Jus Penuh Cinta (written by Henny)
Rifki,
murid kelas XI, menghadapi masalah uang jajan yang menipis. Ia pun memanfaatkan
program kantin kreatif sekolah untuk membuka usaha makanan ringan. Setelah
menemui kendala kesehatan dari pelanggan, Rifki melakukan transformasi menu
menjadi lebih sehat dan romantis—dengan sentuhan humor yang membuat lapaknya
menjadi favorit di sekolah.
Pagi
itu, kelas XI riuh seperti biasanya. Rifki duduk gelisah, mencoret-coret buku
tulis. Bima, sahabatnya, memperhatikan wajahnya yang cemas: “Ki, kenapa muka lo
kayak utang lima belas cicilan?” Rifki hanya bisa menghela napas—uang jajan
sudah hampir habis. Saat ia mengeluhkan pengeluaran, Sinta menyela dengan kabar
tentang program kantin kreatif, menyalakan harapan baru dalam benak Rifki: kini
ia berencana jadi juragan kantin sekolah. Dia pun segera menghubungi
koordinator kantin sekolah dan dia sangat beruntung. Pak Heru, koordinator
kantin, sangat mendukung ide kreatifnya.
Hari
itu, saat bel istirahat berbunyi, Rifki memulai misi jualan gorengan
pertamanya. Hari pertama berjalan sukses—gorengan laris manis, suasana mirip
diskon besar-besaran. Namun, dalam dua hari, masalah muncul: murid-murid mulai
muntah dan jerawatan. Bima heran bertanya soal minyak, Rifki menjawab
gugup—dipakai “hemat energi”. Masalah kian membesar saat Bu Wati mengingatkan:
“Jangan sampai daganganmu merugikan orang lain. Makanan menyangkut kesehatan.”
Rifki
merasa tertampar oleh nasihat Bu Wati. Ia menyadari bahwa jualan sekadar laris
tidak cukup—harus menyentuh kesehatan dan kenyamanan pembeli. Konflik batin
mereda saat ia merombak menu: gorengan ditinggalkan, diganti dengan jus buah
segar.
Penjualan
kembali normal, bahkan lebih ramai. Dina jadi pembeli pertama: “Jus wortel ya,
satu.” Rifki mencuri kesempatan: “Vitamin A bagus buat mata. Biar kamu bisa…
eh… lihat aku terus.” Bima menertawakan “modus lewat jus wortel!”, dan Sinta
langsung pesan jus stroberi dengan alasan “semoga habis minum langsung ditembak
gebetan.” Kebahagiaan menyelimuti lapak—jus sehat dan gombalnya bikin hangat
suasana.
Rifki
memberi nama kreatif untuk menunya:
· Jus tatapan mesra (wortel)
· Jus cinta pertama (stroberi)
· Jus mantan balikan (alpukat)
· Jus jomblo bersatu (jambu)
Dan juaranya: Jus hulk mode, campuran semua buah.
Pak
satpam datang dan pesan “jus jomblo bersatu”. Rifki ragu, satpam menimpali:
“Satpam juga bisa kesepian, nak…” Lalu, Kepala Sekolah muncul ingin “jus mantan
balikan”—sekolah tertawa riuh. Terakhir, guru olahraga ingin “jus buat otot
baja” → Rifki campur semua buah jadi “jus hulk mode”, hasilnya bikin perut sang
guru “nari zumba sendiri!”
Akhirnya,
lapak kantin Rifki punya slogan baru:
“Minum
jus di sini, sehat badannya… otaknya mungkin ikut error, tapi hatinya bahagia!”
Kantin
kecil itu bukan lagi hanya tempat jajan, melainkan pusat hiburan absurd
sekolah. Rifki menyadari: strategi kantin terbaik bukan hanya soal harga murah,
tapi membuat orang sehat, tertawa, dan… mungkin sedikit jatuh cinta.

Komentar
Posting Komentar