu,” katanya sambil mengusap rambutnya.
Zahra
menggeleng cepat. “Nggak apa-apa. Masuk aja. Sini aku ambilin handuk.”
---
Arka
duduk di kursi belajar yang sempit, sementara Zahra mengaduk-aduk lemari kecil
mencari handuk bersih. Dalam hati, ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang
seolah makin berisik dibanding suara hujan.
“Terima
kasih ya, Ra,” ucap Arka ketika handuk kecil itu disodorkan.
“Hmm…
iya, sama-sama,” jawab Zahra gugup.
Mereka
terdiam beberapa saat, hanya ditemani suara hujan yang jatuh deras di luar.
Zahra akhirnya bangkit menyalakan teko listrik untuk membuat teh.
“Kalau
hujan gini enaknya minum hangat, kan?” katanya mencoba mencairkan suasana.
Arka
mengangguk, senyumnya tipis. “Aku suka banget teh. Apalagi kalau diminum bareng
orang yang bikin nyaman.”
Ucapan
itu membuat Zahra tercekat. Ia berpura-pura sibuk dengan gelas agar pipinya
yang merah tidak terlihat jelas.
---
Sambil
menunggu teh siap, mereka terjebak dalam percakapan ringan. Tentang dosen
killer yang suka mendadak kuis, tentang warung makan dekat kampus yang porsinya
selalu bikin kenyang setengah mati, bahkan sampai obrolan kecil tentang film
yang sedang hits.
“Jadi
kamu suka film romance juga?” tanya Arka sambil menatapnya.
Zahra
tersenyum malu. “Iya, walaupun sering diejek teman karena gampang baper.”
Arka
tertawa pelan. “Berarti hati kamu lembut, gampang tersentuh.”
Zahra
menunduk, mencoba menahan senyum.
Namun,
suasana yang semula santai mendadak berubah ketika tatapan Arka jadi lebih
serius. Ia meletakkan gelas tehnya di meja, lalu mencondongkan tubuh sedikit.
“Zahra…”
suaranya rendah.
“Hmm?”
“Kamu
percaya nggak kalau hujan itu kadang bawa pesan?”
Zahra
mengerutkan dahi. “Pesan? Maksudnya?”
“Ya,
setiap kali hujan turun, selalu ada sesuatu yang datang bersamaan. Entah
kenangan… entah perasaan baru.”
Ucapan
itu membuat Zahra terdiam. Entah kenapa, jantungnya berdegup lebih kencang karena percakapan
ini.
---
“Aku
nggak tahu gimana cara nyebutnya, Ra,” lanjut Arka. “Tapi sejak hari itu di
depan perpustakaan, waktu aku nolongin kamu… aku ngerasa ada yang berubah. Dan
perasaan itu nggak bisa aku tahan lagi.”
Deg.
Zahra
menelan ludah. Tangannya meremas roknya. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Aku
suka sama kamu,” ucap Arka akhirnya, dengan nada tegas tapi lembut.
Kata-kata
itu sederhana, tapi mampu membuat waktu seakan berhenti
sejenak.
Zahra
menunduk, wajahnya memanas. Suara hujan terdengar makin keras di telinga,
seolah ikut mendramatisasi momen itu.
“Arka…
kita baru kenal sebentar,” ucapnya pelan.
“Perasaan
nggak diukur dari lama atau sebentarnya kenal, kan?” Arka tersenyum tipis.
“Yang aku tahu, aku nyaman sama kamu. Dan aku nggak mau kehilangan kesempatan
untuk bilang sebelum terlambat.”
Zahra
menggigit bibir bawahnya. Jantungnya terus berdebar kencang, tapi sekaligus hangat. Ia
tahu, meski singkat, perasaan itu nyata.
Perlahan,
Zahra mengangkat wajahnya, menatap mata Arka yang jujur. “Aku… nggak janji bisa
langsung bales perasaan kamu sekarang. Tapi aku juga nggak bisa bohong kalau
aku bahagia kamu ngomong gitu.”
Arka
tersenyum lega. Matanya berbinar, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan
hadiah. “Itu aja udah cukup buat aku, Ra.”
Keduanya
saling bertukar senyum, diam tapi penuh makna.
Di
luar, hujan masih turun deras. Tapi di dalam kamar kos kecil itu, suasana
terasa jauh lebih hangat. Dua hati yang baru saling menemukan kini mulai
menenun cerita.
Dan
malam itu, untuk pertama kalinya, Zahra tak lagi merasa sepi ketika hujan
datang. Karena di ujung senja, hujan justru menghadirkan seseorang bernama Arka
dalam hidupnya.
Komentar
Posting Komentar